MISTERI PERJODOHAN MASA LAMPAU

MISTERI PERJODOHAN MASA LAMPAU
Bantuan dari orang asing


__ADS_3

"Ada apa mbak, kok aku perhatikan seperti sedang kebingungan?".


Orang yang aku tak tahu baik atau tidak tapi ia bisa aku minta i tolong mungkin, pikirku.


"Dompet dan telfon yang aku miliki hilang tak aku temui di tas aku mas. Entah jatuh atau hilang, padahal nomor teman saya ada disitu". Tetesan air mata itu pun jatuh tak bisa aku tahan. Rasanya aku baru tahu gimana rasanya jika seperti ini. Tak ada yang bisa membantuku karena tak ada nomor yang aku hafal sama sekali.


"Ini pakai telfon aku dulu aja untuk menghubungi teman mbak untuk menjemput mbak". Orang yang baik bisa menawarkan hal itu padahal baru ketemu saat ini juga.


"Aku tak ingat nomornya mas, aku bingung mau kemana lagi. Aku baru datang dari kampung untuk kerja tapi ternyata nasib saya tak seberuntung yang saya kira". Entah apa aku mengucapkan kata itu di depan orang yang menawarkan bantuan untukku. Doa apa yang salah aku minta tadi pagi aku hanya ingin membahagiakan orang tua dan juga anakku kenapa begitu banyak cobaannya.


"Ya udah mbak kabari keluarga mbak dulu, jangan buat mereka khawatir setelah itu mbak bisa kok saya bantu dulu. Saya akan carikan pekerjaan untuk mbak besok siang". Sambil menyerahkan ponselnya ia mengucapkan hal itu dimana aku baru ingat ucapan Ayah tadi malam. Aku harus menghubungi beliau jika sudah sampai di Jakarta.


Dengan masih sesenggukan karena tangis ku terima ponsel itu dan ku hubungi nomor ayah di rumah. Karena hafal diluar kepala jadi aku lancar menekan tombolnya. Dering pertama langsung beliau angkat.


"Halo, dengan siapa? ".


Ayah yang tak tahu nomor siapa karena nomor baru, makanya ia bertanya seperti ini.


" Ini aku Ayah, Dera. Dera sudah sampai dan ini nomor Santi. Karena telfon Dera lupa belum Dera isi tadi jadi aku pinjam Santi dulu Ayah".


Ucapan ku yang ada di depan laki-laki tadi. Ya udah Ayah, aku pulang ke kos Santi dulu ya Ayah. Bohong ku karena tak mau di tanya banyak oleh sang Ayah.


Ada rasa iba dari pemandangan di depannya saat ini. Seorang wanita yang terlihat kusut dan seperti sedang frustasi sekali. Tapi ia juga kaget karena tak seperti pertama ia datangi tadi yang terlihat ketakutan dan ingin menangis, mungkin karena ingin terlihat ceria dari suara agar keluarganya tak binggung padanya. Rasa kasihan dimana wanita itu seperti lebih muda darinya. Dan entah kenapa ia ingin sekali membantunya.

__ADS_1


"Ini mas, makasih ya sudah di bantu saya tadi. Oya aku tak tahu harus bagaimana mendapatkan alamat teman saya saat ini". Dera bilang seperti itu karena ia sangat tak tahu harus bagaimana lagi.


" Udah kamu ikut saya saja dulu, besok baru kita cari jalan keluarnya. Kamu tunggu disini aku bayar dulu makan kamu sekalian punya ku saja", jawaban laki-laki yang Dera pun belum tahu namanya itu. Walaupun Dera belum kenal tapi ia tak ada pilihan lain selain ikut ke mobil yang terparkir didepan warung nasi Padang tadi.


Dengan dibantu sang pemilik mobil akhirnya koper kecil milik Dera dimasukkan dan tinggal ia yang duduk di dekat sang pengemudi. Canggung rasanya tapi ia harus mengikuti, apa iya ia akan duduk di kursi penumpang seolah-olah sang penolong malah dijadikan sopir.


