Milik CEO Muda

Milik CEO Muda
Ungkapan Cinta Dinda


__ADS_3

Pagi ini, tampak suasana di dalam mobil agak mencekam. Jika seperti hari-hari sebelumnya, mereka pasti akan berbincang-bincang ketika dalam perjalanan menuju kantor, tapi sekarang justru tidak ada yang membuka pembicaraan terlebih dulu.


"Apa mas Eric, marah karena omongan Dinda semalam?" ucap batin Dinda yang masih kepikiran dengan semalam.


Flashback on.


Setelah menyelesaikan kewajibannya sebagai seorang istri, Dinda bangun dengan pelan sambil meggeser tangan Eric yang masih melilit pinggangnya dengan erat.


"Mau ke mana?" Tanya Eric tanpa melepas pelukannnya.


"Mas, Dinda lapar, mau makan dulu lalu lanjut tidur."


"Mau masak tengah malam begini?"


"Nggak, Dinda cuman mau makan mie instan saja." tangan Dinda tidak pernah berhenti berusaha melepaskan tangan Eric.


"Ck, jangan di lepas dulu, mas masih mau memelukmu sebentar."


Dinda membiarkan Eric memeluknya selema lima menit, dan itu membuat Eric kembali tertidur, tanpa menghiraukan rasa laparnya. Melihat Eric sudah nyenyak, Dinda bergegas mandi wajib, lalu turun ke dapur memasak makanan.


"Mass.., ayo bangun, makan dulu, perut mas masih belum terisi semenjak tadi siang." Eric menggeliat lalu membuka perlahan matanya.

__ADS_1


"Kamu udah mandi?" Tanya Eric karena melihat rambut Dinda yang masih tampak basah.


"Iyya mas."


"Kok nggak nungguin mas mandi sih?"


"Dinda tadi buru-buru karena sudah sanagat lapar mas, makanya mandi dulu. Tapi Dinda belum sholat isya." Dinda sengaja belum sholat isya, karena jika masih ada Eric di rumah, dia tidak akan sholat sendiri. Eric juga sudah melarangnya jika sholat sendiri, selama dia masih ada di rumah.


Selesai mandi, Eric langsung duduk di samping Dinda yang sudah menunggunya. Eric sama halnya dengan Dinda, dia makan dengan lahap, dia hanya makan siang tqdi di kantor bersama Dinda. Dan sekarang dia baru makan saat jam dua puluh dua pas.


"Sini piringnya mas, Dinda bawa ke dapur."


Setelah dari dapur Dinda langsung duduk di atas tempat tidur, karena memang sudah sangat mengantuk.


"Iyya mas, Dinda udah ngantuk banget."


"Tapi mas belum mengantuk sama sekali." ucap Eric sambil memeluk tubuh Dinda dengan erat.


"Mas, Dinda mau bilang sesuatu." ucap Dinda sambil menatap Eric dengan serius.


"Katakan saja."

__ADS_1


"I LOVE YOU!!!" Eric membuka matanya yang sempat tertutup tadi setelah mendengar ucapan Dinda.


"Tidurlah, kau tadi sangat mengantuk kan?" Eric melepas pelukannya lalu menutup matanya kembali, tanpa me- respond ucapan Dinda.


"Apa aku mengatakan hal yang salah?" ucap Dinda dalam hati, karena Eric tidak ada tanggapan sedikitpun. Padahal Dinda berharap Eric yang mengatakan kalimat keramat itu, tapi entah dari mana keberanian Dinda bisa mengucapkan kalimat itu. Dinda yang tadi sangat mengantuk, tiba-tiba tidak bisa tertidur karena memikirkan kejadian barusan.


Flashback Off.


Mobil Eric berhenti di tempat biasanya, lalu Dinda mencoba meraih tangan Eric untuk di salimi, tapi tiba-tiba juga ada panggilan yang masuk, hingga Eric memilih mengangkat telfon terlebih dulu.


Di dalam mobil Eric tengah berbicara dengan salah satu klient dari Singapore sambil masih menatap Dinda dari kejauhan.


"Kenapa terlambat lagi?" ucap Rian saat Eric sudah memasuki ruangannya.


"Gua yang punya perusahaan jadi terserah mau datang jam berapa." jawab Eric ngasal.


"Cihh, sombong!! Eh udah tahukan, kalau kita akan ke Singapore siang ini?"


"Iyya udah tau, tiketnya udah lu pesan?"


"Udah dari semalam!"

__ADS_1


"Gimana soal yang gua suruh kemarin? yang soal identitas si Juna itu." Eric sebenarnya ingin meminta itu semalam, tapi dia udah keburu syok dengan kata-kata Dinda. Eric bukannya tidak menyukai Dinda mengatakan hal itu, tapi dia hanya terkejut karena Dinda yang mengutarakan cintanya pertama. Eric akui jika dia tidak bisa di pungkiri, bahwa dia tidak mencintai Dinda. Dia hanya masih butuh keberanian untuk mengucapkannya saja. Eric yakin pasti Dinda kepikiran soal kejadian semalam.


__ADS_2