Milik CEO Muda

Milik CEO Muda
Kekesalan Juna.


__ADS_3

Juna sudah menunggu Dinda dari tadi higga suasana kantin sudah mulai sepi, tapi Dinda tak kunjung datang.


"Sepertinya dia lupa." Juna juga sudah mengirimkan pesan kepada Dinda, tapi Dinda tidak melihatnya. Saat ke ruangan Eric Dinda lupa membawa ponselnya akibat terburu-buru.


Juna segera meninggalkan tempatnya. "Kenapa Dinda sangat sulit di dekati sihh!!" gumam Juna saat mengendarai mobilnya menuju ke kantor.


Saat pulang kerja Dinda menyempatkan diri berkunjung ke panti, sudah lama dia tidak mengunjungi keluarganya itu. Seperti biasa, nanti setelah pulang dari kantor Eric baru akan singgah menjemput Dinda.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Ucap pak Bahar setelah membuka pintu. "Ayo nak masuk!" ajak pak Bahar.


"Lain kali saja pak, Eric harus cepat-cepat pulang karena ingin mengerjakan pekerjaan yang tertunda di kantor tadi."


"Oh baiklah, biar bapak panggil Dinda-nya. DINDAA!!" beberapa saat kemudian, Dinda datang sambil membawa tasnya, karena dia tahu Eric sedang buru-buru.


"Iyya pak."


"Itu nak Eric sudah buru-buru ingin pulang, katanyaa mau lanjut pekerjaannya yang tertunda." Dinda hanya bisa tersenyum menanggapi ucapan pak Bahar.


"Baiklah kita pulang dulu, Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam. Iyya, hati-hati di jalan, tidak usah ngebut-ngebut."


Flashback on.


Setelah selesai makan, Eric mulai bermanja pada Dinda. "Sayang kenapa kamu sangat cantik?" gombal Eric sambil terus menatap Dinda.

__ADS_1


"Hah? apasih Mas." posisi Dinda sekarang tengah berada di atas pangkuan Eric. " Mas, lepasin Dinda, waktu istirahatnya sudah mau habis. Nanti Sima nyariin."


"Iyya kan bisa nanti."


"Mas tugas yang diberikan pak David tadi saja belum kelar." ucap Dinda sambil berusaha melepas tangan Eric yang membelit pinggangnya.


"Sayang, boleh yah satu kali.." ujar Eric yang terdengar ambigu.


"Satu kali apa mas?" Tanya Dinda dengan polos.


Eric hanya bisa menghembuskan nafasnya pasrah mendengar pertanyaan Dinda. Eric mulai melancarkan aksinya dengan meraba-raba punggung Dinda, hingga membuat Dinda kegelian. "Mas, ih geli." ucap Dinda tapi Eric tetap menghiraukannya, malah ia menarik tengkuk Dinda lalu me*ci*m bibir Dinda dengan rakus. Tangan Eric tidak tinggal diam, tangan kanannya bekerja menahan leher Dinda, sedangkan yang kiri mulai membuka kancing kemeja yang dikenakan Dinda.


"Emh, mas lepas Dinda mau keluar." seakan tuli, Eric malah mulai memberikan tanda kepemilikan di area leher Dinda.


"Emh, MAS!!" Dinda terpaksa mendorong bahu Eric, sehingga mulut Eric tidak menempel lagi di lehernya.


"B-bukan begitu mas, tapi ini di kantor, bagaimana jika ada yang melihat ini." Dinda khawatir jika ada yang melihat tanda yang di berikan Eric tadi, pasalnya Eric tadi melakukannya lumayan lama, pasti bekasnya sangat kentara.


"Tidak akan ada yang melihatnya, tenang saja." Eric baru ingin melanjutkan kegiatannya yang tertunda, tapi Dinda menghalanginya lagi.


"Mas, nanti saja di rumah, Dinda malu kalau di sini." ujar Dinda sambil menyembunyikan wajahnya di dada bidang Eric. Tangan Eric mengelus punggung Dinda. " Baiklah, kita lanjut di rumah saja, kamu keluarlah jika mau." Dinda turun dari pangkuan Eric lalu segera merapikan kemejanya yang berantakan akibat ulah Eric.


"Dinda keluar yah mas." pamit Dinda yang diangguki Eric.


Flashback Off.


Saat Jefri masuk ke ruangan Juna, Juna tengah tidur di atas sofa.

__ADS_1


"Oi Jun, kenapa tidur di sini, lu mau di sini atau gimana?" Juna yang mendengar suara besar Jefri, menjadi terbangun.


"Ck, gua ketiduran." ujar Eric setelah meluruskan badannya.


"Gimana tadi di kantor Pratama? lancar rencana lu?" Tanya Jefri setelah duduk di kursi tunggal depan Juna.


"Apanya mau lancar, yang ada gue nunggu sampe ****** gue kepanansan si Dinda nggak datang-datang!" ujar Juna dengan kesal.


"Hahaha!! Kenapa bisa nggak dateng? dia lupa kali." Jefri tertawa terbahak-bahak melihat Juna yang tengah marah, dia tadi sempat menawarkan diri buat nemenin Juna ke kantor Pratama Group untuk rapat, tapi Juna menolaknya karena dia ada rencana makan siang bersama Dinda.


"Untung gua nggak ikut tadi, bisa-bisa gua ikutan nunggu lama."


Sesudah mengobrol lama Juna dan Jefri meninggalkan kantor saat jam tujuh tiga puluh malam.


"Assalamualaikum." Dinda dan Eric baru sampai, keduanya langsung masuk ke kamar untuk bersih-bersih.


"Dinda.." panggil Eric setelah selesai membuka kemejanya.


"Iyya mas?"


"Tolong berikan handuknya sini." Dinda mengambil handuk yang baru di lemari, lalu memberikannya pada Eric. Tapi Eric dengan jahilnya menarik tangan Dinda hingga duduk di pangkuannya.


"Sayang, boleh yah sekarang?"


"Mas Dinda mau mandi dulu."


"Ck, lama. Sekarang saja!"

__ADS_1


"Iyya, Dinda akan cepet mandinya." akhirnya Eric melepaskan Dinda lalu segera ke kamar mandi tamu untuk mandi juga.


__ADS_2