Milik CEO Muda

Milik CEO Muda
Makanan Kesukaan Eric.


__ADS_3

Suara azan berkumandang di masjid terdekat kediaman Keluarga Pratama telah membangunkan Dinda yang sangat lelap tertidur. Jangan tanya mengapa Dinda bisa lelap tidur di sofa? bukannya tidur di sofa membuat badan menjadi pegal, itu karena Dinda sudah terbiasa tidur di tempat yang sempit saat di panti dan terlebih badan Dinda memang mungil.


Dinda segera menuju kamar mandi, sudah menjadi kebiasaan Dinda mandi sebelum melaksanakan sholat subuh. Keluar dari sana Dinda segera membangunkan laki-laki yang tidurnya tampak sangat pulas.


Dia sebenarnya takut untuk membangunkan Eric, mengingat semalam Eric telah melontarkan banyak kalimat-kalimat yang sangat menyakitkan, tapi itu mau bagaimana lagi ini sudah kewajibannya untuk membangunkan suaminya sholat.


"Mas bangun, ayo kita sholat berjamaah."panggil Dinda tapi tidak mendapat respon sama sekali.


"Mas waktu subuhnya nanti habis jika Mas lambat bangun." sekarang Dinda menggoyangkan sedikit lengan kekar itu dan dia berhasil membangunkan Eric.


"Berani sekali kau menyentuh ku, lagi pula aku bisa bangun sendiri tanpa kau bangunkan." Eric tiba-tiba langsung bangun dan membentak Dinda yang berdiri di depannya.


Dinda sangat kaget, sampai-sampai dia memundurkan badannya sedikit dan menghimpit lemari dibelakangnya.


"M-mas, Dinda membangunkan mas untuk sholat subuh berjamaah tadi. M-maaf jika Dinda mengganggu tidur Mas." suara Dinda terbata-bata sangking kagetnya mendengar bentakan Eric tadi.


"Tidak usah membangunkan ku lain kali untuk sholat berjamaah, aku tidak ingin meng-imami mu,"


"Dan kau tau jika hal yang kau lakukan barusan mengganggu ku, kenapa kau masih melakukan nya bodoh." sambung Eric sambil berlalu di depan Dinda menuju kamar mandi.


Setelah sholat subuh, Dinda turun ke bawah. Dinda berniat untuk membuat sarapan pagi ini, tapi dia bingung ingin membuat sarapan apa. Makanan yang biasanya dia buat di panti hanya nasi goreng, telur dadar beserta kerupuk, tapi di sini bukanlah panti melainkan rumah Suaminya .


Lama Dinda berpikir di depan kompor, tanpa dia sadari sudah ada mama Eric dibelakangnya.


"Nak kau mau apa di depan kompor."tanya Mama Eric yang sontak membuat Dinda kaget .


"Astagfirullah, eh Bu Hasna, Dinda tadi ingin memasak." jawab Dinda setelah membalikkan badannya.


"Dinda, jangan panggil Bu Hasna lagi yahh, panggil Mama saja lagian kamu itu menantu Mama sama saja kau itu Putriku , paham?" jelas Mama Eric.

__ADS_1


"Iyya Ma, maaf."


"Tidak apa-apa sayang."sambil mengelus rambut panjang Dinda yang terurai.


"Ma, Dinda mau masak tapi Dinda bingung mau masak apa."jujur Dinda pada Mama mertuanya.


"Terserah kamu saja sayang mau masak apa, semuanya kita makan kok di sini."jawab Mama Eric.


"Kalau di panti Dinda hanya memasak nasi goreng dan telur dadar untuk sarapan, tapi jika di sini Dinda tidak tahu harus masak apa."


"Sebenarnya Eric tidak suka sarapan yang terlalu berat di pagi hari, biasanya mama hanya membuatkannya pancake dan susu coklat."


"Atau hari ini biar Mama saja dulu memasak , kamu liat aja mama dulu yah sambil belajar apa yang Eric suka dan tidak suka, besok kamu baru masak, oke?" saran mama Hasna


"Iyya ma, Dinda liat aja dulu, besok baru Dinda yang masak."Dinda setuju dengan saran mamanya.


"Papa kalau pagi hari, biasanya makan nasi plus telur ceplok, dari dulu Papa emang sukanya itu. Biasa juga cuma roti isi selai nanas, Papa sangat suka dengan buah nanas."Mama Hasna bercerita tentang makanan kesukaan suaminya sambil mengaduk adonan untuk pancake.


