
"Kepala Mama masih sakit?" tanya Dinda yang duduk di dekat mertuanya.
"Sudah mendingan sayang. Sudah kamu ke kamar saja istirahat, ini sudah malam." walau Bu Hasna ingin di temani sekarang, tapi dia mengerti jika anak dan menantunya itu pasti lelah karena aktivitasnya.
"Emh, Dinda di sini saja jagain Mama." Dinda masih belum siap harus ke kamar berdua dengan Eric, dia masih malu dengan kejadian tadi.
"Kamu istirahat saja Nak, kamu pasti lelah dari kampus." bujuk Bu Hasna.
"Nggak kok Ma, Dinda masih belum mengantuk, lagian Papakan ada di luar jadi nggak ada yang nemenin Mama di sini."
"Ya udah, terserah kamu, tapi kalau udah mau istirahat langsung ke kamar aja yah tidur." perintah mertuanya yang langsung diangguki Dinda.
"Eric ke luar dulu ya Ma, mau ke Papa."
"Iyya." Eric keluar kamar sambil terus menatap Dinda yang selalu menunduk menghindari tatapan Eric.
"Mama butuh sesuatu?" tanya Dinda.
"Nggak sayang, kamu ingetin Mama minum obat aja yah kalau udah jam sepuluh."
"Iyya Ma." tak lama kemudian, Bu Hasna kembali memejamkan matanya. Untuk menghilangkan kejenuhannya, Dinda duduk di sofa sambil membaca majalah yang ada di atas meja.
"Bagaimana aku bisa tidur di kamar itu? aku sangat malu." jika Dinda mengingat kejadian tadi, rasanya ia ingin menenggelamkan wajahnya di kolam yang sangat dalam sangking malunya.
Jam baru menunjukkan pukul 21.05, masih lama Dinda harus menunggu sampai jam 22.00. Dinda tidak tahu lagi apa yang harus dia kerjakan, dia sudah mengantuk tapi harus menunggu sampai mertuanya minum obat.
"Pa, kata dokter, mama kenapa?" Eric sudah duduk menemani ayahnya menonton.
"Kata dokter, kolesterol Mama tinggi terus dia juga kecapean katanya."
"Kecapean? emang Mama ngapain Pa?"
"Huft, kamu tahukan kebun mini Mama di halaman belakang bersihnya seperti apa? Mama kamu itu bandel banget kalau di larang ke kebun sama tamannya." Bu Hasna memang sangat menggemari tanaman, dia sangat teliti menjaga semua tanamannya.
"Pantas saja kecapean."
__ADS_1
Dua pria beda generasi itu berbincang hingga jam 22.00 tiba, pak Hasan pamit ke kamar mau istirahat juga. Sementara Eric masih di ruang tamu duduk sendiri.
"Maa.." pak Hasan masuk tanpa mengetuk pintu.
"Stt..." Bu Hasna menempelkan jari telunjuknya di bibirnya, tanda untuk pak Hasan harus memelankan suaranya.
"Kenapa Ma?"
"Itu!" Bu Hasna menunjuk ke arah sofa, Dinda tertidur di atas sofa sambil memegang obat Bu Hasna.
"Astaga, tunggu Papa panggil Eric, agar memindahkan Dinda."
"Eric, di kamar Dinda tertidur, sana pindahkan istrimu!" Eric masuk ke dalam kamar orangtuanya, dia menemukan Dinda tertidur pulas di atas sofa.
"Ma, ini obatnya." Eric memberikan obat yang sebelumnya ada di tangan Dinda.
"Iyya, pindahin Dinda ke kamar cepat! kasian dia tidurnya di sana." perintah Mamanya, lalu diangguki Eric. "Iyya Ma."
Eric mulai mengangkat Dinda ala bridal style, membawanya ke kamar lalu diletakkan di atas tempat tidur dengan sangat hati-hati, seolah ia takut Dinda lecet nantinya.
Eric mengelus rambut panjang lebat nan halus itu sambil memperhatikan wajah Dinda begitu dekat dan intens. Jarinya mulai menelusuri wajah itu mulai dari, alis tebal sama tapi tidak setebal alisnya, hidung hingga tangannya terhenti dibibir yang baru di unboxing tadi.
