Milik CEO Muda

Milik CEO Muda
Malam yang di Nanti Eric.


__ADS_3

Ucapan Eric membuat Dinda pucat, dan Eric bisa melihat itu.


"Kenapa? kau masih belum siap?" tanya Eric dengan tatapan sendu membuat Dinda tidak tega jika mengatakan 'ya'.


"T-tidak Mas!" ujar Dinda sambil menatap mata Eric.


"Tidak kenapa?" tanya Eric karena pernyataan Dinda yang terdengar ambigu.


"Mmh.., maksud Dinda mmh.., Dinda itu.." Dinda yang sangat gugup sampai-sampai sulit melanjutkan kata-katanya.


"Kenapa? bicara dengan jelas." Eric mendekat lalu menyentuh kedua bahu Dinda.


"Maksudnya, D-dinda s-sudah siap Mas." Eric tersenyum sumringah mendengar persetujuan dari Dinda.


"Ya sudah kamu saja yang mandi duluan kalau begitu!" perintah Eric yang diangguki Dinda.


Setelah selesai mandi, Dinda bukannya keluar, tapi dia masih di dalam kamar mandi, Dinda mematung menatap dirinya di pantulan cermin yang memakai jubah mandi sebatas lutut. Selesai mengatur detak jantungnya yang berdetak kencang, Dinda akhirnya keluar dan menemukan Eric yang duduk memainkan ponselnya di atas sofa.


"Sudah selesai? Mas, mandi dulu!" ucap Eric pelan di depan wajah Dinda, dan dibalas dengan anggukan.


"Tunggu mas selesai mandi yah, lalu kita sholat berjamaah." Dinda mengangguk. "Iyya Mas!"


Tak butuh waktu yang banyak untuk Eric di dalam kamar mandi, setelah selesai Eric mengeringkan rambutnya lalu memakai baju yang di siapkan Dinda.


Dinda benar-benar dilanda ketakutan sekarang, karena semua artikel yang pernah dia searching di google mengatakan, bahwa saat pertama kali berh*b*ngan i*t*m itu akan sakit.


Dinda duduk di tempat tidur sambil menunggu Eric yang mengganti bajunya di walk in closet. malam ini Dinda mengenakan gaun tidur yang yang di atas lutut, menampilkan pahanya sebagian.


Saat keluar Eric bisa melihat raut wajah Dinda yang sangat tegang, rasanya dia ingin tertawa.


"Kenapa wajahnya seperti itu?" ucap Eric duduk di samping Dinda.


"Tidak kenapa-napa."


"Mhh, bisa kita mulai?" ucap Eric meminta persetujuan dari Dinda. Dinda mulai mengangguk dengan ragu karena efek dari ketegangannya.


Eric menghadap ke Dinda lalu mulai menyentuh pipi Dinda terlebih dahulu.


"Kamu tahukan do'a sebelum melakukannya?" tanya Eric dan di balas dengan gelengan pelan dari Dinda.


"Ya sudah tidak apa-apa biar mas yang baca." Eric mulai membaca doa-nya dan di aminkan oleh Dinda.

__ADS_1


Eric mulai melakukan bagian awal-awal sesuai petunjuk dari buku yang pernah di bacanya, hingga saat Eric ingin me*b*ka kain yang melekat di tubuh Dinda, tapi Dinda menghentikannya.


"Mass.., Dinda takut.." Eric mengehentikan aktivitasnya dan melihat mata Dinda yang berkaca-kaca.


"Kenapa takut?" Eric menenangkan Dinda yang memang terlihat takut.


"Dinda baca artikel, katanya kalau pertama kali melakukan itu akan sakit." Eric hampir tertawa dibuatnya, Eric kira Dinda takut karena hal lain, tapi rupanya dia takut dengan itu.


"Mas, dengar-dengar sihh memang sakit." ucapan Eric semakin menambah ketakutan Dinda.


"Apa sangat sakit?"


"Mana mas tahu, kan mas nggak pernah rasain itu. Tapi sakitnya hanya di awal setelahnya kau akan men*kmat*nya." ucap Eric agar Dinda bisa menghilangkan ketakutannya sedikit.


"Mas.., pelan-pelan yah Dinda sangat takut."


"Iyya Mas pasti akan hati-hati!"


