Milik CEO Muda

Milik CEO Muda
Layaknya Suami-Istri.


__ADS_3

Eric meletakkan Dinda dengan hati-hati, dia menatap wajah yang selalu memenuhi pikirannya akhir-akhir ini.


"Sebenarnya kau punya hutang apa hah?" Eric sudah berjongkok untuk melihat wajah Dinda lebih dekat di bawah pencahayaan yang redup.


Eric menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah mulus itu, dia masih setia memandangi Dinda yang terlelap dengan nyenyak.


Dinda yang sepertinya tidak nyaman tidur tanpa bantal, Eric berinisiatif sendiri mengambil bantal sofa untuk menyangga kelapa Dinda. Dinda terlihat begitu tenang dalam tidurnya, melihat itu Eric meninggalkan Dinda sebentar untuk ganti baju di kamarnya.


Setelah selsai bersih-bersih, Eric kembali ke ruang tamu.


"Sepertinya, aku harus menyalakan genset." saat kembali Eric melihat ponselnya sudah hampir habis baterainya, itu semua karena semenjak datang dia belum mematikan senter ponselnya.


Sekarang Eric sudah ada di hadapan alat yang akan membantu mereka dalam kegelapan. Dengan sangat mudah Eric sudah menyalakan benda itu, seketika rumah menjadi terang benderang.


Saat masuk ke dalam rumah, Eric terlebih dahulu ke kamar tamu mengambil selimut untuk Dinda. Malam ini Eric kembali begadang, dia akan mengerjakan pekerjaan kantor yang tertunda tadi.


dert....dert....dert....


Ponsel Eric berbunyi, dia melihat nama Rian tertera disana.


"Halo?"


"Halo, kenapa?"


"Eh! lu dimana? gue ke ruangan lu tapi tidak menemukan siapa-siapa!"


"Gua udah pulang dari tadi."


"Si*l, eh kalau pulang bilang-bilang, gua pikir lu masih di ruangan."


"Gua tadi buru-buru!


"Iyya, tapi lu ninggalin gua sendiri di kantor begoo."


"Tinggal pulang aja lu, ribet banget."


"Iyya bye!!"


Rian memutus sambungan telponnya dengan kesal.


"Tinggal pulang aja, ribet banget sih ni orang." Eric geleng-geleng sendiri mendengar omelan Rian.


Eric kembali men-charger ponselnya di atas nakas.


*****


"Ma, Kakak kapan pulangnya?" tanya Juna pada mamanya.


"Kamu nggak usah nanyain Kakak kamu itu, terserah dia mau pulang atau tidak." ucap Mamanya dengan kesal.


"Ma, jangan ngomong kayak gitu."


"Huftt, Mama itu kesal dengan Kakak kamu itu, dia ninggalin berlian, demi batu kerikil." ucap Mamanya.

__ADS_1


Juna hanya diam mendengar ucapan Mamanya yang sangat kesal dengan Kakaknya, hanya karena harta.


"Kasian Kakak Ma, dia mau pulang tapi takut dengan Mama dan Papa."


Juna dengan kakaknya memang masih berkomunikasi dengan baik, Juna dan Kakaknya memang sangat dekat sejak kecil. Juna sangat tahu tentang pacar kakaknya, hanya saja dia tidak pernah bertemu langsung.


****


Matahari terbit begitu cerah, mengganggu tidur Dinda yang masih nyenyak di atas sofa. Subuh tadi Eric membangunkan Dinda untuk sholat tapi Dinda malah menepis tangan Eric.


flashback on.


"Hei bangun!! kau tidak mau sholat subuh?" Eric membangunkan Dinda tanpa menyentuhnya.


"Hei!! ini waktunya sholat subuh, bangun!" kali ini Eric mengguncang bahu Dinda.


"Emmh, nanti dulu."


"Ini sudah jam 5 lewat"


"Emhh" hanya itu yang bisa Dinda ucapkan, sangking mengantuknya.


"Bangun kau!" Eric mendudukkan Dinda dengan paksa, membuat Dinda membuka matanya dengan susah.


"Apaa..?" Dinda bicara tanpa membuka matanya.


"Sholat, ini sudah jam lima lewat."


"Dinda tidak sholat."


"Dinda datang bulan." setalah itu Dinda merebahkan kembali tubuhnya. Dinda memang seperti itu, jika datang bulan dia akan bangun lambat.


Eric melihat Dinda kembali tidur, dia duduk di sofa tungga dekat Dinda tidur.


flashback off


Eric sudah lengkap dengan pakaian kantornya, lalu kembali melihat Dinda.