"Kalau boleh tahu siapa namamu?", tanya laki-laki yang sedang fokus mengemudikan mobilnya. Mobil yang terlihat seperti masih baru karena plat nomor kendaraan masih berwarna putih.


" Panggilan aku Dera saja mas, keluarga dan sahabat aku dulu panggilan dengan sebutan itu. Jika mas sendiri aku panggil dengan nama siapa?", tanya Dera balik. Ia juga butuh tahu nama sang penolong saat ini. Untuk sewaktu-waktu ia akan mengucapkan terima kasih.


" Panggil aku Aran aja semuanya panggil aku dengan Aran. Oya kamu asli mana, jika boleh tahu. Maaf jika lancang ", tanya Aran takut akan dianggap sebagai orang yang sok ingin tahu. Ia juga takut kalau akan menyinggung lawan bicaranya. Sambil ia melihat ke arah Dera mengucapkan hal itu.


"Aku berasal dari kabupaten di Yogyakarta mas, aku kesini karena ajakan teman aku tapi karena telfon dan dompet aku hilang maka aku tak bisa mencari keberadaannya". Dera bilang apa adanya yang mana ia susah untuk mencari keberadaan temannya.


Akhirnya tiba sudah mobil itu di rumah yang menurutku besar dan bagus. Diturunkannya koperku dari kursi belakang dan di bawa masuk oleh mas Aran ke rumah bagus itu. Aku yang canggung dan takut akhirnya berhenti sebentar dan menimbang keputusanku untuk masuk kerumahnya atau tidak. Kita yang baru saja kenal kenapa ia mengajakku untuk pulang. Belum lagi apakah istrinya tidak akan marah padaku nantinya. Sungguh pikiranku binggung di buatnya saat ini.


" Ayo masuk", kata mas Aran yang menoleh padaku. Aku masih takut untuk ikut kedalam. Karena aku tak bergerak akhirnya ia mendekati ku dan menarik tanganku untuk ikut masuk. Solusi itu yang paling ampuh karena setelah itu aku mengikuti langkahnya masuk ke rumah besarnya.


" Mas, panggil ku karena melihat ia memegang pergelangan tanganku dengan tak ada rasa takut. Aku takut jika perlakuannya akan dilihat oleh keluarga atau istrinya paling gak penghuni dirumahnya itu pikirku.


" Udah masuk dan duduk di sini dulu ya, pintanya yang mendudukkan aku di kursi tamu sedangkan ia sendiri ke belakang mungkin ke dapur. Dengan dua kaleng susu panda akhirnya ia duduk di depanku lagi dan menyeramkan itu padaku satu.


Aku yang duduk sambil melihat ke seluruh ruangan nampak membuatnya juga binggung. Aku seolah-olah mencari sesuatu.

__ADS_1


" Dera, aku tinggal disini sendiri kamu mencari apa?", ucapnya sambil melihat padaku yang masih nampak binggung seperti ini. Mungkin kamu bisa bantu aku bersih-bersih rumah sebelum kamu mendapatkan informasi tentang temanmu. Dan untuk pagi kamu akan aku ajak ke usaha konveksi yang aku pimpin agar kamu bisa cepat beli telfon dan mengabari keluargamu lagi.


Sungguh mas Aran yang baik hati, aku bisa terima karena ia sudah memberikan aku tempat tinggal yang sangat bagus dan pekerjaan untuk aku hidup sebelum akhirnya menemukan temanku. Padahal ia juga belum kenal aku seutuhnya kenapa ia memperbolehkan aku tinggal di rumah besar ini. Apakah ia tak takut aku akan berbuat sesuatu. Tapi aku pastikan tak akan membuatnya kecewa karena telah membantuku.


" Tapi apakah aku masih bisa meminjam ponsel milik mas Aran tiap aku ingin menghubungi Ayah dan ibu?", tanyaku masih takut serta malu.


Aku yakin tak mungkin kalau besok langsung bisa beli telfon apalagi aku juga belum bekerja. Padahal syarat Ayah mengijinkan aku ke sini harus menghubunginya 3x sehari, kataku meyakinkan kalau aku tak berbohong padanya. Pada penolongku yang baik ini.