Setelah bernegosiasi akhirnya Eric melakukannya dengan sangat pelan-pelan agar Dinda juga terbiasa. Walaupun bembatas itu sangat sulit di tembusannya, tapi Eric tidak menyerah untuk menembusnya hingga sampai di titik yang di inginkannya. Jam menunjukkan hampir jam dua belas malam, tapi Eric baru menghentikan aktivitasnya yang terasa sangat nikmat itu.


"Terima kasih sayang!" ucap Eric sebelum tidur di samping Dinda yang lebih dulu tertidur karena sangat lelah mel*y*ni n*f*u Eric.


Adzan subuh berkumandang, tapi hari ini tidak seperti biasanya. Biasanya Dinda yang akan bangun terlebih dahulu, tapi kali ini justru Eric lah yang bangun pertama.


"Sayang.., hei!! ayo bangun, kita harus mandi dulu.." Eric yang berusaha membangunkan Dinda, tapi Dinda malah makin nyenyak karena Eric malah mengelus rambutnya.


"Dinda..? sudah adzan loh, nanti kita sholatnya terlambat."


"Mhh..." Dinda membuka matanya secara perlahan dan duduk bersandar di headboard tempat tidur sampai-sampai tidak sadar selimut yang menutupi tubuh polosnya terbuka hingga d*d*nya.


"Kau mau menggoda mas lagi hmm.." ucap Eric sambil memandang Dinda dengan tatapan lapar.


Sedangkan Dinda yang masih belum sadar, mengikuti arah mata Eric. Betapa kagetnya Dinda saat melihat dadanya terbuka, sontak Dinda menarik selimutnya hingga menutupi kepalanya.


Eric tertawa lepas melihat Dinda yang sangat malu. "Hei tidak usah malu, semalam mas sudah lihat semuanya." Eric menarik selimut itu hingga kepala Dinda muncul.


"Kenapa malu?" tanya Eric yang semakin membuat wajah Dinda memerah.


"Ihh Mas.."


"Ayo mandi sudah adzan!" Eric menarik Dinda berdiri.

__ADS_1


"Tunggu Mas!" Dinda memperbaiki lilitan selimut pada tubuhnya dengan baik.


"Sini mas gendong." tawar Eric, karena dia tahu pasti Dinda tidak bisa berjalan akibat aktivitas mereka semalam.


"Nggak usah Mas, Dinda bisa kok." tolak Dinda, karena belum mencoba jalan sendiri.


"Ya sudah coba saja kalau bisa!" ucap Eric yang memang sudah memakai celana boxer-nya.


Dinda mencoba berjalan, tapi baru selangkah dia sudah hampir terjatuh, untung saja Eric lebih dulu menahan tubuhnya.


"Auuhh..sshh..."


"Makanya kalau di tawari jangan suka nolak." ucap Eric sambil menggelengkan kepalanya.


"Mas perih banget.." keluh Dinda saat Eric meletakkannya di atas closet duduk.


"Memang seperti itu sayang, makanya jangan bandel." Eric membuat Dinda merona karena panggilan sayangnya.


"Mas keluar dulu, Dinda mau mandi."


"Kita mandi saja berdua supaya menghemat waktu." ucap Eric sambil menaik-turunkan alisnya.


"Nggak! Dinda mau mandi sendiri saja, Mas keluar saja."


"Sayang.., sudah adzan nanti kita terlambat. Lagi pula tidak usah malu-malu, semalam kan kita sudah..." Dinda memikirkan ucapan Eric yang ada benarnya.


Dinda menyetujui saran Eric hingga mereka mandi berdua untuk menghemat waktu.


"Assalamualaikum warahmatullahi..


Assalamualaikum warahmatullahi..."


Sesudah selesai sholat subuh, Eric mengangkat Dinda kembali keatas kasur.


"Kalau mau istirahat, istirahat saja lagi." ucap Eric karena, melihat wajah Dinda yang sangat lelah.


"Tidak kok Mas, Dinda mau ke dapur dulu untuk membuat sarapan."


"Tidak usah, biar aku yang membuat sarapan."


"Nggak Mas, biar Dinda saja." tolak Dinda.

__ADS_1


"Sudahlah jangan bandel. Biar aku saja, kau istirahat saja." Eric menarik selimut sampai ke atas Dinda.


Akhirnya Dinda mengalah, hanya berselang beberapa menit Eric keluar, Dinda sudah tertidur. Badannya memang terasa sangat remuk akibat ulah Eric semalam, Dinda merasa akan patah tulang jika Eric meminta lebih.


__ADS_2