Milik CEO Muda

Milik CEO Muda
Mengetahui Kejadian Malam Itu.


__ADS_3

"Ric, satu tahun? itu lama loh!" ucap Rian tak percaya keputusan Eric.


"Gua nggak peduli, justru ini udah ringan banget."


Lucy dan teman-temannya kembali ke mejanya dengan berderai air mata untuk membereskan barang-barangnya.


Semua penghuni di lantai 6 bingung melihat gang para karyawan cantik itu. Pasalnya, mereka selalu terlihat tertawa tapi, hari ini mereka malah berderai air mata.


Sehabis kerja Dinda dan Eric pulang ke rumah meskipun dengan kendaraan yang berbeda. Eric pulang sendiri dengan mobilnya, sedangkan Dinda menggunakan ojek online.


"Mas, udah mau tidur?" tanya Dinda menghampiri Eric di balkon kamar.


"Belum, aku masih mau mengerjakan satu dokumen lagi. Setelah itu baru tidur."


"Ohh.." Dinda berjalan ke depan melihat pemandangan langit yang dipenuhi bintang.


"Kenapa belum tidur? Di sini dingin, sana masuk. Nanti kamu flu kalau lama di luar." ucap Eric mengingatkan.


"Nanti aja, di dalam Dinda sendiri."


Eric meletakan laptopnya dari pangkuannya lalu, mengambil jaket yang selalu dia sediakan saat berada di balkon.


Ia menghampiri dinda dari belakang dan memeluknya dari belakang dilapisi jakat untuk menutupi tubuh mungil dinda.


"Kau sangat keras kepala, udara di sini sangat dingin.” ucap Eric sambil mengeratkan pelukannya.


Dinda sudah tidak begitu kaget dengan perlakuan Eric yang memeluknya tiba-tiba karena, Eric sudah sering melakukannya.


“Enggak Mas, Dinda memang belum mengantuk.”


“Tidak bisa tidur? Kau memikirkan sesuatu?” tanya Eric setelah mengecup pelipis Dinda.


"Nggak kok Mas," ucap Dinda. "Tapi, di kantor tadi ada kejadian aneh Mas." sambungnya.


"Apa?" Eric membalikkan badan Dinda menghadapnya karena penasaran dengan ucapan Dinda.


"Tadi di kantor kak Lucy dengan teman-temannya menangis, lalu mereka juga membereskan barang mereka dari meja. Sepertinya mereka di pecat deh Mas."


Eric baru teringat jika Dinda tidak tahu sama sekali kasus yang menimpanya malam itu, Eric juga berencana untuk memberitahukan Dinda dengan baik-baik.


"Ohh, mereka memang sudah Mas pecat tadi."


"Hah? kenapa Mas pecat?" tanya Dinda bingung.

__ADS_1


"Ayo masuk ke dalam dulu lalu Mas ceritanya di dalam."


Eric menarik Dinda, tak lupa dia juga mengambil laptopnya masuk ke dalam kamar, lalu menutup pintunya rapat-rapat.


"Duduk! aku ingin bicara sesuatu." Dinda duduk di kursi meja rias yang dibeli Eric beberapa hari yang lalu, sambil menunggu Eric menyimpan laptopnya.


"Apa Mas?"


Eric duduk di ujung kasur yang pendek menghadap ke Dinda.


"Kau ingat saat pesta ulang tahunku kau berada di dalam kamar bersamaku?" tanya Eric mulai bercerita.


"Emh, iyya Dinda ingat Mas. Tapi, Dinda tidak ingat kenapa Dinda langsung ada di kamar itu."


"Mas hanya ingin mengatakan kalau saat itu kau hampir di jebak oleh Lucy dan teman-temannya."


"Menjebak Dinda? Tapi kenapa? Dinda nggak ngapa-ngapain meraka Mas."


"Memang kau tidak melakukan apa-apa pada mereka tapi, merekalah yang iri padamu." ucap Eric.


"Mereka ingin menjebak mu tidur dengan laki-laki di dalam kamar hotel. Makanya itu kau sangat mengantuk dan tubuhmu terasa panas."


Dinda hanya bisa menerawang kejadian-kejadian malam itu, walau dia hanya mengingat sebagian.


"Tidak! Tapi, bagaimana jika aku terlambat sedikit saja? mungkin pria itu sudah benar-benar melihat sepenuhnya punggungmu."


