Milik CEO Muda

Milik CEO Muda
Kepanikan Eric 1


__ADS_3

Sekitar jam sepuluh tiga puluh malam, Eric dan Rian baru sampai di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Sambil menunggu taksi yang akan menjemputnya, Rian membeli roti terlebih dulu untuk mengganjal perutnya, walaupun saat di dalam pesawat mereka disajikan makanan dengan mewah, tapi tetap saja rasanya tetap hambar menurut Eric.


Sedangkan di tempat berbeda, tepatnya pada panti asuhan yang ditinggali istri Eric, sudah ada gadis cantik yang tertidur di atas tumpukan kertas dan di depan laptop. Akibat banyaknya berkas yang harus di selesaikan secepatnya, ditambah ada skripsinya yang harus dikerjakan, Dinda seakan melupakan kesehatannya, terkadang dalam sehari Dinda hanya makan satu roti dan air putih. Tanpa menyadari dirinya sendiripun Dinda tampak semakin kurus, bahkan orang-orang di sekitarnya juga sering menegur Dinda karena tubuhnya yang terlihat tidak terawat. Bagaimana Dinda ingin fokus merawat dirinya jika pikiran dan raganya seakan-akan tidak sedang bersama dirinya. Pikirannya terbagi antara pekerjaan, kuliah dan yang menjadi beban pikiran utamanya adalah rumah tangganya sendiri, setiap malam dia hanya memikirkan suaminya yang berada jauh darinya.


"Lu langsung pulang?" tanya Rian sambil mengunyah roti yang berada di dalam mulutnya.


"Iyyalah, kemana lagi gua kalau nggak pulang ke rumah."


"Yah siapa tahu lu masih belum siap ketemu Dinda."


"Makin lama gua ngehindar takutknya nanti Dinda malah salah paham dan malah dia lagi yang makin ngejauhin gua. Lagi pula gua udah kangen banget sama tuh bocil." ucap Eric.

__ADS_1


"Heh! bocil gitu lu juga doyan kan?" Kata Rian sambil mengejek membuat Eric berhenti tersenyum dan melanjutkan makannya.


"Tuh taksinya udah dateng, cepet pulang sana, lu udah kangen banget tuh kelihatannya sama si Dinda." Eric pergi dengan membawa koper dan satu tas ranselnya, disertai paperbag yang berisi salah satu hadiah yang dibelinya untuk Dinda.


Saat perjalanan menuju kediamannya, Eric tak hentinya tersenyum sambil


membayangkan Dinda tersenyum dan berlari memeluknya. "Sayang, aku akan datang!" ucap batin Eric, tanpa dia ketahui jika Dinda sudah tidak lama tinggal di kediamannya, karena merasa kesepian jika tinggal di sana hanya ditemani Bi Sum dan Mang Diman.


Tak butuh waktu lama untuk sampai di kediamannya, karena jalanan memang tampak sepi di tengah malam ini. Semua barangnya sudah ada di depan pintu rumah, dan Eric segera meraih gagang pintu utama rumahnya.


"Assalamualaikum.." Eric berjalan ke arah sakelar lampu utama lalu menyalakannya.

__ADS_1


Eric berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya yang hampir satu bulan tak pernah dilihatnya itu. Eric mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut kamar tapi tak menemukan Dinda, awalnya ia berpikir jika Dinda sudah pasti tidur nyenyak di dalam kamar, tapi nyatanya kamar yang mereka tempati itu kosong tak ada seseorang.


"Dinda..?" Eric memutuskan berteriak ke seluruh sudut ruangan mencari sosok yang ia rindukan itu, tapi ia tak menemukannya.


"Oh mungkin dia tidur di kamarnya yang dulu." Eric berlari turun ke bawah lalu menuju kamar kecil yang berada di samping dapur, Tapi alhasil saat masuk Dinda juga tidak ada di dalam sana.


"Dinda.., Dinda..., Dinda...." teriak Eric saat diruang tengah, tapi tak ada jawaban sedikitpun, hatinya saat ini sudah benar-benar khawatir karena tak menemukan Dinda di rumah.


"Telfon..yah kenapa aku tak berpikir untuk menelfonnya."


Tuut..tuutt...tuut..

__ADS_1


"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan...." ucap operator sana.


"Ck!! Dinda kamu di mana sayang, atau dia benginap di rumah mama untuk sementara yahh.." tanpa pikir panjang Eric meraih kunci mobil ditempat biasanya lalu bergegas secepatnya ke rumah orang tuanya.


__ADS_2