
"Kenapa? apa yang kau tunjuk?" Eric menepikan mobilnya lagi karena terganggu dengan kelakuan Dinda, Eric pikir maagnya kambuh lagi sampai tidak bisa bersuara.
"Tadikan Tuan bilang diam saja, jadi Dinda cuman nunjuk tempat makannya." Eric rasanya ingin mencekik perempuan di depannya itu tapi tidak mungkin dilakukannya.
"Aku menyuruhmu diam karena kau sangat banyak tanya, bukan menyuruhmu diam ketika sudah mendapat restoran dan malah memegang bahuku!" ucap Eric penuh penekanan sambil meremas kuat stir mobil.
"Sudah kukatakan jangan menyentuh ku!" Eric selalu melarang Dinda menyentuhnya tapi dia malah seenaknya menggenggam tangan Dinda ketika di pesawat.
"Maaf Tuan Dinda tadi refleks." Dinda juga spontan melakukan tadi, dia benar-benar lupa kalau Eric tidak mau di sentuh olehnya, bahkan sejak awal pernikahannya.
"Mana restoran yang kau bilang?" ucap Eric mengalihkan pembicaraan.
"Itu Tuan," tunjuk Dinda ke arah rumah makan yang sederhana.
"Tapi bukan restoran, kalaupun tuan cari restoran sampai ke panti sudah tidak ada." sambung Dinda.
"Tidak ada tempat makan yang lebih layak dari itu?" tanya Eric yang terlihat agak tidak bersahabat dengan rekomendasi Dinda.
"Sudah tidak ada Tuan, didepan sana cuman ada warung."
"Ck, di sini saja." Eric baru akan membuka pintu mobil menoleh lagi ke arah Dinda.
"Kenapa diam, sana turun! kau ikut makan juga, jangan sampai maagmu itu kambuh lagi aku tidak ingin disusahkan." perintah Eric.
"Tuan mau makan apa?" tanya Dinda, di rumah makan itu memang pelanggan yang ke bagian pemesanan untuk memesan sendiri yang diinginkan.
"Apa saja yang penting bukan udang." Dinda mengangguk lalu segera memesannya.
"Tunggu sebentar Tuan." Dinda sudah memesan makanan dan duduk di kursi agak jauh dari Eric, sekitar satu meter.
Mereka terlihat seperti tidak saling mengenal, karena Eric yang sibuk dengan ponselnya dan Dinda sibuk memperhatikan sekitarnya.
"Astagfirullah aku lupa kabarin Ibu kalau mau datang." Dinda meu mengabari Ibunya, tapi ponselnya ada di dalam mobil.
"Tidak mungkin aku meminjam ponsel Tuan, nanti sajalah aku telponnya." ucapnya dalam hati.
Lima belas menit kemudian makanan pesanannya sudah datang. Eric mulai makan, tapi Dinda belum makan.
Dinda masih ingat jika Eric pernah mengatakan jijik melihatnya, karena itulah Dinda tidak pernah makan bersama dengan Eric.
"Makan makananmu!" ucap Eric sambil memotong ayam bakar didepannya.
"Nanti saja setelah Tuan Dinda makan." ucapnya membuat Eric terdiam sejenak lalu melanjutkan lagi makannya.
Eric baru selesai makan, Dinda sudah terburu-buru makan makanannya yang jauh lebih sederhana dari pada makanan Eric tadi.
__ADS_1
Melihat Dinda makan dengan lahap, Eric menoleh ke arah semula.
"Udah selesai Tuan." ucap Dinda selesai makan.
"Sana bayar!" Eric meletakkan uang merah dua lembar di atas meja, setelah itu dia kembali ke mobil.
"Ini Tuan lebihnya." Dinda menyodorkan uang itu di depan Eric, tapi Eric hanya memandang uang pecahan Rp 50.000 lalu melajukan mobilnya kembali.
Dinda meletakkan uang itu didekat rem tangan mobil.
*****
Los Angeles.
"Honey aku lusa mau ke Indonesia ketemu klien?" ucap Leo ke Naura.
"Hah, ke Indonesia?"
"Iyya, emang kenapa kalau nggak mau ikut aku pergi sendiri, kamu tinggal di rumah saja." kata Leo.
