
Hari ini sudah terhitung dua malam dua hari Dinda menginap di panti, Ina juga sudah mulai sehat seperti semula.
"Pak, Dinda rencana udah mau pulang nanti sore." ucap Dinda.
"Kok cepat pulangnya Nak?" ucap Dinda tiba-tiba datang menemui Pak Bahar meminta izin.
"Emh, buku Dinda ada di rumah, Ina juga udah mulai baikan Pak." alasan Dinda.
Rencananya setelah dari kampus, Dinda mampir di toko roti dulu lalu pulang ke rumah.
Dinda takutnya saat sampai di rumah Eric marah karena bermalam terlalu lama.
Dinda masuk ke dalam rumah setelah meminta izin kepada Pak Bahar untuk mengambil barang-barangnya. Dia juga sudah berpamitan pada Ibu dan adik-adiknya didalam.
"Semuanya, Dinda pulang dulu yah, lain kali Dinda ke sini lagi." ucap Dinda yang memakai tas ranselnya.
"Kakak cepat kembali yahh.." ucap Ina kencang.
"Iyya dek, Kakak akan kembali lagi secepatnya, oke?"
"Assalammualaikum." Dinda melambaikan tangannya saat sudah berjalan meninggalkan rumah.
"Wa'alaikumsalam." jawab semuanya.
Dinda hanya jalan kaki keluar dari lorong rumahnya, nanti didepan dia naik angkot ke kampusnya.
Sedangkan pagi ini Eric sarapan dibuatkan oleh Bi Sum. Sejak kemarin Eric sudah mulai resah karena Dinda belum kembali juga, dia ingin menelpon tapi tidak punya kontak Dinda di ponselnya.
"Kapan dia pulangnya? jangan bilang dia sengaja lama di sana karena menghindari pekerjaannya di rumah ini?" Eric mulai berpikir buruk lagi tentang Dinda.
"Hah, kalau sampai dia benar menghindari pekerjaannya akan ku berikan hukuman saat dia pulang nanti." ucap Eric lalu meninggalkan sarapannya.
Eric juga sudah berangkat ke kantor lebih awal karena ada jadwal meeting penting pagi ini.
Baru saja Eric sampai di dalam ruangannya sudah ada Rian yang masuk menerobos.
"Ehh udah dateng." ucap Rian langsung duduk di sofa ruang kerja Eric.
"Lu pikir gue hantu apa hah? lu pikir ini bayangan gue doang yang ke kantor?" Eric malah menjawab dengan sewot.
"Kenapa sih lu nggak pernah ngomong lembut ke gua, sekali-kali santai dong kalo di tanya." protes Rian.
__ADS_1
"Ck, hahh, ada apa?"
"Nah gitu dong jawabnya santai dan lembut." Rian nyengir melihat Eric.
"Sini, ngobrol dulu lalu pergi meeting." Rian menepuk sofa tunggal di sampingnya.
"Gimana rasanya udah nikah??" tanya Rian spontan saat Eric sudah duduk.
"Nggak ada rasa apa-apa!" jawab Eric ketus.
"Lu belum ngerasain apa-apa sama Dinda?"
"Nggak usah sebut nama itu!"
"Lah kenapa? masa Iyya gua sebut nama Naura, kan istri lu Dinda." Rian menjawab dengan bercanda.
Ngomong-ngomong soal perasaan Eric ke Naura, Eric sudah mulai melupakan sosok perempuan yang mengkhianatinya itu, entah kapan perasaan itu telah memudar, Eric juga tidak tahu.
"Lu kenapa sih Ric? gua sebut nama Dinda aja lu sampe marah-marah. Lu segitu bencinya sama istri lu?" pertanyaannya itu membuat Eric bungkam dengan tatapan kosong.
"Kenapa diam? udah deh Ric, lu coba aja buka hati, yang sakitin lu itu Naura bukan Dinda." saran Rian.
Eric memang sudah menutup rapat-rapat hatinya setelah hubungannya dengan Naura selesai, dia bahkan sudah tidak tertarik membangun hubungan dan kembali fokus dengan perusahaan.
"Hahaha, jangan ngomong gitu, nanti lu ditinggalin baru nangis." Rian menertawakan sahabatnya yang dingin dan arogan itu.
