Milik CEO Muda

Milik CEO Muda
Eric Pulang.


__ADS_3

Matahari hampir terbenam dan sebentar lagi azan magrib juga akan berkumandang. Dinda baru sampai di panti dengan keadaan yang begitu pucat, saat di angkot tadi, dia tiba-tiba mual dan untungnya sopirnya mengerti keadaan Dinda, karena menghentikan angkotnya di SPBU terdekat.


"Assalamualaikum." ucap Dinda sebelum membuka pintu depan.


"Waalaikumussalam." jawab anak-anak panti yang sudah berada di atas sajadahnya masing-masing.


"Dinda kamu kenapa nak? kok pucat sekali?" melihat Dinda yang begitu pucat, Bu Tini segera menghampirinya.


"Nggak kok Bu' tadi cuman mual-mual sedikit, sekarang udah enggak." ucap Dinda menenangkan Bu Tini yang terlihat begitu khawatir. "Dinda ke kamar dulu yah Bu' mau mandi lalu sholat. Ibu' sholat berjamaah saja dulu, nanti Dinda sholat di kamar aja." Dinda meninggalkan tempat itu lalu menuju kamarnya untuk bersih-bersih lalu sholat Maghrib.


Di tempat berbeda, sudah ada Eric yang sudah mulai packing barang-barangnya.


"Jadwal penerbangan jam berapa?" tanya Eric saat Rian masuk ke kamarnya dengan membawa kopernya.


Eric memang berencana akan memberikan surprise untuk Dinda, dengan cara pulang tanpa memberitahunya. Eric juga sudah memesan satu set perhiasan mewah dengan design elegan dan classy. Saat perhiasan itu datang, dia akan mengungkapkan perasaannya, takutnya Dinda berfikir kalau ia marah karena Dinda telah mengungkapkan perasaannya. Setelah itu dia berencana akan menggelar konferensi pers untuk memperkenalkan Dinda sebagai istrinya di depan publik.


"Penerbangannya jam sembilan malam." jawab Rian.


"Berarti tidak lama lagi. Ayo gua juga udah selesai."

__ADS_1


"Liat dulu, siapa tau ada yang lu lupa." kata Rian mengingatkan.


"Nggak ada, kalaupun ada nanti di bisa di beli." ucap Eric sombong.


"Cih! sombong banget lu! Yah udah ayo!"


Setelah sholat isya berjamaah, Bi' Tini membawakan makanan ke kamar Dinda. Akhir-akhir ini Dinda memang jarang makan bersama dan membantu Bu Tini saat di dapur. Dinda lebih banyak menghabiskan waktunya dengan kantor dan kamar, bahkan dilihat dari tubuhnya jika ia kurang menjaga kesehatannya sendiri.


Tok...tok...tok...


"Dinda?? bisa ibu' masuk nak?" teriak Bu Tini dibalik pintu yang berbahan tripleks itu.


"Makan dulu yah, kita semua sudah makan tinggal kamu yang belum." ucap Bu Tini sambil meletakkan piring yang berisi nasi dan lauk itu di atas meja belajar Dinda.


"Iyya Bu, nanti Dinda makan kok." lalu melanjutkan lagi pekerjaannya.


"Dinda? bisa ibu' bertanya nak?"


"Boleh, memangnya ibu mau bertanya apa?"

__ADS_1


"Kapan nak Eric pulang dari bekerja?" tanya Bu Tini pelan-pelan, karena setiap kali ia bertanya soal Eric, Dinda tampak sedih dan tidak berminat membicarakannya.


"Enggak tahu Bu, mungkin masih lama di sana, karena lagi memantau proyeknya." kata Dinda.


"Ohh gitu. Ibu keluar dulu yah, jangan lupa makan nanti kalau sudah makan istirahat, jangan terlalu paksakan bekerja." nasihat Bu Tini sebelum meninggalkan Dinda di dalam kamar.


Sekitar satu jam Eric dan Rian menunggu di airport, akhirnya pesawat akan berangkat juga, berhubung sekarang memang sudah hampir jam sembilan malam. Hati Eric begitu tidak sabar ingin pulang, dia sudah sangat merindukan istrinya yang ia tinggalkan hampir satu bulan full. Selama di pesawatpun Eric tak henti-hentinya tersenyum sambil melihat foto Dinda yang tidur di dalam pelukannya, foto yang ia ambil dengan sengaja saat melihat Dinda tidur dengan pulas di dalam pelukannya.


"Apasih lu!? kesambet setan Singapura sampe senyum terus dari tadi?" ucap Rian yang menegur Eric.


"Nggak, gua cuman nggak sabar pengen sampe rumah."


"Ohh lu kangen banget ama Dinda?"


"Menurut lu?" tanya Eric balik.


"Dasar bucin!"


"Kalau lu punya istri, pasti akan bucin juga sama kayak gua." ucap Eric lalu melanjutkan menatap foto Dinda.

__ADS_1


__ADS_2