
"Kau tidur saja di tempat mu semula aku ingin tidur di kasur."ucap Eric yang sudah merebahkan tubuhnya di kasur.
Dinda sudah mulai mencerna beberapa waktu yang lalu dimana dia semula tidur di lantai tapi saat bangun dia sudah ada di atas tempat tidur.
"Apa tuan Eric yang memindahkan ku?tapi tidak mungkin juga, bukannya dia tidak mau menyentuhku, lalu siapa yang memindahkan ku?" Dinda pusing sendiri karena pertanyaannya, dia masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh wajahnya.
Sudah tiga hari sejak kejadian dimana Eric emosi karena belaan Rian pada Dinda, hari-hari yang mereka lewati di hotel bersama tetap saja dengan aktifitas mereka masing-masing tanpa ada bicara satu sama lain.
"Tuan kapan kita akan pulang?"Dinda mendekati Eric yang duduk santai di sofa.
"Nanti malam, jam delapan malam kita ke Bandara."Eric sudah mengalihkan pandangannya.
Eric kemarin sudah menghubungi Rian untuk memesan kembali tiket pesawat, yang ditemukan Rian sama seperti semula, tidak ada kursi yang terpisah dan berangkat malam.
Saat malam tiba Dinda maupun Eric sudah lengkap bersama semua barang-barang yang akan dibawa. Mobil yang akan mengantarnya sudah ada di bawah.
Tuut... tuut... tuut...
"Halo Eric? kalian udah di mana?"tanya mamanya di seberang sana setelah telponnya berhasil tersambung.
"Iyya ini kita akan naik ke pesawat Ma." jawabnya setelah Eric mengangkat telfonnya.
"Oh baiklah kalian berdua hati-hati yahh.. telfon Mama kalau kalian udah sampai."
"Iyya Ma, ini kita mau berangkat , assalamualaikum." jawab Eric.
"Wa'alaikumsalam."
"Ayo, jangan jauh-jauh kalau kau hilang tidak akan ada yang mencari mu." Eric memperingati Dinda yang selalu terlihat jauh darinya sampai Eric harus selalu menariknya mendekat.
"Iyya Tuan, Dinda nda jauh kok."bela Dinda.
"Siapa bilang tidak jauh hah?kau selalu tertinggal di belakang karena selalu melihat-lihat sekitar." Eric memarahi Dinda walau suaranya dia kecilkan, mereka berdebat sambil berjalan menuju pesawat.
__ADS_1
"Memang kau mencari siapa dari tadi selalu melihat-lihat sekitarmu?" tanya Eric.
"Tidak ada Dinda tidak mencari seseorang, Dinda hanya ingin lihat-lihat saja." Dinda menjawabnya sambil tertunduk.
"Halah kau pasti mencari laki-laki ber-uang yah buat dekatin dia terus uangnya di porotin?"Eric asal menebak saja untuk menyudutkan Dinda, tanpa dia sadari kata-katanya berhasil membuat Dinda sakit, seakan-akan Dinda adalah perempuan murahan yang mencari pria-pria kaya di luar sana.
"Dinda tidak seperti itu tuan." sekarang Dinda sudah menatap Eric yang melihatnya sambil menaikkan alisnya sebelah.
"Siapa tahu kau seperti itu!"ucap Eric
Tanpa mereka sadari, mereka sudah sampai di tangga pesawat, Eric berjalan di depan dan Dinda di belakangnya.
"Sini."Eric menunjuk kursi dengan menggerakkan kepalanya.
Dinda menurutinya, Eric menyuruh Dinda duduk di dekat jendela karena di samping kursinya ada seorang anak muda yang seumuran dengan Dinda, Eric tahu dari tadi pria itu terus melihat Dinda saat berjalan ke pesawat.
Eric sudah duduk di samping Dinda setelah meletakkan tasnya dan Dinda di atas. Namun saat Eric berbalik, dia melihat anak muda itu yang terus menatap Dinda dengan kesusahan karena ada Eric di sampingnya.
"Apa yang kau lihat?"Eric bertanya dengan sedikit bentakan membuat pria itu sedikit terkejut.
