
Hari ini Dinda dan Sima hanya menyusun berkas-berkas di atas mejanya, setalah itu mereka pulang.
"Sim, aku singgah di pertigaan aja yah." teriak Dinda dari belakang Sima yang mengendarai sepeda motor.
Arah rumah Dinda dan Sima memang berbeda, jika sudah di pertigaan, arah rumah Dinda ke arah kanan sedangkan Sima ke arah kiri.
"Nggak usah, biar aku antar kamu sekalian!"
"Nggak usah, rumah aku masih jauh." tolak Dinda.
"Udah nggak apa-apa." Sima tetap ingin mengantar Dinda, mana mungkin dia meninggalkan Dinda di pertigaan yang sangat padat, sekalian juga dia ingin melihat rumah Dinda.
"Terserah kamu aja Sim."
Dua puluh menit kemudian, mereka sampai di depan rumah mewah berlantai dua tapi terlihat sangat luas.
"Din, ini rumah kamu?" tanya Sima sambil menganga melihat rumah mewah di depannya.
"Bukan, aku cuman numpang di sini." benar bukan? rumah itu memang bukan rumah Dinda, melainkan rumah Eric.
"Walaupun numpang tetap aja ini mewah banget Din." mata Sima tidak bisa di alihkan dari rumah Eric, dia sangat terpesona melihatnya.
"Singgah bentar yuk!" ajak Dinda.
"Ehhh, lain kali aja deh Din, ini udah mau Maghrib soalnya." tolak Sima, berhubung rumahnya masih lumayan jauh dari rumah Dinda.
"Ya udah, hati-hati yah, dan terima kasih banyak udah anterin aku jauh-jauh."
"Santai aja kali, ini juga nggak setiap hari kok." ucap Sima, lalu ia pamit pulang.
Dinda masuk ke rumah, dia sudah di sambut oleh Bi Sum yang mencuci piring.
"Assalamualaikum. Bi' Sum belum pulang?" tanya Dinda.
"Iyya Non, Bibi cuci piringnya dulu."
"Nggak usah Bi, itu tugas Dinda, bibi istirahat aja dulu sebelum pulang." Dinda menghampiri Bi Sum yang masih mencuci piring di westafel.
"Nanggung non, ini udah dikit aja. Non ganti baju aja dulu."
"Baiklah, Dinda ganti mandi dulu."
Dinda masuk ke kamar untuk berbenah diri. Selesai sholat Maghrib Dinda keluar untuk masak malam. Kebetulan Eric belum pulang, katanya dia pulang setelah sholat Maghrib.
"Non, bibi pulang dulu yah, besok pagi bibi baru ke pasar." pamit Bi Sum setelah memasukkan beberapa lembar pakaiannya yang dia cuci di rumah majikannya itu.
"Iyya Bi', hati-hati yah!"
"Iyya Non, assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
__ADS_1
Dinda masuk ke dapur, lalu mulai memasak bersama menu makanan kesukaan Eric.
Dinda begitu fokus dengan aktifitasnya sampai tak sadar Eric sudah datang. Saat Eric membuka pintu, indra penciumnya sudah menghirup aroma yang begitu sedap dari arah dapur.
Eric mengikuti arah aroma itu berasal dan menemukan Dinda yang berkutat dengan masakannya.
Bibirnya tersenyum melihat Dinda, bukan karena apanya, tapi penampilan Dinda. Biasanya perempuan jika memasak akan menggunakan dress rumahan ataupun daster, tapi Dinda justru berbeda, dia malah menggunakan baju bola yang bertuliskan nama Ozil dibelakangnya plus rambutnya dia kuncir kuda.
Eric mendekati Dinda dari belakang agar melihat apa yang dia masak, Dinda tidak menyadarinya. Dinda berbalik ingin mengambil bawang goreng di belakangnya tapi, pas berbalik dia terkejut sampai-sampai sikunya menyenggol panci kecil yang berisi air panas.
Sikunya terkena air panas itu. Dinda sangat terkejut karena kehadiran Eric tanpa sepengetahuannya.
"Auuh.." Dinda mengipas tangannya mengarah ke siku, lalu meniupnya.
"Astaga, kau tidak apa-apa? sini aku lihat." Eric menarik tangan Dinda lalu membawanya ke arah westafel.