Eric memajukan wajahnya sambil di miringkan lalu menempelkan bi*irnya pada bi*ir yang mulai menjadi candu baginya. Dia hanya mengecupnya tanpa memberikan lu*atan, Dinda juga tidak ada pergerakan sama sekali.
Tapi, tidak lama kemudian, Eric kembali menyosor bi*ir itu dan mulai memberikan ******* kecil pada bi*ir manis Dinda. Dinda mulai menggeliat sambil dadanya naik turun karena terasa sesak.
"Ssttt.." Eric menenangkan Dinda dengan cara mengelus pipi halus itu sambil memperhatikan b*bir yang habis di ci*mnya terlihat membengkak.
Dinda mulai mengangkat tangannya ke atas bantal, kebiasaanya kalau tengah tidur. Eric hanya tersenyum lebar melihat Dinda seperti anak kecil jika tidur.
Saat ingin meninggalkan Dinda yang tertidur pulas, mata Eric tertuju pada dahi Dinda yang terdapat bekas luka.
"Apa ini bekas, saat aku mendorongnya waktu itu?" jarinya mengelus bekas luka itu lalu menatapnya sendu.
"Apa aku sangat keterlaluan memperlakukannya seperti itu di rumah?" tanyanya pada diri sendiri.
__ADS_1
Eric menaikkan selimutnya hingga sebatas dada Dinda. Ia masuk kamar mandi sebentar lalu keluar kembali lalu menuju tempat tidur. Bisa dikatakan ini perdana mereka tidur di satu tempat tidur, biasanya dia selalu memarahi Dinda jika dekat dengannya, tapi kali ini dia sendiri yang ingin tidur di dekat Dinda.
Adzan subuh berkumandang, Eric bangun lebih dulu, ia melihat ke samping, Dinda masih pulas dalam tidurnya.
"Mungkin dia masih mens." Eric mengambil air wudhu lalu sholat di kamarnya sendiri. Jarak rumah dari masjid memang terbilang cukup jauh, jadi Eric sering sholat dirumah jika masih sangat mengantuk.
Dinda mengerjapkan matanya perlahan, dia terbangun saat rakaat terakhir Eric.
"Aku tidur di sini? lalu Tuan tidur dimana semalam?" saat menolah ke sampingnya, Dinda melihat jika di tempat itu seperti habis di tempati karena ada bantal dan selimut juga terlihat seperti sudah terpakai.
"Tapi tidak mungkin Tuan tidur di sampingku, dia kan tidak mau berbagi tempat tidur?" Dinda bertanya dengan dirinya sendiri dan menjawabnya pun sama.
"Kenapa bangun? kau tidak sholat kan?" tanya Eric sambil meletakkan sajadah dan pecinya di tempat semula.
"Iyya, Dinda tidak sholat. Emh, semalam Tuan tidur di mana?" tanya Dinda penasaran.
"Menurutmu?" bukannya menjawab Eric malah bertanya balik.
"Tuan tidur di sofa?" tebak Dinda.
"Tentu saja tidak, aku tidak mau tidur di sofa, lagian badanku mana cukup di tidur di sofa."
"Lalu Tuan tidur di mana?"
"Ya, di kasur lah, ngapain tidur di sofa jika ada tempat tidur."
"Jadi semalam Dinda dan Tuan tidur di sini?" terkadang Eric berpikir Dinda ini polos atau bodoh, dia sangat sulit menangkap arah pembicaraan.
"Tentu saja, kau tidak lihat kau duduk dimana sekarang." Eric mengambil ponselnya lalu duduk kembali di tempat tidurnya.
"Kenapa Tuan mau tidur dengan Dinda?"
"Karena kau tidur di kamar Mama, jadi aku mengangkatmu, setelah sampai dikamar aku lupa menidurkan mu di sofa. Aku sangat malas mengangkatmu kembali ke sofa, kau sangat berat." Eric menceritakan peristiwa semalam, tapi tentu saja itu tidak benar.
"Mana ada Dinda berat, justru Dinda mau nambah berat badan tapi sangat susah." protes Dinda.
__ADS_1
*****
Like, coment, beri gift dan vote guyss 🖤❤️.