"Kalau Eric emang dari dulu nggak suka makanan yang terlalu berat kalau pagi, dia hanya makan pancake yang dilumuri dengan madu atau coklat, minumnya Eric tidak bisa jika bukan susu coklat, tapi jika tidak ada yang coklat, susu putih juga Eric minum kok, cuman dari dulu Eric memang terlalu suka dengan susu coklat." Dinda tertawa mendengar cerita mamanya, dia berpikir Eric masih seperti anak kecil suka minum susu.


Sambil berbincang-bincang tidak terasa pancakenya sudah jadi, Dinda segera membawanya ke meja makan dan menata semua yang telah di masak oleh mertuanya.


Selesai semua makanan tertata di meja makan, Eric turun yang di susul papanya. Semuanya mengambil tempat masing-masing dan Dinda bingung harus duduk dimana.


"Dinda duduk si samping Eric saja sayang."perintah Mamanya yang diangguki oleh Dinda.


"Ma, Pa, nanti setelah Eric pulang dari kantor kami akan ke rumah kami." Eric memang memutuskan untuk tinggal di lain rumah jika sudah menikah, Eric tidak bisa terus berpura-pura saling menyukai dengan gadis di sampingnya, jika mereka di rumah sendiri, Eric lebih tenang sedikit.


"Loh kok cepat banget sih Eric, bermalam lah beberapa hari lagi."Mamanya tentu saja tidak setuju dengan Eric, secara dia masih ingin dekat dengan menantunya itu.

__ADS_1


"Sudahlah Ma biarkan saja jika itu keputusan mereka, Mama ini tidak ngeri saja dengan pengantin baru." goda Papanya yang tentu saja membuat Dinda malu tapi Eric justru kesal dengan godaan Papanya.


"Ya sudah Eric berangkat dulu." Eric langsung berdiri dari tempatnya dan bersiap akan keluar rumah , tapi Dinda menyusul Eric di belakang .


"Mas." panggil Dinda dengan mengulurkan tangannya di depan Eric, Eric hanya melihat tangan itu tanpa berniat sedikit pun menyentuhnya.


"Siapkan semua barang mu karena kau akan lama tidak ke sini nanti." ucap Agra seperti biasa dengan nada dinginnya.


"Iyya Mass"jawab Dinda setelah Eric berbalik.


Eric sudah meninggalkan kediamannya. Jarak antara kediaman keluarga Pratama dengan kantor memang terhitung lumayan dekat, hanya butuh beberapa menit untuk sampai.


Saat Eric sampai di depan kantor, dia langsung memberikan kuncinya kepada satpam yang bertugas. Eric masuk ke dalam kantor.


"Selamat pagi Pak. " ucap para karyawan yang hanya di dengar Eric tanpa ada niatan untuk membalas sapaan karyawannya.


Eric naik ke lantai dua belas melalui lift khusus untuk CEO, saat Eric masuk ke dalam ruangannya yang luasnya jauh lebih besar dari kamarnya.


"Oii Ric , dah sampe luhh." seperti biasa pagi-pagi Eric harus menghadapi satu manusia tidak sopan ini.


"Kenapa lagi kau, apa punya masalah lagii?" tanya Eric yang langsung mendapat ledekan dari Rian.


"Ya elah pengantin baru kok udah masuk kerja aja sihh? marah-marah pula, bukannya di rumah menemani istri kek." ledek Rian yang membuat pensil di depan Eric melayang di depannya.


"Eeh, santai dong bro, sabar, kenapa pagi-pagi emosi aja sih , kayak belum dapat jatah dari istri aja lu." Rian benar-benar tidak ada kapoknya selalu meledek Eric.


"Kalau kau ke sini hanya ingin mengatakan itu , sebaiknya kau pergilah ke ruangan mu sendiri ,


mood ku hancur hari ini." moodnya dihancurkan saat Papanya tadi mengatakan pengantin baru yang ingin berduaan , sedangkan Eric melihat Dinda saja sudah sangat muak apalagi sampai berduaan , dia sangat jijik. Entah mengapa Eric jijik melihat Dinda , padahal Dinda bukan tergolong gadis yang kotor .

__ADS_1


Like , coment , and vote guyss🖤❤️


see you tomorrow reader's!!!


__ADS_2