Milik CEO Muda

Milik CEO Muda
Isi Pesan Juna.


__ADS_3

Selesai makan malam tadi, Eric ke ruangan kerjanya mengambil laptopnya, untuk mengerjakan pekerjaan yang ia tinggal di kantor tadi. Sedangkan Dinda, ia baru saja keluar dari kamar mandi habis bersih-bersih.


"Mas belum mau tidur?" Tanya Dinda yang menghampiri Eric ke sofa, sambil membawa ponselnya.


"Belum, Mas masih mau mengerjakan satu berkas ini sebelum tidur." balas Eric tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.


Ting...


Dinda membuka ponselnya melihat pesan Whatsapp yang masuk.


"Dari siapa?" Tanya Eric yang pandangannya beralih ke arah Dinda dan ponselnya.


Dinda menoleh ke arah Eric lalu menatap kembali ponsel yang berada di tangannya. "Kak Juna, mas!" Eric memejamkan matanya sambil menahan kesal.


"Kalian sering saling chatting-an?" Tanya Eric dengan wajah yang serius, tapi tampak menakutkan di mata Dinda.


"Mhh, ini ke tiga kalinya mas. Saat pertama dia meminta aku meng-save nomornya, lalu yang kedua dia pernah menanyakan kabar, dan ini ke tiga kalinya." jelas Dinda dengan jujur, takutnya jika berbohong Eric akan marah dan menuduhnya yang tidak-tidak.


"Kenapa meladeninya?"


"Dinda nggak enak mas, nanti dikira sombong." itulah susahnya menjadi orang yang tidak enakan, membalas lambat chat dari seseorang-pun sering membuat kita merasa tidak enak.


"Jika tidak penting, tidak usah membalasnya!" ucap Eric yang kentara jika sedang cemburu.


"Iyya Mas." akhirnya Dinda memutuskan tidak membuka pesan dari Juna tersebut, karena Eric juga sudah melarangnya.


Dinda meletakkan ponselnya di meja, lalu kembali duduk menemani Eric yang masih menatapnya juga.

__ADS_1


"Kenapa? Dinda nggak balas chat kak Juna kok Mas." Dinda yang merasa di tatap dengan datar oleh Eric, membuatnya merasa Eric mengira dia membalas chat dari Juna.


"Kenapa tidak pergi tidur?" Tanya Eric dengan nada datarnya membuat Dinda menggeleng pelan.


"Dinda belum mengantuk mas." melihat Dinda yang duduk sambil menatap ke depan, Eric menarik pinggang Dinda agar lebih dekat lagi dengannya.


"Kenapa? habis minum kopi lagi?" Dinda memang sangat susah tidur, apa lagi jika sudah minum kopi, dia akan tambah susah tidur.


"Nggak!"


"Terus?"


"Cuman mau disini saja nemenin mas kerja."


"Baiklahh..sandbar di sini saja sambil nungguin mas!" Eric menarik kepala Dinda ke bahunya untuk bersandar, agar Dinda tidak kelelahan menunggunya.


Sambil mengerjakan tugas yang ada di laptop, otak Eric tatap berkelana memikirkan si Juna. Eric baru mengetahui jika Juna itu sudah sering chatting-an dengan Dinda, itu semua semalin membuat Eric tambah gelisah, dia tidak sudi jika Juna selalu mengincar istrinya.


"Besok aku akan minta tolong pada Rian untuk mencari tahu tentang Juna." batin Eric.


Mendengar dengkuran halus dari sampingnya, Eric menoleh melihat Dinda yang ternyata sudah tertidur dengan damai sambil memeluk banyak sofa.


"Katanyaa belum mengantuk, tapi sekarang malah tertidur." Eric kembali menyelesaikan tugasnya dengan cepat, lalu menutup dan menyimpan laptopnya sembarangan di atas sofa.


Eric menggeser kepala Dinda dari bahunya terlebih dulu lalu mengangkatnya dengan perlahan, namun di tengah jalan menuju ke arah tempat tidur Dinda sudah terbangun karena pergerakan Eric saat mengangkat tubuh mungilnya.


"Mas?"

__ADS_1


"Mhh, kenapa bangun? lanjut saja tidurnya." ujar Eric setelah meletakkan tubuh Dinda di atas tempat tidur. Eric meletakkan Dinda di tengah-tengah tempat tidur, lalu ia ikut bergabunh di samping Dinda sambil menarik selimut menutupi tubuhnya dan Dinda.


"Tidurlah.., sudah malam." ucap Eric disertai elusan lembut di kepala sang istri yang menatapnya dari tadi.


"Mmh.., Selamat malam, Assalamualaikum." kebiasaan Dinda sebelum benar-benar terbang ke alam bawah sadarnya, dia akan mengucap salam pada Eric terlebih dulu.


"Waalaikumsalam." ucap Eric dengan mencium kening Dinda, lalu ikut memejamkan matanya yang memang sudah terasa sangat berat.


Di tempat yang lain, Juna tengah uring-uringan di atas tempat tidurnya menunggu balasan dari gadis yang didambakannya itu.


"Kok nggak dibalas yahh? padahal dia online!" saat terakhir kali Juna chatting-an dengan Dinda, dia tidak perlu menunggu waktu yang lama untuk mendapat balasan dari Dinda, tapi kali ini sudah hampir dua jam tapi belum ada balasan dari Dinda.


"Padahal mau ngajak makan siang setelah pulang dari Pratama Group." yah rencananya Juna besok akan ke Pratama Group lagi untuk membahas project yang akan dikerjakan oleh perusahaan yang di nauinginya itu.


Juna kembali mengetikkan sesuatu untuk dikirim ke Dinda. "Bisalah besok kita lunch bareng saat jam istirahat." isi pesannya, lalu akhirnya ia mengirim dengan menekan tombol panah berwarna hijau, samping pesan tersebut tertulis.


Ting...


Eric yang baru saja dari dapur mengambil air, mengalihkan pandangannya ke ponsel Dinda yang tergeletak di atas meja. Nalurinya mengatakan untuk melihat isi pesan yang masuk, dan benar saja, Eric mengambil ponsel Dinda lalu membukanya. Untung saja ponsel Dinda memang tidak memiliki Sandi ataupun pola.


Kak Juna


"Bisalah besok kita lunch bareng saat jam istirahat."


Eric membuka pesan dari Juna, sontak membuat rahangnya mengeras melihat isi pesannya.


"Kau benar-benar tidak mau menjauhi istriku rupanya." ujar Eric dengan geram.

__ADS_1


__ADS_2