"Ehh bangun kebo, ini sudah jam tujuh."


Cukup satu kali Eric membangunkannya, Dinda sudah mengerjapkan matanya.


"Tuan mau ke mana?" tanya Dinda setelah membuka matanya lebar-lebar.


"Lihat jam itu!" Eric menunjuk jam dinding besar di atas TV, membuat Dinda mengarahkan pandangannya ke arah jam.


"Astaga sudah jam tujuh??" Dinda langsung bangun dari sofa dengan kaget.


"Tuan kenapa tidak membangunkan Dinda?" tanya Dinda.


"Heh aku sudah membangunkanmu dari tadi tapi kau tidur seperti mayat." ucap Eric.


"Tuan sudah makan?"

__ADS_1


"Balum sama sekali."


"Tunggu sebentar, Dinda buat makanan." Dinda berlari ke arah dapur, tidak lupa ke westafel sebentar cuci muka.


Saat melihat Dinda cuci muka di westafel Eric sontak tertawa kecil melihatnya.


"Tuan makan roti saja yahh, soalnya nggak keburu buat nasi goreng." sejak Eric sarapan makan nasi goreng buatan Dinda, dia tidak pernah marah ataupun menolak jika Dinda masak nasi goreng di pagi hari. Bahkan pernah Eric yang meminta sendiri dibuatkan nasi goreng.


"Terserah kau saja." Eric duduk di meja makan sambil melihat Dinda yang sudah sibuk di dapur.


Dinda yang mulai sibuk di dapur mulai gerah karena rambutnya yang terurai. Dari tadi Dinda mencari ikat rambut untuk mengikat rambutnya tapi tidak menemukan benda kecil itu, entah dimana dia letakkan terakhir kali.


Akhirnya Dinda menyerah mencari ikat rambutnya, lalu ia melanjutkan kembali pekerjaannya, walau dengan kesusahan karena rambutnya. Eric melihat Dinda yang kesusahan dengan rambutnya, berjalan ke arah Dinda.


"Makanya ikat rambut jangan cuman satu!" Eric memegang rambut panjang itu dari belakang agar tidak menggangu Dinda. Perlakuan Eric sontak membuat jantung Dinda berdetak melebihi batas normal.


Eric mengangkat rambut halus itu, membuat leher jenjang nan putih Dinda terlihat sangat jelas di mata Eric.


"Minyaknya jangan terlalu banyak." perintah Eric saat melihat Dinda yang akan menuangkan minyak ke teflon.


"Iyya Tuan."


Dinda memang belum mandi, tapi aroma badannya sangat menenangkan Eric. Aroma Vanila sangat tercium jelas di indra pencium Eric.


"Tuan sudah." Eric melepaskan genggaman tangannya pada rambut Dinda.


Dinda menghampiri Eric yang sudah menunggunya di meja makan.


"Ini tuan." Dinda datang dengan roti lapis serta yang paling penting, susu hangat kesukaan Eric.


"Kau makanlah juga."


"Emh, Dinda nanti, Tuan duluan saja." ucap Dinda lalu mulai melangkah menuju dapur kembali.


"Makanlah disini, ambil roti untukmu lalu makan di sini." ucap Eric yang menghentikan langkah Dinda dengan mencekal tangannya.


Melihat tangannya yang di sentuh Eric, membuat Dinda menarik tangannya pelan. Bukan berarti Dinda tidak mau di sentuh oleh Eric, hanya saja dia khawatir dengan kondisi jantungnya, ditambah dia masih ingat kalau Eric melarangnya untuk menyentuh Eric.


"Iyya Tuan." Dinda masuk ke dapur kembali, mengambil roti dua lembar ditambah taburan susu kental manis.


"Kenapa rotimu beda?" ucap Eric saat melihat Dinda makan, makanan berbeda dengannya.


"Dinda tadi cuman buat untuk Tuan saja, jadi cuman satu." ucap Dinda, lalu makan kembali rotinya.


"Kau ada kuliah pagi ini?"


"Iyya Tuan, nanti jam 9 Dinda ada kuliah."


Untuk pertama kalinya suasana meja makan terlihat seperti suami-istri yang baik-baik saja, keduanya mengobrol sambil menikma sarapan masing-masing.


*****


Like, coment, beri gift dan vote guyss 🖤❤️

__ADS_1


Hii para reader's, sorry yahh aku updatenya sering lama, karena sekarang lagi MID jadinya bisa update kalau tengah malam. Jangan ada yang marah yah kalau updatenya lama, tetap setia nunggu aku yah guyss 👋


__ADS_2