"Lalu kenapa selalu melihat ke sini?"tanyanya,
sontak membuat pria muda itu membalikkan wajahnya kembali ke depan.
Eric melihat ponselnya sebentar sebelum dia non aktif-kannya, sedangkan Dinda sudah sangat mengantuk bahkan kepalanya selalu mencari tempat ternyaman untuk di sendiri.
Pesawatnya lepas landas sepuluh menit yang lalu, saat itu juga Dinda sudah terlelap, seiring berjalannya waktu tidur Dinda semakin nyenyak tanpa sadar kepalanya berpindah posisi ke bahu kiri Eric membuat sang empu berbalik melihatnya.
"Dasar kebo', baru beberapa menit sudah tidur." Eric hanya geleng-geleng kepala melihat perempuan itu dan anehnya Eric sama sekali tidak memindahkan kepala Dinda semula dia hanya membiarkan Dinda dengan posisinya.
"Ck kenapa pria ini selalu melihat ke sini sihh?"ucap Eric dalam hati yang sangat risih dengan pandangan pria itu pada Dinda, meskipun pria itu hanya bisa melihat tangan dan kaki Dinda karena kepalanya sengaja Eric tutupi dengan anak rambut Dinda.
Eric sengaja menggenggam tangan Dinda yang menganggur itu untuk memperlihatkannya pada pria itu.
__ADS_1
"Kenapa gua malah megang-megang bahkan tidak suka jika dia dilihat pria lain?" entahlah Eric juga bingung dengan dirinya sendiri.
Tangan yang di genggam Eric terasa sangat dingin karena AC pesawat, Eric melepas genggamannya dan mengambil selimut di sampingnya lalu menyelimuti perempuan di sampingnya. Saat Eric ingin menggenggam kembali tangan itu tiba-tiba Dinda menggeliat dan terbangun.
"Kenapa?"Eric melihat Dinda yang tiba-tiba bangun menatapnya, Eric pikir Dinda terbangun karena dia merasakan tangannya digenggam.
"Tuan punya air? Dinda haus." Dinda terbangun karena haus.
"Ada tapi ada di tas."
"Hey, kau haus? ini ambillah air ku."rupanya dari tadi pria itu mendengarkan percakapannya Eric dan Dinda.
Dinda beralih melihat Eric yang menatapnya tajam lalu melihat kembali air itu, tampaknya pria itu sangat mengharapkan Dinda mengambilnya.
"Ya sudah biar Dinda yang ambil." dia baru akan berdiri tapi di tahan Eric.
"Tunggu biar aku saja, ck menyusahkan." katanya menyusahkan tapi tetap saja dia yang mengambilnya.
"Tidak usah aku punya air untuknya, kau minum saja air mu itu." Eric membentak pria muda itu, membuat pria itu menarik kembali tangannya.
"Dasar om galak, bagaimana mau mendekati anaknya jika bapaknya aja kayak macan."ucap pria muda itu dalam hati karena kaget dengan bentakan Eric, bahkan sudah banyak mata yang melihat drama yang ditimbulkan dua pria beda umur itu.
"Ini, minumlah." Eric menyodorkan pada Dinda.
"Terima kasih Tuan." ucapnya.
"Cantik sekali." pria muda itu melihat Dinda lagi seolah dia baru melihat peri saja sangking terpesonanya.
"Hei mau ku cungkil mata mu itu hah."Eric benar-benar sangat emosi dengan pria itu, bisa-bisanya mengatakan Dinda cantik di depannya.
"Tuan kenapa marah-marah, banyak yang melihat Tuan." dari tadi Dinda bingung kenapa Eric dari tadi selalu marah-marah dia tidak tahu jika pria di samping Eric selalu melihatnya.
"Dan kau untuk saat ini jangan memanggilku tuan panggil aku sebutan untuk seorang istri ke suaminya, terutama pada hadapan pria di sampingku." Eric mendekatkan kepalanya pada telinga Dinda lalu membisiknya pelan.
__ADS_1
*****
Like, coment and vote guyss 🖤❤️