
Selesai menandatangani berkas yang dibawa untuk Eric saat itu juga Rian berpamitan pulang.
"Bagaimana jika aku mengirim orang untuk mengintai Dinda saja?" Eric berpikir akan mengirim seseorang untuk menjaga dan mengintai aktivitas Dinda di luar.
"Tapi bukannya aku tidak menyukainya? kenapa malah mau mengawasinya? harusnya itu bukan urusanku." Eric bingung dengan perasaannya sendiri.
Dinda baru saja sampai di kampus, ia berlari menuju ruang dosennya. Ketika di jalan tadi sangat macet karena Dinda memang menggunakan grab car.
Dinda hampir sampai di depan ruang jurusan, tiba-tiba saja dari arah berlawanan ada pria yang berjalan sambil menelfon yang menabraknya.
"Astaga, maaf maaf, saya tidak sengaja tadi." ucap Dinda yang panik saat melihat ponsel pria itu tergeletak di lantai.
"Makanya kalau jalan lihat ke depan pake mata dong, liat nih ponsel gue sampe pecah." pria itu marah-marah saat mengambil ponselnya yang layarnya sudah pecah.
"Maaf saya benar-benar tidak sengaja tadi." ucap Dinda sudah melihat pria di depannya.
"Bisa ganti nggak, mana banyak data-data yang penting di..." pria itu menghentikan ucapannya saat melihat gadis yang baru saja bertabrakan dengannya.
"Maaf, saya akan ganti, tapi kasi waktu dulu, sekarang saya tidak bawa uang." Dinda tidak membawa uang lebih sekarang, meski begitu uang yang di rekening Dinda memang tidak seberapa, karena sudah dipakai sebagian untuk bayar uang tanah panti.
"Tunggu-tunggu, dia gadis yang di pesawat itu kan? yang bapaknya galak banget?"ucap pria itu dalam hati sambil terus memandangi Dinda.
"Saya pergi dulu saya janji akan menggantinya segera, permisi." Dinda langsung berpamitan dan berlari meninggalkan pria itu, dia sangat buru-buru.
"Hei tunggu dulu." pria itu baru tersadar setelah Dinda sudah berlalu meninggalkannya, dia baru ingin menanyakan nama gadis itu.
"Bah ternyata dia kuliah di sini juga? hah, jika jodoh mah tuhan akan selalu mendekatkannya, lihat dia aku tidak mencarinya tapi dia sudah ada di depanku tadi." ucap pria itu dengan percaya dirinya sambil tersenyum sendiri.
"Baiklah hari Senin nanti akan aku cari kamu, sekarang kamu boleh lari tapi kedepannya tidak akan." pria itu sangat bertekad untuk mencari Dinda kembali untuk mendekatinya, karena sekarang ia harus pulang ke rumahnya bertemu mama dan papanya.
Dinda keluar dari ruang jurusan dengan lega, hampir saja dosen yang mengajarkan mata kuliah itu pergi.
"Untung saja masih sempat ngumpulinnya." ucapnya lega.
Di rumah sendiri Eric tengah bersantai di ruang tamu sambil menonton film di Netflix. Eric memang sedang menonton tapi pikirannya tidak tertuju pada film, melainkan pada perkataan Rian tadi.
"Hah aku harus mengecek dulu dimana kampusnya." Eric menantikan tv besar itu lalu menuju ruang kerjanya.
"Rian perintahkan satu orang untuk menyelidiki di mana Dinda kuliah." isi chat Eric pada Rian.
__ADS_1
Ting...
Suara pesan masuk di ponsel Rian.
"Siapa sih nggak tahu apa lagi waktunya santai-santai." Rian meninggalkan tempatnya dengan lesu untuk mengambil ponselnya yang di charger di atas meja.
"Hahaha, takut juga lu kalau Dinda sampe diliatin mata pria-pria di luar sana." Rian tertawa melihat isi pesan sahabatnya yang gengsi dan arogan itu.
"Iyya, nanti gue suruh seseorang, tenang aja."
Eric langsung membaca isi pesannya karena tidak sabar mengetahui kampus Dinda.
"Ck bukan nanti tapi sekarang gua butuh secepatnya informasi itu."
