Milik CEO Muda

Milik CEO Muda
Meminta Hak.


__ADS_3

"Ck, hahhh!!" Papa Leo melempar berkas yang diberikan Leo barusan padanya.


"Kenapa mereka menolak ajuan suntikan dana perusahaan kita? bahkan penawaran kita juga sudah sangat memuaskan!" ucap papa Leo dengan emosi yang memuncak.


"Yah mana ku tau paa.." Leo hanya pasrah dimarahi ayahnya, dia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Leo juga sudah meminta bantuan pada Papa Naura tapi, dia juga tidak bisa membantu karena, hubungan Papa Naura sudah renggang dengan keluarga Eric semenjak kejadian itu.


"Pokoknya kau harus melakukan sesuatu Leo kalau tidak perusahaan kita akan bahaya." papa Leo duduk di kursi kebesarannya sambil memikirkan cara mendapat suntikan dana dari Pratama Group.


"Aku keluar dulu Pah." Leo-pun kembali ke ruangannya memikirkan cara yang akan dilakukan agar bisa secepatnya mendapatkan bantuan dana.


Hari ini Dinda akan ke panti asuhan setelah pulang kantor, dia semalam sudah berjanji pada adik-adiknya untuk membelikannya martabak manis karena, dia sudah menerima gaji pertamanya setelah bekerja di Pratama Group.


"Mas, pulang nanti Dinda mau singgah ke panti sebentar, boleh?" Dinda mengirim pesan itu setelah sholat ashar di mushola kantor.


Eric juga yang baru selesai sholat ashar di ruangan khususnya, meraih ponselnya di atas kasur karena mendengar bunyi tanda pesan masuk.


"*Kau ingin bermalam?"


"Tidak Mas, Dinda cuman mau beliin martabak untuk adik-adik di panti karena, Dinda udah janji kalau udah nerima gaji bakal beliin mereka martabak." balas Dinda secepat kilat, karena memang Dinda masih memegang ponselnya.


"Baiklah, tunggu aku saja di panti, nanti aku juga akan singgah sekalian menjemputmu."


"Iyya Mas, Dinda tunggu di panti. Dinda juga sebentar lagi akan selesai ini." balas Dinda*.


Setelah melipat mukena yang habis di gunakannya, Dinda kembali ke meja kerjanya sendiri. Sima memang tidak bersama Dinda sholat karena, setelah Dinda selesai haid kini giliran Sima yang dapat tanggal merah.


"Udah selesai?" tanya Sima menghampiri sahabatnya itu dengan mendorong tubuhnya menggunakan kursi kerjanya sendiri.


"Udahlah Sim, ya kali aku ke sini tapi belum selesai." ucap Dinda disertai gelengan kepala mendengar pertanyaan sahabatnya itu. Terkadang dia bingung dengan Sima karena sering bertanya hal-hal yang tidak masuk akal.


"Dengar kau masih ada hutang denganku yahh.., Kau belum menceritakan kenapa semalam pak Eric bisa menjemputmu!" ucap Sima dengan serius, pasalnya dari tadi dia bertanya pada Dinda tentang kejadian semalam tapi, Dinda malah seakan-akan mengalihkan topik pembicaraan, sampai tak terasa jam istirahat telah berakhir.


"I-iyya aku akan ceritakan tapi lain kali yah!?" ucap Dinda dengan pelan takut ada yang mendengar.


"Bukan lain kali tapi kalau bisa besok!"


"HEII!! JANGAN BERGOSIP, KEMBALI BEKERJA!!" ucap karyawan senior yang menegurnya dari depan.


"Iyya kak, maaf.." ucap Dinda dan Sima bersamaan lalu melanjutkan pekerjaannya kembali.


Pulang dari kantor, Dinda singgah ke kedai yang menjual martabak manis, ia membeli beberapa bungkus karena mereka juga banyak di panti jadi, dia menyesuaikan dengan itu.

__ADS_1


"Ini mbak." ujar penjual yang menyerahkan martabak ke depan Dinda.


"Oke. Ini uangnya, terima kasih Mbak." Dinda meninggalkan tempat itu lalu naik ke dalam angkot untuk ke panti.


"Assalamualaikum.."


"Wa'alaikumsalam. Kakak..." saat membuka pintu dan ternyata yang datang adalah Dinda, Ina menghambur memeluk Dinda walaupun hanya memeluk pahanya karena tubuh Ina yang masih kecil.