"Nggak bakalan, Mama ngejodohin aku sama anak temannya yang sekelas model terkenal gua nggak mau, apa lagi modelan seperti gadis itu." ucapnya sombong.
"yayaya, gua berharap ucapan lu terkabul yahh.." Rian yakin Eric sudah melupakan Naura karena kehadiran Dinda.
Menurut Rian, Dinda akan mengubah sikap Eric yang semakin dingin dan arogan setelah dikhianati oleh Naura, hanya saja masih butuh waktu lagi untuk itu.
"Ayo, nanti kita terlambat." ajak Rian.
"Ini pak uangnya." Dinda memberikan uang pada sopir angkot langganannya.
"Makasih Neng."
"Iyya Pak."
Dinda masuk ke arah kampus sendiri. Tanpa diketahui Dinda seseorang sudah menunggu kedatangannya dari tadi.
__ADS_1
"Nah, itu dia kan?" tunjuk Juna ke arah Dinda.
Ya orang itu adalah Juna, dia dari tadi menunggu kehadiran perempuan yang dikaguminya itu di tempat parkir.
"Hai!!" sapa Juna membuat langkah Dinda terhenti.
"Masih ingat aku??" tanya Juna saat melihat raut wajah Dinda yang seolah tidak mengenalnya, padahal mereka sudah dua kali bertemu.
"Oh kamu yang aku tabrak kemarin itu?" tanya Dinda baru mengingat orang didepannya.
"Yah, tepat sekali tapi sebelum itu kita sudah bertemu, kamu ingat?" pertanyaan itu semakin membuat Dinda berpikir keras mengingat dimana mereka berjumpa.
"Tidak, aku tidak ingat." jawab Dinda.
"Aishh..."
"Oh Iyya ponsel kamu yang jatuh itu rusak?" tanya Dinda pelan.
"Yah, pecah aja sih, tapi tidak apa-apa kalau kamu yang mecahin ponselku." niat Juna ingin menggombal Dinda tapi bagi Dinda itu sangat tidak nyaman.
"Aku akan bawa ponsel kamu ke konter hp, aku akan berusaha untuk ganti layarnya." Dinda tidak ingin lepas dari tanggung jawab begitu saja.
"Tidak usah, lagian itu nggak akan mahal banget kok, tenang aja." Juna tetap menolak dengan tawaran Dinda.
"Ya sudah aku akan bayar pakai uang saja, tapi aku tidak bawa uang sekarang, nanti kalau sudah gajian aku akan bayar." ucap Dinda lalu meninggalkan Juna di area tempat parkir.
"Ck, ngeyel banget sih dia, tapi gua suka cewek kayak itu." Juna menyusul Dinda dengan berlari.
"Hei, kita belum kenalan, nama kamu siapa?" Juna mengajak Dinda mengobrol sambil berjalan menuju area kampus.
"Dinda." Jawab Dinda tanpa menoleh sedikitpun, dia tidak mau sampai terlalu dekat dengan laki-laki sementara dia terikat dalam ikatan pernikahan.
"Nama yang cantik, sama seperti orangnya." lagi-lagi Juna menggombal Dinda berhasil membuat Dinda menghentikan jalannya.
"Kenapa kamu ngikutin aku terus? dan jangan ngomong kayak gitu ke aku, aku nggak suka." Dinda meminta Juna untuk berhenti mengikutinya, dia merasa sangat risih.
"Iya,iya aku pergi, tapi kamu belum tahu nama aku kan? kenalin nama aku Juna." ucapnya sambil mengulurkan tangannya di depan Dinda, tapi Dinda malah pergi meninggalkan Juna dengan posisi seperti semula.
"Wahh nantangin nih cewe, dia yang pertama ngabaiin uluran tangan gue." Juna menarik tangannya lalu membolak-balikkan tangannya di depan wajahnya.
"Lihat aja gua akan taklukin dia nanti, dan bapaknya yang pemarah itu sekalian." Juna mengingat kembali bagaimana sikap Eric padanya saat di dalam pesawat.
__ADS_1
****
Like, coment dan vote guyss. 🖤❤️