
"Mau makan siang di mana?" tanya Rian saat mereka keluar berdampingan dari ruang meeting.
"Terserah lu dimana aja." jawab Eric.
"Kok lu kayak cewek sih jawabnya terserah." Rian berhenti lalu menoleh melihat atasannya itu.
"Ck, di tempat biasa lah, ngapain juga lu nanya begitu, tempat makan gua cuman satu." Eric memang belum pernah makan diluar, dia hanya akan makan di ruang khusus dalam ruangannya.
"Oke deh Bos.., nanti minta ke Lula pesanin makanan." ucap Rian meninggalkan Eric.
*****
"Assalamualaikum." Dinda baru sampai di toko roti setelah menempuh beberapa menit dari kampus.
"Eeh, udah datang, ayo cepat bantu orang dapur di mereka kewalahan tuh." ucap Risa yang sedang melayani beberapa pelanggan.
"Iyya." Dinda berlari masuk sambil menyapa beberapa karyawan lain yang dilewatinya.
"Dinda cepat liat roti yang di oven!" teriak salah satu temannya saat melihat Dinda sudah masuk.
Dinda memang bekerja sebagai pelayan di toko roti kadang juga membantu bagian dapur jika kewalahan seperti saat ini.
Semuanya bekerja dengan terburu-buru tapi tentu saja harus hati-hati juga, hingga beberapa jam kemudian semua pekerjaan mulai renggang kembali.
"Huft..huft..huft.." semua pelayan menghembuskan nafas lega terutama yang bekerja bagian dapur.
"Ini sudah hampir jam pulang, kamu belum siap-siap pulang Din?" tanya Risa yang duduk di samping Dinda.
"Iyya tunggu lima menit lagi baru aku siap-siap, capek banget soalnya Ris." Dinda menyandarkan tubuh mungilnya di dinding.
"Ya udah aku ganti baju duluan yah, soalnya Mama suruh aku pulang cepat hari ini." pamit Risa.
"Iyya Ris."
Selang beberapa menit Dinda masuk ke ruang ganti setelah melihat Risa keluar.
Di kantor Pratama Group, Eric sudah bersiap akan pulang, tapi sebelum itu dia menelfon seseorang.
"Halo Bi Sum, dia sudah pulang?" tanya Eric pada Bi Sum di seberang sana.
"Non Dinda belum ada Den." Bi' Sum sudah tahu yang dimaksud Eric itu adalah Dinda, setiap berada diluar Eric selalu menelpon rumah menanyakan kedatangan Dinda.
__ADS_1
"Oh Iyya Bi', udah dulu yah, saya mau pulang ini." Eric memutus sambungan telponnya.
"Dia butuh berapa lama lagi tinggal di sana?" Eric yang katanya tidak bisa menerima kehadiran Dinda, tapi sekarang baru dua hari dia malam di tinggal sudah seperti cacing kepanasan.
"Emang adiknya sakit apa sampai selama itu, dia memang hanya menjadikan adiknya kambing hitam agar pulang ke rumahnya." Eric berdiri dari kursinya lalu keluar untuk pulang.
Eric baru sampai di rumah jam 17:10 sore, dia langsung menuju kamarnya untuk mandi. Berhubung hari ini Eric merasa sangat lelah dari kantor ditambah perjalanan pulang tadi sangat macet.
"Assalamualaikum?" Dinda baru masuk lewat pintu belakang.
"Wa'alaikumsalam, eh Non? kenapa lewat situ?" tanya Bi Sum kaget melihat Dinda bukannya muncul lewat pintu depan ini malah lewat pintu belakang.
"Eh Bi Sum belum pulang?"
"Belum Non, lagi nunggu Mas Diman pergi beli paku."
"Ohh, kenapa nggak bermalam aja Bi, kita bisa tidur berdua di kamar." tawar Dinda yang tentu saja ditolak oleh Bi Sum.
"Nggak Non, tapi mungkin malam baru bisa pulang." tolak Bi Sum.
"Bermalam juga nggak apa-apa kok Bi'. Dinda masuk dulu yah ke kamar." pamitnya.
