MISTERI PERJODOHAN MASA LAMPAU

MISTERI PERJODOHAN MASA LAMPAU
Warna baju yang sama


__ADS_3

" Dera gak naf**su makan mas, kayaknya gak abis makannya. Tapi kalau makannya sih enak banget mas, jawab Dera sambil menyuapkan sesendok makan ke mulutnya".


" Ya udah sebisa kamu makan aja, tapi jika habis mas senang lagi Dera. Atau kamu lagi gak enak badan ya". Aran menanyakan hal apa yang sekiranya membuat Dera seperti itu. Jika harus dirawat maka ia akan menghubungi dokter kenalannya.


" Gak kok mas aku gak kenapa-kenapa, mungkin hanya lelah aja. Mas Aran gak apa-apa kan kalau makanan punya aku gak habis?".


Karena ajaran dari Ayah Dera selalu harus menghabiskan makanan yang sudah ia ambil maka Dera pun menanyakan hal itu pada Aran karena takut jika akan tersinggung nantinya.


Aran yang mendengar pertanyaan Dera langsung tersenyum dan mengangguk tanda setuju. "Kamu lucu Dera, kalau gak habis ya gak apa-apa jangan dipaksakan toh mungkin kamu juga lagi gak naf*su benaran. Ya udah kalau gitu Dera tidur dulu sana , mas Aran masuk ke kamar mas dulu kalau ada apa-apa kamu bisa cari mas nanti". Kata Aran yang pergi sambil mengusap rambut Dera. Sungguh perasaan nyaman yang didapat pada Dera begitu membuat moodnya membaik.


Setelah kepergian Aran tadi Dera membersihkan meja makan dan langsung bergegas masuk ke kamarnya sendiri. Rasanya badannya sudah minta istirahat. Mungkin karena hari pertama kerja jadi badannya kaget. Toh sudah hampir 2 tahun ia sudah berhenti kerja.


Malam ini Aran yang masih penasaran pada apa yang terjadi pada dirinya hanya bisa duduk sendiri di blangkon kamarnya, sambil menghidupkan sebatang rokok. Rasanya ia sudah lama sekali tak merasakan hal seperti ini. Tak mungkin jika rasa itu adalah cinta, Karena baru 2 hari saja mereka bersama udah ada rasa itu. Tapi siapa juga yang tahu kalau kita hanya berdasarkan cerita saja yang mendeskripsikan. Nyatanya juga Aran masih memikirkan sendiri.


Asap rokok yang masuk di kamar Aran begitu banyak malam ini. Karena sedang setres ia selalu seperti ini. Padahal jika hari bisa mungkin ia tak begitu hobi untuk merokok. Takut ia habis banyak rokoknya akhirnya ia memutuskan untuk berbaring di ranjang kamarnya dan berharap bisa langsung terlelap.


Benar saja akhirnya malam ini Aran bisa tidur dalam keadaan perut kenyang tapi pikiran bimbang. Berbeda dengan Dera yang sudah terlelap di mimpi bermain dengan Teo dan ibunya. Dua malam Dera berpisah dengan keluarganya membuat rasa kangen pun tumbuh. Tapi jika ia belum dapat uang untuk mengirim ke Ibuk ia belum bisa tenang. Kebutuhan di rumah yang pastinya juga akan banyak.


--------

__ADS_1


Adzan subuh akhirnya terdengar oleh Dera pagi ini. Tapi tak seperti biasanya pagi ini ia menunda untuk lima menit sampai adzan iqomah terdengar. Walaupun matanya sudah tak terpejam tapi ia hanya bolak balik di ranjangnya itu. Ia beruntung bisa dianggap membantu di rumah Aran yang mewah ini. Karena tak harus menyewa kamar untuk hidup di ibu kota. Bisa dibayangkan jika untuk makan dan tidur semuanya bayar maka ia tak bisa mengirim ke keluarganya.


Setelah menunaikan ibadah shalat akhirnya Dera menyiapkan apa yang di inginkan mas Aran semalam untuk menyetrika baju kerjanya. Setelah mencari baju akhirnya ia mendapatkan warna yang pas dan langsung ia setrika dengan rapi karena ia masih harus menyiapkan sarapan untuk Aran juga. Hingga pada akhirnya jam berputar cepat sekali karena ia saat ini sudah selesai membuat sarapan ala kadarnya yaitu nasi goreng telur mata sapi.


