
Setelah sampai di kantor Eric langsung disuguhkan oleh berkas yang menumpuk di atas mejanya untuk di tanda tangani. Sedangkan Dinda langsung disambut oleh Sima yang kesal, pasalnya mereka dari jam delapan Dinda mengatakan "Aku segera berangkat Sim!" tapi, sang sahabat itu baru sampai jam sembilan dua puluh. Saat sarapan memang terjadi kecelakaan kecil di meja makan, Eric tidak sengaja menumpahkan susu di sampingnya dan alhasil susu tersebut mengenai kemeja dikenakan Dinda yang memang sedang menyiapkannya bekal.
"Kok lambat sih datangnya?" tanya Sima dengan nada yang terdengar kesal.
"Tadi kemejaku ketumpahan susu saat sarapan, makanya lambat karena aku ganti baju dulu." jelas Dinda membuat Sima membulatkan bibirnya membentuk huruf O.
Di ruangan CEO, ada dua orang sahabat yang tengah beradu mulut.
"Kenapa lama banget sih lu datangnya?" Tanya Rian dengan kesalnya.
"Emang kenapa kalau lama? Inikan kantor gua!" Tanya Eric balik dengan tanpa dosanya.
"Heh, kalau lu lama kita akan lembur lagi. Lu enak saat pulang lembur ada istri lah gua pulangnya rumah kosong, nggak ada yang mijitin."
"Makanya nikahh!" ejek Eric sambil memainkan ponselnya.
"Heh lu kira nikahh itu gampang apa? lagian gua belum nemu yang cocok buat di bawa ke rumah."
"Bilang aja nggak ada yang mau ama lu."
"Heh gua mau cari perempuan yang benar-benar gua cintai, begitupun sebaliknya. Nanti kalau gua nikah karena di jodohkan bisa-bisa sama kayak lu dong. Cuman bedanya gua bakal bersikap baik sama istri gua, tapi lu malah nyiksa supaya bini lu minta cerai!"
Deg...
Ejekan balik Rian tepat sasaran, memory pikiran Eric kembali ke awal-awal pernikahannya dengan Dinda, dimana dia pernah menyakiti Dinda baik fisik maupun dengan batin, agar gadis itu yang meminta cerai sendiri pada dirinya.
"Kenapa diem? benarkan apa yang gua bilang?" Tanya Rian menghampiri Eric duduk di sofa.
"Iyya. Tapi, itu dulu, sekarang gua tidak pernah menyakitinya lagi." ucap Eric dengan jujur.
"Benarkah? Berarti kau sudah mulai menerimanya?"
"Bukan hanya mulai menerimanya, tapi sekarang aku ingin selalu bersamanya." jawab Eric dalam hati.
__ADS_1
"Heh jawab! bukan malah bengong."
Eric yang masih bengong dibuat kaget oleh Rian.
"Ck, bukan urusan lu." Jam menunjukkan pukul sembilan lewat Lima puluh, Eric berjalan menuju meja kerjanya mengambil berkas yang akan dibawa ke ruangan meeting.
"Ayo ke ruang meeting! sudah mau jam sepuluh." ucap Eric sebelum keluar dari ruangnnya, lalu diikuti Rian di belakangnya.
Di ruang meeting Pratama Group, Rian dan Jefri sudah datang sejak tiga puluh menit yang lalu. Mereka datang lebih awal karena memang harus menyiapkan presentasi dengan baik di depan CEO Pratama Group, agar dia berminat untuk membantu dana perusahaan Leo.
"Permisi.." ucap Eric disertai Rian di belakangnya.
Eric akan megucapkan salam saat masuk di ruangan Dan meminta maaf ketika terlambat datang. Meskipun Eric seorang CEO di perusahaan ternama, dia tidak akan lupa dengan sopan santun yang telah di ajarkan orang tuanya.
Melihat semua orang berdiri dan memberi hormat ke arah pintu ketika mendengar suara tersebut, Juna dan Jeffry spontan ikut berdiri memberi hormat. Betapa kagetnya Juna melihat orang yang ditunggu-tunggu itu datang, dia adalah ayah dari gadis yang selalu dia incar.