"Loh kenapa yah, Non Dinda tidur di sana? apa Den Eric tidak ingin tidur bersamanya? tapi setidaknya Non Dinda tidur di tempat yang lebih layak, itu kamar untuk ART." semenjak kedatangan Dinda di rumah ini, Bi Sum sudah melihat kalau Eric tampak tidak menyukai istrinya itu.
"Sepertinya hubungan mereka berdua mamang tidak baik." ucap Bi Sum kembali lagi ke dapur.
Dinda masuk ke kamarnya terburu-buru untuk mengambil pakaian gantinya lalu menuju ke kamar mandi.
"Bi', tolong buatkan saya kopi lalu bawa ke ruang kerja saya." Eric ingin ke ruang kerja sebentar sambil menunggu waktu makan malamnya.
Ceklek..(suara pintu terbuka)
Eric berbalik melihat suara pintu itu, dia melihat sudah ada Dinda yang keluar lengkap pakaian rumahannya dengan rambutnya yang hampir kering.
"Ehh Tuan." mau tidak mau Dinda tetap menyapa Eric yang sudah menatapnya seolah meminta penjelasan.
"Buat dan antar kopiku nanti ke ruang kerja, Bi Sum tidak usah buat kopinya, bibi istirahat saja." perintah Eric lalu meninggalkan keduanya.
"Bibi panaskan air dulu yah, nanti Non yang buat kopinya."
"Iyya Bi', makasih." Dinda masuk ke kamarku merapikan rambutnya dulu lalu keluar kembali.
__ADS_1
"Bi' Sum masuk ke kamar istirahat yah, biar Dinda yang masak, Bibi pasti capek kerja seharian." suruh Dinda saat melihat wajah wanita yang tidak muda lagi itu tampak kelelahan, walau dia juga sangat lelah.
"Nggak kok Non, Bibi belum capek." ucap Bi Sum bohong padahal lutut dan punggungnya sudah sangat ngilu.m
"Udah, ini perintah Dinda, Bibi masuk ke kamar lalu istirahat aja." Dinda menarik tangan Bi Sum lalu mendorongnya pelan masuk ke kamar lalu menutup pintu itu.
Dinda mengikat rambutnya dulu sebelum membuat kopinya.
Dinda sudah ada didepan ruang kerja Eric, ia mengetuk pintu itu dengan hati-hati karena ada nampan juga di tangannya.
Mendengar ketukan itu, Eric berdiri lalu membuka pintunya.
Eric membuka pintu itu lebar-lebar dan Dinda melangkah masuk meletakkan secangkir kopi di atas meja yang penuh berkas.
Saat Dinda berbalik ingin kembali ke dapur memasak, Eric menutup pintu itu sedikit keras mengejutkan Dinda.
"Kau tahu salahmu?" Eric berjalan mendekati Dinda yang lumayan jauh didepannya.
Dinda mengerti maksud Eric, Eric marah karena dia menginap lama di panti, tapi menurut Dinda itu tidaklah lama.
"I-iyya Tuan. Dinda tahu." Dinda semakin takut melihat Eric berjalan semakin dekat ke arahnya.
"Apa kesalahanmu? bisa kau jelaskan?" Eric masih terus melangkah ke arah Dinda.
"I-itu, d-Dinda menginap lama di Panti." Dinda hanya mengetahui itu kesalahannya.
"Apa lagi? hanya itu?"
Dinda mengerutkan keningnya berpikir kesalahan apa lagi yang dia perbuat.
"Hanya itu Tuan, tidak ada lagi." ucap Dinda sambil menggelengkan kepalanya.
"Coba pikirkan lagi apa kesalahanmu, cobalah ingat-ingat dengan baik." Eric sudah sangat dekat dengan Dinda bahkan sudah menghimpit tubuh mungil itu di meja kerjanya.
"Pikirkan kau dari mana saja hari ini." Eric memajukan kepalanya melihat wajah Dinda yang menunduk seperti dimarahi oleh orangtuanya.
"Dinda hanya ke kampus tadi Tuan."
"Hei angkat wajahmu, aku tidak ada di bawahmu." perintah Eric lalu Dinda mengangkat wajahnya, mata mereka bertemu untuk waktu yang cukup lama.
*****
__ADS_1
Like, coment dan vote guyss. 🖤❤️