Benar saja ternyata Aran yang terbangun karena harum masakan Dera langsung masuk ke dapur. Hanya dengan harumnya saja ia sudah merasa lapar dan ingin langsung makan. Walaupun ia juga belum mandi dan siap-siap, tapi yang ia utamakan perutnya dulu.


" Masak apa Dera, Wangi banget sepertinya enak". Langsung saja tanpa di jawab langsung duduk di kursi yang bisanya di pakai. Aran antusias sekali pagi ini, nampak dari senyuman yang terbit dari wajah gantengnya.


" Eh mas Aran, Dera hanya masak nasi goreng aja mas soalnya di kulkas gak ada yang bisa Dera masak. Sayang juga nasi kemarin aku buat masih", jawab Dera yang langsung mengambil nasi goreng tadi di piring Aran. Sungguh Dera takut jika Aran tak menyukainya karena hanya nasi goreng saja.


" Ya udah kita makan bareng ya, temani mas. Apapun masakan kamu tetap enak kok Dera, daripada aku yang jarang sarapan". Karena sudah terbiasa makan bareng, Aran marasa jika naf*su makannya akan bertambah. Mungkin bertambah karena pas makan mereka sambil di selingi cerita yang akhirnya makanan itu sedikit demi sedikit habis.


Dera kalau mau masak susah kalau gak ada bahan makanannya. Apalagi setok makanan mas yang ada di lemari es itu gak bisa aku masak kan. Merasa jika ia tak tahu bagaimana caranya memasak makanan cepat saji akhirnya ia bilang seperti itu.


" Wah iya Dera, mas lupa. Ya udah nanti kita belanja ya. Makasih ya makanannya, mas mandi dulu. Oya kamu juga siap-siap gih keburu jalanan macet nantinya".


Akhirnya mereka sudah siap dengan pakaian kerja masing-masing. Baju yang sudah di setrika untuk Aran juga sudah diambil oleh Aran tadi. Biasanya ia kadang tak sempat untuk menyetrika bajunya, sekarang ia pastikan akan selalu berpakaian rapi karena ada Dera. Beruntung ia bisa dibantu oleh Dera aktifitas yang lainnya sudah Dera handel sendiri.


Sekitar 20 menit akhirnya Aran langsung masuk ke mobilnya untuk memanasi kendaraannya. Sambil menunggu Dera dia memanfaatkan waktu yang ada. Pas ia sudah duduk dan fokus melihat monitor mobil, Dera yang masuk ke mobil itu membuyarkan fokusnya.

__ADS_1


" Mas, semuanya sudah Dera kunci ini kuncinya", kata Dera sambil menyerahkan kunci yang ia bawa pada Aran.


" Ehem, iya kamu yang bawa aja ya, kita kan pulang bareng juga kan. Oya, kok baju kita sama sih Dera warnanya!!!".


Kata Aran yang menyadari hal itu karena sedang menatap lawan bicaranya.


" Wah iya Dera lupa mas, padahal tadi Dera lho yang nyetrikain baju mas Aran. Ya udah mas, Dera ganti baju dulu ya", ucap Dera ingin keluar mobil lagi.


" Gak usah ngapain, kita keburu nanti dijalan udah macet lagi. Kita berangkat aja gak apa-apa cuma masalah baju aja". Karena Aran gak mau nunggu lagi ia langsung mengajak Dera untuk cepat ke pabrik. Hari kerja jika di Ibukota pasti akan macet jika tak buru-buru berangkat.


" Mas, boleh Dera pakai telfon mas untuk menghubungi keluarga Dera di kampung mas''. Tadi Dera gak sempat telfon karena bangun kesiangan karena tak langsung bangkit dari ranjangnya tadi.


" lya itu ambil aja di tas mas, Oya mas juga lupa menanyakan kamu tadi. Nanti mas boleh lihat Teo, Dera?. Tapi jangan lihatin wajah mas ya. Aku mau lihat anak kamu yang kuat itu".


Dera yang diminta oleh Aran untuk mengambil sendiri ponsel itupun langsung mengambil dan menghubungi nomor keluarganya. Rasanya kangen banget sama semuanya.


" Halo Ayah, Assalamualaikum.


Maaf Dera baru bisa telfon Ayah, gimana keadaan Ibuk sama Teo Ayah. Dera mau perjalanan ke pabrik ni Ayah".

__ADS_1


__ADS_2