Milik CEO Muda

Milik CEO Muda
Hidup yang Lebih Berwarna.


__ADS_3

Malam ini Eric baru pulang sekitar jam sebelas lewat dua puluh menit. Eric memang lembur gara-gara proyek yang di Singapura akan selesai, jadi dia membantu menyelesaikan laporan akhirnya. Ditambah ada lagi pengajuan berkas bantuan dana dari Wijaya group, perusahaan yang dinaungi oleh Leo. Ini sudah ke-dua kalinya perusahaan itu mengajuan bantuan dana.


"Assalamualaikum.." Eric membuka pintu utama dan setelah terbuka melangkah masuk mencari keberadaan sang istri.


"Dinda.." Panggil Eric yang tak mendapat balasan.


Eric mengedarkan pandangannya di dalam yang mewah itu dan pandangannya singgah di ruang tengah yang terdapat istrinya sedang tertidur pulas.


"Astaga, kenapa tidur di situ?" ucapnya sambil menggelengkan kepalanya dan menghampiri Dinda yang tengah tertidur di atas sofa.


"Ck.. kenapa tidak ke kamar saja pergi tidur." Eric meletakkan jas-nya di atas sandaran sofa, lalu mengangkat Dinda untuk ke kamar. Tapi, baru beberapa langkah, tidur Dinda terusik sehingga ia membuka matanya perlahan dan kaget melihat Eric mengangkatnya.


"Mhh..Mas dari tadi datangnya?" tanya Dinda setelah matanya terbuka dengan sempurna.


"Nggak, ini baru aja kok." ucap Eric sambil terus menaiki anak tangga.


"Mas turunin Dinda." pinta Dinda karena melihat wajah sang suami yang tampak lelah sehabis dari kantor. Namun Eric tidak mengabulkan permintaan Dinda, melainkan terus berjalan sampai kamar.


"Tidurlah kembali ini sudah sangat larut."


"Mas udah makan?" bukannya menuruti ucap Eric Dinda malah bertanya setelah duduk di atas kasur.


"Sudah tadi, mas makan sama Rian." Dinda hanya mengangguk menanggapi Eric.


"Mas mau mandi? Dinda siapin airnya dulu sebentar." Eric memang ingin mandi sebentar lalu tidur, karena badannya terasa sudah sangat lengket.


"Nggak sekalian mandiin mas?" goda Eric sambil menaik-turunkan alisnya membuat Dinda menggeleng cepat.


"Nggak!!" jawab Dinda cepat lalu ke kamar mandi menyiapkan air untuk Eric.


Hari ini Juna mendapat utusan membawakan presentasi proyek di Pratama Group, namun dia belum tahu jika perusahaan itu adalah perusahan yang di pimpin oleh Eric, suami dari gadis yang selalu ia incar.


"Kak Leo, aku pergi berdua dengan Jef?"


"Iyya kalian hanya pergi berdua, usahakan presentasinya lakukan dengan maksimal, agar Pratama Group bisa tertarik untuk membantu perusahaan kita.

__ADS_1


"Baiklah." Juna keluar ruangan Leo lalu ke ruangan Jefri untuk memanggilnya.


"Jef.., ayo pergi sekarang." panggil Juna setelah sampai di dalam ruangan Jefri.


"Baru jam delapan ini, nggak kepagian?" ucap Jefri sambil melihat jam tangan yang melingkar di tangannya.


"Ya udah nanti kita pergi setelah jam sembilan." Juna kembali ke ruangannya mengerjakan beberapa berkas sambil menunggu jam sembilan.


Pagi ini Eric agak telat ke kantor, karena memang jadwal meeting yang dikirim Lula semalam baru akan dimulai saat jam sepuluh.


"Mas bangun ini sudah jam delapan." Dinda yang sudah membuat sarapan harus kembali ke kamarnya untuk membangunkan Eric yang masih anteng tidur di bawah selimut tebalnya.


"Mass..banguuun...aku mau ke kantor, Sima udah nelfon aku." Dinda menarik selimut itu hingga memperlihatkan badan Eric yang tak mengenakan baju. Itu memang kebiasaan Eric setelah beberapa hari terakhir ini, dia membuka bajunya lalu menarik Dinda ke dalam pelukannya, baru tidurnya akan terasa nyenyak.