"D-Dinda tidak ingat Mas." Dinda meneteskan air matanya karena, merasa sudah di lecehkan.


"Saat itu memang obat tidurnya memang sudah bekerja jadi kau tidak mengingat maupun merasakannya." ucap Eric sambil menghapus air matanya.


"Dinda hanya mengingat saat menemani kak Lucy di ruang tunggu hiks. Setelahnya Dinda sudah tidak mengingat apapun Mas hiks."


"Sudah jangan menangis, lain kali jangan terlalu gampang percaya dengan seseorang. Mereka juga dengan sangat mudah menjebak mu karena kau sangat mudah percaya." nasihat Eric.


Eric memeluk Dinda untuk menenangkannya, merasa aneh dengan posisi itu, Eric menarik Dinda duduk di pangkuannya lalu memeluknya kembali.


"Karena itu tadi siang Mas memecat mereka semua!"


Dinda menangis di pelukan Eric begitu lama, Eric juga hanya mengelus punggung Dinda untuk menenangkannya


"Pria itu hiks sudah menyentuh apanya Dinda Mas hiks?" mata Dinda sudah mulai membengkak akibat menangis terlalu lama.


"Dia belum menyentuhmu, hanya saja dia hampir membuka sepenuhnya resleting gaunmu." ucap Eric.

__ADS_1


"Sudah, berhenti menangis tidak apa-apa, lain kali jangan terlalu gampang percaya pada orang lain." Dinda hanya bisa mengangguk menjawab Eric.


Eric juga sering merasa khawatir karena, kepolosan Dinda mempermudah orang-orang yang iri padanya gampang menjebaknya.


"Hei, sudah nangisnya matamu sudah membengkak." Eric melerai pelukannya lalu menghapus air mata yang membanjiri wajah cantik Dinda.


"Ngomong-ngomong, hadiah ulang tahunku mana?" Eric mengalihkan topik pembicaraan agar Dinda berhenti menangis. Alhasil Dinda benar-benar berhenti menangis dan menatap Eric bingung.


"Dinda nggak punya Mas." ucap Dinda yang terlihat lucu sambil menggelengkan kepalanya.


"Hah? sungguh kau tidak punya hadiah? suamimu ulang tahun tapi, kau tidak punya hadiah?" entah mengapa seperti ada kupu-kupu yang terbang di perut Dinda mendengar Eric bilang kata suami.


"Memang mau hadiah apa? Mas kan sudah punya semua, lagian uang Dinda nggak cukup beli barang mewah seperti yang selalu Mas pakai itu." Eric tersenyum mendengarnya.


"Kalau untuk traktir aku makan masih cukup? mumpung aku lapar."


"Mas lapar lagi? bukannya baru aja selesai makan malam?" tanya Dinda bingung, sebelum ke kamar mereka memang sudah makan malam.


"Yah nggak tahu, aku masih lapar." sebenarnya Eric juga masih kenyang tapi, karena ingin mengalihkan kesedihan Dinda dia akan makan lagi.


"Lepaskan dulu, Dinda mau lihat dompet."


Eric melepaskan tangannya dari pinggang Dinda, lali Dinda ke meja mengambil dompetnya.


"Uang Dinda cukup untuk makan tapi, jangan makan di tempat yang mahal yah Mas takutnya nanti nggak cukup."


Eric hampir tertawa melihat wajah Dinda yang was-was uangnya tidak cukup.


"Iyya, nanti kalau nggak cukup biar aku yang bayarin." ucap Eric.


"Loh nggak bisa gitu dong Mas, kalau mas yang bayarin itu berarti bukan Dinda yang traktir tapi, mas yang traktir Dinda."


"Iyya, Iyya nanti kita sesuaikan tempat makannya dengan isi dompetmu."


"Iyya Mas, lagian kalau makan di restoran yang mewah nanti ada yang melihat kita Mas." ucap Dinda yang masih ingat dengan hubungan privasi mereka.


"Iyya.." ucap Eric. "Sulit juga memiliki hubungan seperti ini, tidak bisa keluar dengan bebas." sambung Eric dalam hati.


"Ayo berangkat!" Eric menarik tangan Dinda.


*****


Like, coment, beri gift dan vote guyss. 🖤❤️

__ADS_1


__ADS_2