Akhir-akhir ini Naura memang tidak tinggal lagi di apartemen yang dibelikan Leo untuknya. Alasannya dia bosan tinggal sendiri jadi mau tinggal bareng di rumah Leo.
"Honey aku nggak mau tinggal sendiri." rengekan Naura terasa sangat geli di telinga Leo, entah mengapa itu bisa terjadi padahal dulu dia sangat suka jika Naura manja ke padanya.
"Tapi ke Indonesia? gimana kalau sampai ketemu sama orang tua aku honeyy?
"Itu urusanmu, kalau mau ikut tinggal ikut saja kalau tidak ya sudah!" Leo meninggalkan Naura didalam kamar sendiri.
Selain satu rumah, mereka juga satu kamar. Hanya mereka berdua dan tuhan yang tahu apa yang dilakukan didalam kamar berdua.
"Ck, ya sudahlah ikut aja, bisa nanti tinggal di hotel aja kalau nggak mau keluar." Naura memutuskan untuk pergi bersama Leo ke Indonesia besok.
*****
"Yang mana disini rumahnya?" tanya Eric ketika sudah memasuki lorong menuju panti.
"Lagi Tuan, rumah warna abu-abu."perintah Dinda.
"Nah itu tuan." tunjuk Dinda pada rumahnya.
Mereka sudah sampai, Dinda turun terlebih dulu. Sangking senangnya dia pulang ke panti, Dinda berlari masuk ke arah rumah panti.
Tok...tok...tok...
"Assalamualaikum!" Dinda mengetuk pintu itu, tidak berselang lama sudah ada Pak Bahar yang membuka pintu.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam! Dinda?" Dinda langsung mengulur tangannya menjabat tangan Pak Bahar.
"Apa kabar kamu?"
"Alhamdulillah baik Pak."
"Eh Nak Eric, mari masuk." Pak Bahar mempersilahkan Eric yang sudah ada di depannya.
"Terima kasih Pak, tapi saya mau pulang dulu." ucap Eric membuat Dinda menoleh.
"Loh Nak Eric tidak bermalam?"
"Tidak pak saya masih banyak pekerjaan yang harus di selesaikan." ucapnya.
"Saya pamit dulu Pak kalau begitu." Eric mengulurkan tangannya lalu melangkah pergi tanpa menoleh ke arah Dinda.
"Pak masuk aja dulu, Dinda mau bicara dulu dengannya." ucap Dinda.
"Tuan!" panggil Dinda saat Eric sudah ada di dalam mobil.
"Apa?" Eric menoleh setelah membuka jendela mobilnya.
"Tuan benar tidak mau bermalam?" tanya Dinda lagi, dia hanya tidak mau Eric kecapean mengantarnya.
"Kau lihatlah sendiri, kalau aku mau bermalam di rumahmu, tidak mungkin aku didalam sini." Dinda meneguk salivanya dan menundukkan kepalanya.
"Tuan, terima kasih atas bantuannya." Dinda masih pada posisinya.
"Untuk apa?"
"Semuanya Tuan, saat maag Dinda kambuh, memberi Dinda makan malam dan mengantar Dinda."
"Aku tidak mengantar mu, aku memang ada urusan di arah yang menuju ke sini. Lagi pula aku bukan sopirmu yang mengantar mu." ucap Eric bohong, dia tidak ada sama sekali urusan di sini, hanya saja malu mengatakan kalau Dinda keluar malam diantar oleh laki-laki.
"Lagian tidak usah memintaku bermalam, kalau aku bermalam bisa-bisa aku tidur dikamar berdua denganmu. Kau tahukan jika aku tidak bisa tidur satu ranjang dengan mu, satu kamar saja rasanya tidak sudi!"
"Iyya Tuan, maaf jika tuan merasa seperti itu." Eric menaikkan kaca mobilnya kembali lalu segera meninggalkan Dinda di depan rumahnya.
Dinda masih diam didepan rumahnya menatap mobil yang sudah menjauh darinya, sedangkan Eric melirik spion mobil yang memperlihatkan Dinda masih berdiri menatap kepergiannya.
Eric sebenarnya merasa sangat aneh, dia sering merasa jengkel bahkan marah jika ada laki-laki membicarakan tentang Dinda tapi tiba-tiba dia malah memarahi Dinda sampai pernah melukainya.
*****
Like, coment dan vote guyss. 🖤❤️
__ADS_1