"Mmhh, nanti saja ke kantornya ini masih pagi." ucap Eric dengan malas.


"Siapa bilang ini masih pagi mas, ini sudah jam delapan."


Dinda dengan sekuat tenaga menarik Eric hingga terduduk.


"Ya sudah Dinda pergi duluan saja. Dinda mau ngerjain berkas yang di berikan pak David, kasian Sima ngerjain sendiri nanti." Dinda berusaha membuka pelukan Eric yang semakin erat sambil menenggelamkan wajahnya di celuk leher Dinda yang terekspose.


"Wanginya.." ucap Eric sambil memberikan tanda di leher Dinda.


"Mas mandi dulu sana." perintah Dinda yang tidak membuat Eric bergerak sedikitpun dari posisinya.


"Mas jangan, nanti ada yang lihat di kantor." Dinda mencoba mendorong dada bidang Eric untuk menghentikan aksinya, namun hasilnya tetap nihil.


"Mas udah, lepasin Dinda!" Eric mengangkat wajahnya dari posisinya tadi lalu menatap Dinda dari bawah.


"Mas mandi sana, air udah siap dari tadi."


"Baiklah, tapi satu morning kiss-nya dulu dong." Dinda dengan malas mengecup pipi kanan Eric.


"Bukan yang itu, tapi yang ini.." Eric mencium bibir Dinda dengan rakusnya sampai membuat Dinda hampir kehabisan nafas mengimbangi suaminya itu.

__ADS_1


"Udahkan. Sana mandi dulu." Eric dengan malas melepaskan pelukannya dari pinggang sang istri lalu melangkah gontai menuju ke kamar mandi.


Selesai mandi dan memakai pakaian yang sudah di siapkan Dinda di atas tempat tidur, Eric ke bawah untuk segera sarapan.


"Loh, kamu udah sarapan?" ucap Eric melihat Dinda sudah minum susu.


"Udah Mas, ini Dinda udah mau ke kantor."


"Nggak, tunggu dulu kita pergi sama-sama." Eric mengambil kunci mobilnya di tempat biasa lalu ke depan Dinda yang berdiri dekat sofa.


"Mas nggak sarapan dulu?" tanya Dinda.


"Kamu buru-burukan mau ke kantor? ya udah ayo pergi nanti mas sarapan di kantor saja."


"Tidak! Mas sarapan di sini. Sana mas makan dulu Dinda tungguin di sini."


"Temani mas sarapan di sana, yok!" entah kenapa Eric akhir-akhir ini jika ingin melakukan sesuatu pasti harus di temani oleh Dinda. Dia seakan-akan malas mengerjakan sesuatu jika tidak bersama Dinda, contohnya seperti sarapan, dia malas untuk sarapan sendiri di meja makan.


"Hufft, ayo Dinda temani." Eric mengekor sambil tersenyum senang.


"Mas mau nasi goreng atau pancake?" tanya Dinda yang memang membuat dua menu sarapan pagi ini.


"Nasi goreng aja, tapi pancake-nya mas mau bawa ke kantor." Eric juga yang tidak pernah membawa bekal ke kantor, tapi sekarang dia hampir setiap hari ingin membawa bekal ke kantor, karena dia sangat menyukai masakan hasil dari tangan Dinda.


"Baiklah, ini nasi gorengnya, Dinda ambil kotak makan dulu." Dinda mengambil kotak makan berwarna hitam yang selalu dia gunakan jika Eric meminta di buatkan bekal.


Eric merasa hidupnya lebih berwarna ketika hadirnya Dinda di kehidupannya, meskipun saat awal pernikahan dia selalu membuat Dinda menderita dan memarahinya, tapi itu dulu sekarang sudah hilang. Hanya saja di tengah-tengah ke- harmonisan itu, mereka belum ada yang menyatakan cinta.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh para reader's....


Maaf yahh akhir-akhir ini jarang update, sering dalam dua hari ataupun tiga hari baru bisa update. Sekarang author memang sangat sibuk belajar buat ujian finall, makanya selalu lambat..


Ujian finalnya sudah mulai dari hari Senin, dan Sabtu baru selesai. Maaf banget kalau kalian nunggunya lama bangett yahh🙏🙏.

__ADS_1


Tapi setelah selesai ujian akhir author


__ADS_2