"Heii, apa kabar?? mana yang lain?" Dinda menekuk kakinya untuk menyamakan tingginya dengan Ina.


"Ina baik, yang lainnya ada di dalam, dari tadi kita tungguin kakak datang tapi, sangat lama."


Ina menarik tangan Dinda masuk ke dalam rumah...


"Kakak..." semua anak-anak panti berlari ke arah Dinda lalu memeluknya walaupun baru pekan lalu Dinda berkunjung tapi, tetap saja mereka merindukan kakaknya itu lagi.


"Hati-hati itu kak Dinda-nya hampir jatuh loh.." tegur pak Bahar karena melihat Dinda hampir terjatuh akibat serangan anak-anak.


"Ayo kita ke sana duduk, ini martabaknya sudah kak Dinda beli." Dinda pergi ke tempat yang luas lalu membuka satu-satu bungkus martabak itu dibantu oleh Bu Tini.


Setelah semuanya terbuka, semua anak-anak duduk melingkari makanan itu, lalu makan dengan tentram.


"Kak Dinda akan bermalam kan?" tanya Ina yang memang duduk di dekat Dinda.


"Yaaahh.." ucap Ina dengan lesu.


PIIP..PIIIP (anggap saja bunyi klakson, nggak tahu bunyi klakson gimana..)


"Itu yang datang Kak Eric!" ucap Rian yang mengintip dari jendela.


Tok..tok..tokk..


"Assalamualaikum.."


"Biar Rian yang buka." Rian berlari ke arah pintu lalu membukanya.


"Wa'alaikumsalam.."


"Haii!! kak Dinda mana?" sapa Eric sambil mengelus kepala Rian yang jauh lebih pendek darinya.


"Ada di dalam kak." Eric mengikuti langkah Rian sampai ke ruangan dimana semuanya berkumpul.

__ADS_1


"Assalamualaikum.."


"Wa'alaikumsalam.., duduk nak." ucap pak Bahar.


Semuanya berkumpul makan martabak sambil mengobrol banyak, hingga tak terasa sudah masuk waktu sholat Maghrib.


"Nak sebaiknya kalian sholat saja dulu lalu pulang." saran pak Bahar.


"Iyya Pa'! kita mau kok sholat Maghrib dulu lalu pulang."


Mereka sholat berjamaah di ruang tengah, setelah sholat Eric dan Dinda sudah bersiap pulang kembali ke rumah.


"Semuanya, kita pulang dulu yah.., lain kali Dinda ke sini lagi."


"Iyya Nak."


"Assalamualaikum.."


"Wa'alaikumsalam.." ucap semuanya.


Di dalam perjalanan pulang, Eric dan Dinda tidak bicara, sebab Eric mau bicara dengan siapa jika lawan bicaranya itu sudah tidak sadarkan diri lagi semenjak naik ke dalam mobil.


"Hah.., tidur lagi..tidur lagii.." Eric meraih tangan Dinda yang di atas pahanya lalu menciumnya dengan lembut dengan pandangan tetap ke depan memerhatikan jalan.


Setelah sampai di rumah, Dinda masih belum bangun. Eric ingin membangunkannya tapi, dia juga tidak tega saat melihat wajah yang terlihat lelah itu. Akhirnya dia memutuskan mengangkat Dinda saja masuk ke dalam rumah dengan ala bridal style.


Eric merebahkan tubuh Dinda dengan sangat pelan, lalu membuka pakaiannya juga. Waktu sudah menunjukkan jam delapan tiga puluh, jadi Eric ingin mandi terlebih dahulu lalu sholat isya.


"Mmhh.." Dinda menggeliat dalam tidurnya lalu membuka matanya dengan perlahan.


"Kenapa bangun??" Eric menghampiri Dinda lalu mengelus pipinya.


"Mas yang angkat Dinda ke sini?"


"Iyya, Mas nggak tega membangunkanmu tadi."


"Mas mau mandi?" tanya Dinda melihat Eric yang mengambil handuk.


"Iyya, kenapa mau ikut mandi bareng?" ucap Eric yang menggoda Dinda.


"Ihh Mas, nggak Dinda mandi nanti saja setelah mas selesai."

__ADS_1


"Kamu udah selesaikan haidnya? Bisakan malam ini Mas minta hak-nya Mas?" bisik Eric tepat di depan wajah Dinda yang sudah memerah mendengar permintaan Eric.


__ADS_2