
Eric baru ingin menelfon suruhannya, tapi dia juga mengerti jika jam seperti ini suruhannya juga pasti sudah istirahat.
"Ck, bodoh kenapa baru gua lihat semua fotonya." Eric menarik rambutnya melampiaskan rasa kesalnya pada diri sendiri.
Eric mengalihkan pandangannya ke arah Dinda, dia merasa sangat bersalah telah mengata-ngatai Dinda tadi siang.
Eric mengibaskan selimutnya, ia menghampiri Dinda lalu berjongkok di sampingnya mensejajarkan badannya.
"Bagaimana jika yang ku tuduhkan tadi tidak benar?" ucapnya dalam hati.
Mata Eric tertuju pada lengan Dinda yang lebam, tangannya terangkat menyentuh bekas cekalannya.
Sebelum tidur tadi, Dinda mengganti bajunya menjadi lengan pendek. Dinda memang jarang tidur menggunakan baju yang berlengan panjang, kecuali dia tertidur atau malas mengganti bajunya.
Dinda berbalik menghadap Eric, hingga tangan Eric dia peluk layaknya guling.
Eric sadar selama ini ucapan yang dia lontarkan pada Dinda pasti sangat menyakitkan, tapi entah kenapa dia begitu emosi jika ada yang mendekati Dinda.
"Aku masih tidak tahu perasaan apa ini." Ucapnya sambil mengelus pipi mulus Dinda.
Eric menarik tangannya yang dipeluk Dinda dengan pelan. Dinda merasakan ada pergerakan pada benda yang di peluknya sampai mengerjapkan matanya.
"Stt, tidurlah." Eric mengelus-elus kepala Dinda agar tertidur kembali, alhasil Dinda menutup matanya kembali.
Eric tersenyum melihat Dinda yang tidur sangat pulas sambil menikmati elusan Eric di kepalanya.
Eric kembali ke tempat tidur lalu mulai memejamkan matanya kembali.
Pagi ini Eric berencana pulang ke rumahnya, berhubungan Mamanya juga sudah membaik. Tapi, Mamanya menahan mereka pulang, katanya mumpung hari ini dan besok weekend jadi dia ingin menikmati waktunya bersama Dinda.
Eric baru selesai mandi setelah dari lari pagi di area rumahnya.
"Aku hampir lupa menelfon Han" Han nama suruhannya itu.
"Halo?" Eric meneleponnya setelah rapi dengan pakaian kasualnya.
"*Halo? Iyya Pak?"
__ADS_1
"Saya ingin kau menceritakan apa yang kau lihat kemarin di kampus Dinda."
"Oh, itu Pak. Kemarin saat saya sampai di depan kampus gadis itu, saya sudah melihat dia dengan temannya yang bernama Sima menunggu di depan kampus. Beberapa menit kemudian pria yang bernama Juna keluar menghampiri mereka. Awalnya pria itu berdiri langsung di dekat Dinda, tapi karena Dinda risih jadi dia berpindah ke sebelah temannya. Lalu saya melihat Dinda mengeluarkan amplop dari tasnya lalu menyerahkan pada Juna, Juna sempat menolak pak, tapi Dinda ini bersih keras memberikan amplop itu sampai Dinda menarik tangan Juna lalu memberikan amplopnya*." Han menceritakan detail kejadian kemarin.
"*Memang apa isi amplop itu?"
"Saya tidak melihat Juna membuka amplopnya pak, tapi saya dengar dari orang yang saya suruh kemarin, katanya amplop itu berisi uang pak."
"Uang?"
"Iyya Pak, sepertinya uang itu untuk membayar hutangnya, Dinda inikan punya hutang pada Juna."
"Iyya hutang itu, kau sudah menyelidiki dia punya hutang apa?"
"Sudah pak, rupanya Dinda pernah menabrak Juna sampai ponselnya jatuh lalu pecah. Walaupun Juna tidak meminta ganti rugi, tapi Dinda tetap membayar ganti rugi ponsel itu*."
"*Oh, terima kasih infonya, saya tutup dulu."
"Sama-sama pak*."
Eric memasukkan ponselnya di saku celananya lalu duduk memikirkan semua yang terjadi.