"Bukannya dia yang selalu mengaku suami Dinda?" ujar Juna dalam hati.
"Oh jadi dia bekerja di perusahaan Leo ternyata." ucap Eric dalam hati setelah duduk di kursi yang parking depan menghadap ke semua orang yang hadir di meeting tersebut.
"Bisa kita mulai pak?"
"Ya, silahkan."
Juna maupun Jeffry mempresentasikan project itu dengan sebaik mungkin. Setelah hampir dua jam meeting-pun telah di tutup, dan Eric masih belum memberikan keputusan. Tiga hati ke depan Eric baru akan memberikan keputusan yang akan di ambilnya.
Jam istirahat tiba, semua karyawan berbondong-bondong ke kantin, ada juga ke mushollah untuk melaksanakan sholat dhuhur sebelum makan. Juna dan Jefri baru saja keluar dari ruang meeting, keduanya berjalan menuju lift, untuk kembali ke kantornya. Tanpa di sengaja, Juna melihat Dinda jalan bersama sahabatnya, Sima.
"Dinda juga bekerja di sini?" Tanya Jefri yang matanya tertuju pada kartu identitas yang di menggantung di leher Dinda.
"Sepertinya iyya, mereka juga bekerja di sini." jawab Juna sambil berjalan menghampiri Dinda dan Sima.
"Haii!!" sapa Juna dengan ramah.
__ADS_1
Dinda dan Sima sailing menatap melihat kemunculan Juna yang tiba-tiba.
"Hai!" sapa Dinda balik, dia tidak ingin di bilang sombong karena tidak membalas sapaan seseorang, meskipun dia risih dengan Juna yang terlihat selalu mendekatinya.
Juna juga bukan hanya mendekati Dinda jika tidak sengaja bertemu, tapi sering Kali dia juga meng-chat Dinda di Whatsapp, entah itu untuk bincang-bincang, ataupun mengajak Dinda keluar untuk hangout. Juna juga tidak segan untuk mendekati Dinda, karena memang di pikirannya , Dinda itu masih single. Dia hanya menganggap ucapan Eric yang mengatakan Dinda itu istrinya hanya bentuk dari seorang ayah yang posesif terhadap putrinya.
"Kalian kerja di sini?" kini Jefri yang bertanya.
"Iyya, kenapa memang? kalian ngapain di sini?" jawab sima yang di sertai pendangan yang sinis. Sima memang junior dari mereka di kampus, tapi Sima bukan penakut seperti junior yang lain.
"Kita ada meeting tadi dengan CEO di sini."
"Ohh, ya sudah. Ayo Din, kita ke mushollah dulu." ajak Sima agar mereka menjauh. Sima bisa menebak dengan pasti jika Juna itu menaruh perasaan pada sahabatnya, karena itu dia berusaha menjauhkan Juna dari Dinda.
"Tidak usah melihatnya terlalu lama, nanti kelilipan tu mata lu." ucap Jefri yang menghentikan lamunannya Juna yang menatap kepergian Dinda dan Sima.
Di perjalanan pulang, Juna tak hentinya memikirkan hubungan asli antara Dinda dan CEO Pratama Group, sampai-sampai Jefri ajak bicara dari tadi tapi tak pernah dia hiraukan.
"Oii!!" Juna tersentak kaget sampai refleks memukul lengan Jefri.
"Apa sih lu? ngagetin aja." omel Juna.
"Lagian lu dari tadi gua ajakin ngomong malah bengong nggak jelas."
"Apa?"
"Mau makan apa? lapernih, kita makan dulu lalu ke kantor." perut Jefri sudah keroncongan dari tadi saat ia melakukan presentasi.
"Terserah lu!" Juna memutar bola mata malas lalu singgah di restaurant yang menyajikan makan Italy.
Di Pratama Group, Eric masih memikirkan soal suntikan Dana yang di ajukan, tapi tiba-tiba saja terbesit di otaknya tentang Juna.
"Sudah lama aku tidak menyuruh Han untuk memata-matainya.
__ADS_1