" Boleh Dera, karena pastinya orang tuamu juga akan kebingungan kalau tak mendapatkan kabar dari anaknya. Oya susunya nanti di minum ya mari saya antar ke kamar kamu. Biar kamu bisa istirahat, jika kamu butuh sesuatu kamar aku di lantai dua sebelah sana tunjuk Aran pas jalan ke kamar yang akan di pakai untuk Dera. Akhirnya ia tak sendiri ada teman di rumah besarnya itu.


Tapi tak untuk Dera yang masih binggung kenapa rumah sebesar ini tak ada satupun orang disini. Terlihat dari rumah yang sangat sepi sekali. Apakah ia tak punya asisten rumah tangga pula, pikirnya.


Melihat Dera diam saja akhirnya Aran menepuk pundak Dera agar tak melamun.


" Apa yang kau pikirkan Dera".


" Mas apakah tak ada yang marah jika aku tinggal disini mas. Aku takut jika ada yang marah padaku nantinya". Sungguh dera yang malang tak hentinya pikirannya berfikir terus.


"Aku tak punya siapa-siapa lagi Dera. Dan aku pastikan kamu aman di sini. Ya udah kamu mandi dan istirahat dulu aja gak usah memikirkan apa-apa", Setelah mengantarkan Dera ke kamarnya Aran langsung naik ke kamarnya untuk mandi dan istirahat. Capek kerja hari ini ia rasakan karena permintaan yang semakin banyak dari usahanya konveksinya itu. Pas ia duduk di teras kamarnya sambil menghidupkan sebatang rokok ia terkejut karena ponselnya berdering. Nomor baru yang belum sempat ia beri nama waktu Dera meminjam ponselnya tadi. Pas ia akan keluar memanggil Dera untuk berbicara pada ayahnya tadi ia terkejut karena foto yang terpampang di ponselnya nampak tak asing baginya. Karena tak percaya ia langsung mengambil figuran foto di laci tempat ia menyimpan kenangan mendiang Ayahnya dulu. Di samakan dari foto di ponsel itu dan figuran yang ia miliki. Ada kesamaan dari yang ia pikirkan hanya saja mungkin perubahan rambut yang sudah berbeda. Karena kelamaan ia tak mengangkat panggilan tersebut sampai satu panggilan ia lewatkan. Detak jantung yang tak karuan ia rasakan saat ini. Apakah itu benar adik Ayahnya yang selama ini ia cari. Keajaiban yang sangat ia syukuri untuk hidupnya.


" Om Toso dan bibik Rini, akhirnya aku bisa menemukanmu saat ini. Apakan ini yang dinamakan nasib atau jodoh. Yang mana permintaan Ayah sebelum ia pergi meninggalkan aku untuk mencari Om Toso dan bibik. Dengan tanpa sengaja akhirnya aku bisa menemukan kalian. Walaupun Aran tahu siapa ayah Dera tapi nama di ponselnya tetep ia namai dengan sebutan Ayah Dera untuk membuat Dera tak curiga.


Walaupun Aran tahu siapa Ayah dari wanita yang ia bantu tapi ia ingin mencari tahu sendiri siapa Dera sebenarnya. Takut jika Om Toso memiliki anak lagi. Karena sudah dari usia Aran 5 tahun sampai ia sekarang sudah berusia 26 ia tak mendapatkan kabar dari orang yang mendiang Ayahnya suruh temui itu. Ini amanah dari almarhum orang tua Aran untuk mencari saudara dari orang tuanya itu. Walaupun hanya saudara angkat tapi hubungan kedua keluarga itu dulu melebihi sebatas saudara yang sedarah. Buktinya permintaan terakhir Ayahnya hanya itu saja. Sampai akhirnya ia pergi ke Jakarta untuk mencari berita itu tapi malah tak mendapatkan apa-apa. Dan karena itu ia bisa punya usaha dan hidup di Jakarta dengan bahagia seperti saat ini.

__ADS_1


Ponselnya yang berdering lagi oleh nomor ayah Dera akhirnya Aran langsung turun untuk mencari Dera. Siapa tahu ada yang penting untuk Dera ketahui juga.


__ADS_2