"Bagaimana aku bisa menjauhkan Dinda dari pria itu? aku sangat benci tatapannya pada Dinda." Eric tidak bisa membayangkan bagaimana Juna itu setiap hari selalu berdekatan dengan Dinda. Mengingat saat di pesawat saja dia tidak duduk bersebelahan tapi matanya selalu mencari cela agar selalu melihat Dinda.
"Ma, ini bunga apa?" Dinda membawa pot kecil yang berisi bunga kesayangan Bu Hasna.
"Itu jenis bunga tulip sayang." sementara Bu Hasna menanam bunga baru di pesannya dari luar kota kemarin.
"Tapi ini seperti bunga mawar Ma." Dinda memperlihatkan bunga itu pada Bu Hasna, sementara Bu Hasna hanya tersenyum melihat tingkah menantunya yang memperlihatkan bunga itu dengan sangat intens.
"Dinda memang bentuknya seperti bunga mawar tapi itu beda jenis sayang."
"Ohh." Dinda meletakkan kembali bunga itu ke tempatnya semula.
"Ma sini Dinda bantuin." Dinda mencoba membantu mertuanya dengan mengisi pot bunga dengan tanah.
Interaksi keduanya yang sangat manis, membuat Eric dari lantai dua tersenyum melihatnya.
__ADS_1
"Sepertinya Mama sangat sayang pada Dinda." Eric bisa melihat dengan baik jika semenjak dia menikah dengan Dinda, Mamanya selalu tersenyum bahkan tertawa saat bersama Dinda.
"Hahaha dari dulu memang Mama selalu mau punya seorang putri." Eric tertawa mengingat Mamanya dengan konyol pernah mengatakan padanya kalau, saat Eric masih dalam kandungan Mamanya sengaja tidak ke dokter untuk USG, karena dia sangat yakin kalau anaknya itu adalah perempuan.
Tapi, saat melahirkan dokter mengatakan kalau bayinya itu laki-laki. Hal itu membuat Bu Hasna agak bersedih, bukan bersedih karena bayinya laki-laki tapi, karena dia sudah membeli berbagai perlengkapan bayi yang berwarna pink.
Sampai sekarang Bu Hasna masih menyimpan dengan baik semua perlengkapan bayi itu didalam kamar Eric saat masih kecil. Eric sering malu sendiri jika membawa Rian bermain di rumahnya, tapi kamar bernuansa pink. Hal itu bahkan sampai sekarang menjadi bahan ejekan paling ampuh bagi Rian kalau Eric menyatakan perang padanya.
"Sayang ayo masuk, kayaknya mau hujan nih." Bu Hasna membersihkan alat-alatnya ke tempat semula.
"Tunggu tinggal satu Ma." Dinda menyelesaikan ucapannya satu pot bunga lagi.
"Udah? ayo masuk."
Baru beberapa menit mereka didalam rumah, langit sudah bergemuruh lalu menumpahkan airnya. Untung saja Dinda sudah ada didalam kamar begitupun Bu' Hasna.
Eric berlari masuk ke dalam kamar ketika air hujan mengenai sedikit pakaiannya.
Dinda melihat Eric dari balkon, dia kembali menunduk kepalanya sambil menautkan kedua tangannya. Eric duduk di sofa yang sama dengan Dinda, tapi posisinya masih terbilang cukup jauh.
"Aku ingin bicara." Eric membuka pembicaraan.
"Apa Tuan?" Dinda menoleh ke arah Eric.
"Bisakah kau tidak memanggilku dengan sebutanmu itu?" Eric mendekatkan duduknya dengan Dinda.
"Maksudnya Dinda jangan bilang Tuan lagi?"
"Iyya, panggil aku saat pertama kali kita bicara."
"Mas, Dinda bilang seperti itu?" Eric mengangguk membenarkan.
"Jangan memanggilku Tuan lagi mulai dari sekarang." jika bisa Dinda ungkapan dengan kata-kata, dia sangat bahagia mendengar Eric tidak memintanya memanggilnya tuan lagi tapi, dia tidak mau berharap lebih dari itu.
"Bisakah aku bertanya sesuatu denganmu?"
"Apa Tu.., maaf, Mas?" Eric tersenyum lebar mendengar Dinda memanggilnya dengan sebutan Mas.
__ADS_1
*****
Like, coment, beri gift dan vote guyss. 🖤❤️