"Mas kenapa nggak bilang-bilang kalau udah datang sih, lalu ngapain di belakang Dinda, buat kaget aja!" ucap Dinda mengomeli Eric.
"Iyya Maaf, Mas nggak ada niat buat ngejutin kamu kok,"
"Apa sangat sakit?" tanya Eric khawatir.
"Astaga gulainya." Dinda berlari ke depan kompornya melihat gulai yang dia masak, untung saja apinya sudah dikecilkan sebelumnya, jadi tidak sampai hangus.
"Untung saja tidak sampai hangus."
"Sudah nanti saja itu, sini aku obati dulu!" Eric menarik Dinda ke ruang tengah, lalu berlari mengambil kotak P3K di laci.
"Bagaimana tidak apa-apa, ini sudah memerah." omel Eric.
Dinda hanya pasrah ketika Eric membaluti lukanya dengan salep.
"Shh, pelan-pelan Mas." pinta Dinda.
"Iyya, ini sudah selesai."
"Mas mandi dulu, bajunya udah Dinda siapin di atas kasur."
"Iyya, nanti dulu."
"Kenapa nanti? ini udah mau masuk sholat isya Mas."
"Bagaimana hasilnya?" tanya Eric.
"Hasil apa?" tanya Dinda bingung.
"Kamukan ngelamar kerja tadi."
"Oh, Alhamdulillah Dinda di terima Mas." Eric tersenyum melihat ekspresi Dinda yang sangat senang.
"Bagaimana hari pertamanya?"
__ADS_1
"Emh, lancar sih, cuman ada sedikit masalah tadi."
"Masalah apa?"
"Emh, ada tadi mbak yang di sana, suruh kita duduk di pojok."
"Siapa dia?"
"Nggak tahu, Dinda nggak tahu namanya."
"Udah Mas sana mandi sambil Dinda siapin makanannya." Eric masuk ke kamar setelah mengecup pipi Dinda.
"Ish, Maas!" Dinda meneriaki Eric karena lancang menciumnya sembarangan. Sedangkan yang di teriaki hanya terkekeh.
Pagi ini, Juna dan para mahasiswa yang lain akan wisuda gelar sarjana. Juna juga akan melamar kerja di salah satu perusahaan ternama, sebelum sarjana dia sudah magang di perusahaan ayahnya. Ayahnya sangat melarang Juna melamar kerja di tempat lain karena, ayahnya ingin Juna melanjutkan perusahaan ayahnya.
"Selamat sayang." Mama Juna memeluk putra bungsunya dengan sayang.
"Makasih Ma."
Begitupun kakak dan papanya juga mengucapkan selamat. Papa dan Mamanya sudah tidak se-judes saat Naura datang, mereka sudah mulai bersifat seperti biasanya.
"Jun, kamu nggak usah cari kerja di perusahaan lain, kan ada perusahaan kita." ucap Naura juga tidak setuju jika Juna bekerja di tempat yang lainnya.
"Nggak, Juna mau cari pengalaman di tempat yang lain, lagian di perusahaan itu ada sahabat Juna." ucap Juna.
"Ya udah terserah kamu aja."
Pratama Group
"Din, ayo makan siang!"
"Tunggu bentar lagi selesai nih, nanggung!" tolak Dinda.
"Ehh, ingat kamu tuh punya penyakit maag jadi, nggak boleh telat makan!" ucap Sima memperingati sahabatnya yang terlalu fokus pada layar komputernya.
"Udah kamu duluan aja deh, ini tinggal dikit Sim!" Dinda tetap menolak tawaran Sima untuk makan siang di kantin kantor.
"Ok aku tunggu, selesaiin cepat!" Sima kembali duduk di kursinya sambil menunggu sahabatnya itu.
Beberapa menit kemudian Dinda sudah menyelesaikan laporan keuangan pekan ini.
"Udah, ayo!" ajak Dinda.
"Udah? Ok ayo!"
Dinda berjalan beriringan dengan Sima menuju lift khusus karyawan. Tapi, saat ingin masuk, mereka ditahan oleh ketua Divisi Keuangan.
*****
Like, coment, beri gift dan vote guyss. 🖤❤️
__ADS_1
Reader's.., sorry yah kemarin nggak update karena di daerah aku jaringannya nggak stabil.