"Hah Iyya tunggu bentar."
Tidak butuh waktu lama untuk Rian mendapat informasi yang di cari, dia sudah menemukan apa yang di carinya.
Ting..
"Universitas Bina Nusantara, di sana Dinda kuliah melalui jalur Bidikmisi." Eric sudah membacanya karena Eric dari tadi menunggu kabar tanpa melepas ponselnya.
Eric segera mencari tentang kampus itu, dia berencana ingin menjadi donatur untuk kampus itu.
Di tempat lain Dinda sudah sampai di toko roti Bu Suzan.
"Assalamualaikum Bu'." sapa Dinda ketika melihat Bu Suzan sudah ada di dalam ruangannya.
"Ehh Dinda kamu udah dateng." Bu Suzan berdiri lalu berlari kecil memeluk Dinda.
"Baru aja kok Dinda datangnya Bu'. "jawab Dinda .
"Udah lama banget kita nggak ketemu, sini duduk dulu." Bu Suzan menarik tangan Dinda duduk di sofa.
"Kamu apa kabar? Suami kamu baikkan sama kamu?"
"Iyya Bu' dia baik kok." jawabnya bohong.
"Oh Iyya Bu' kapan Dinda boleh bekerja?" tanyanya, karena sudah lama dia tidak masuk bekerja akhir-akhir ini.
__ADS_1
"Tapi keluarga suami kamu ngizinin kamu nggak buat kerja? takutnya nanti mereka malah marah karena menantunya bekerja di toko roti." inilah yang di pikiran bu' Suzan, jika sampai keluarga suami Dinda tahu kalau Dinda bekerja di sini mungkin mereka akan marah karena mereka dari keluarga terpandang lalu menantunya bekerja di toko-toko kecil.
"Nggak kok Bu' mereka nggak akan marah lagian kan Dinda kerja halal kok."
"Iyya memang halal tapi kamu harus tahu kalau keluarga Suami kamu itu bukan keluarga biasa mereka bisa saja menutup toko roti Ibu' kalau sampe tahu kamu bekerja di sini" Bu Suzan berkata dengan lesu memikirkan hal yang belum terjadi itu.
"Dinda jamin kok Bu' mereka nggak akan marah, lagian Dinda harus bekerja buat bantu Bapak sama Ibu di panti." Dinda tidak tega harus melihat keluarganya di panti makan seadanya lalu dia makan enak, walaupun selalu makan sendiri juga.
"Kasian keluarga Dinda di panti kalau mereka hanya bergantung pada penghasilan bapak yang dari bengkel." jujur Dinda.
"Ya sudah kamu boleh kok kerja lagi di sini, tapi kalau keluarga suami kamu belum tahu, tanya mereka secepatnya yah." saran Bu Suzan yang diangguki Dinda.
"Dinda ganti baju dulu ya Bu' lalu langsung bantu yang lain."
"Iyya."
Dinda sudah selesai mengganti bajunya dan memakai apron khusus untuk pelayan.
"Hai Dinda kenapa baru masuk sekarang? kita sampe kewalahan dengan pelanggan." ucap Risa salah satu teman kerjanya di toko roti.
"Iyya nih Ric, aku baru bisa masuk sekarang karena ada ujian di kampus."bohong Dinda.
setelah berbincang-bincang dengan sesama pekerja mereka kembali mengerjakan tugasnya, hingga tak terasa waktu pulang telah tiba.
"Din, aku pulang duluan yah ojek onlinenya udah dateng, dahh." pamit Risa lebih dulu.
"Dahh."
Dinda juga sudah datang ojek yang dipesannya lalu pulang ke rumah.
Jam 17:30 Dinda baru sampai di rumah, dengan keadaan yang sangat lelah bekerja seharian.
"Assalamualaikum." ucap Dinda pelan masuk ke rumah lewat pintu bagian dapur karena takut ketahuan Eric jika dia pulang terlambat.
"Dari mana saja kau??"tiba-tiba suara bariton itu menghentikan langkah Dinda yang baru akan masuk ke dalam kamar.
*****
Like, coment and vote guyss. 🖤❤️
__ADS_1