
Pagi ini setelah sholat subuh Nanang langsung bergegas berangkat ke tempat pertemuan para rekan pembisnis. Dari beberapa pengusaha pabrik yang akan hadir hanya beberapa saja yang ia kenal. Karena sifatnya yang pendiam maka ia memilih diam jika sering ada pertemuan.
Walaupun Nanang di tempat pertemuan tapi pikirannya terus masih di kamar Dera. Dia tadi pagi sebelum berangkat ke pertemuan sempat masuk ke kamar Dera dan mengecup kening Dera yang masih tertidur. Ia ingin Dera tidur nyenyak makanya ia tak membangunkannya. Nanang mulai berani mencium kening karena ia juga sudah diberikan restu dari sang nenek dan ibu tercinta. Nenek juga akan berusaha untuk membantu menyatukan mereka jika Nanang memang berjodoh.
Hingga tak terasa ia di panggil rekan bisnisnya yang lama tak bertemu selama hampir 1 tahun yang lalu. Ya dia adalah Aran karena bekerja di bidang yang sama maka mereka merupakan satu rekan bisnis. Bedanya pabrik Nanang lebih besar dan menyangkup berbagai konveksi dari baju, tas, topi, dan masih banyak lagi.
"Lama tak jumpa anda bagaimana kabar anda tuan", sambil menepuk pundak sang Qosim yang terus tersenyum. Wajahnya berbeda dari setahun yang lalu terlihat lebih ceria.
"Aduh maaf tuan Aran, aku tak memperhatikan anda. Baru tiba atau sudah dari kamar anda?". Karena pertemuan itu berlangsung dua hari maka dilakukan di hotel sekalian untuk istirahatnya dan berlibur. Melihat pemandangan asri di daerah kebon teh di pegunungan itu.
"Tak apa tuan Qosim aku yang minta maaf mengagetkan anda. Sepertinya sedang bahagia sekali apa yang membuat anda sebahagia ini tuan?".
"Em, tidak ada tuan Aran aku hanya membayangkan jika di panggil dengan sebutan Ayah", ujar Nanang Qosim tadi. Ia tak habis pikir jika ia bermain dengan anak-anak Genduk dan akan di panggil dengan sebutan Ayah.
"Apakah taun Qosim sudah menikah?
Saya tak tahu kabar bahagia ini tuan".
"Tak apa tuan Aran ini baru akan terlaksana kok. Aku baru mendapatkan restu dari nenek dan ibuk doa kan saja akan cepat terlaksana", sahutnya sambil mengajak untuk masuk ke ruang rapat di hotel itu. Seperti ruangan meja bundar yang bisa di buat untuk berpuluh-puluh orang sekaligus. Karena Aran dan Nanang Qosim sudah begitu akrab maka mereka memilih duduk untuk berdekatan.
Saling fokus dan memperhatikan apa yang di bahas di forum ini. Karena itu mereka semua sukses karena di kelompok rekan bisnis semuanya sepakat untuk membuat harga yang akan sama agar tak ada persaingan yang ketat nantinya. Semuanya dapat merasakan bagaimana mendapatkan order yang melejit pula.
Hingga sekitar 2 jam pertemuan itu telfon milik Nanang Qosim berdering. Aran yang ada di sampingnya masih sedikit bisa mendengarkan suara dering ponsel itu. Karena sampai dua kali dering akhirnya Nanang menerima karena itu nomor rumah takutnya ada sesuatu yang penting.
"Nanang, gawat Dera pingsan Nanang dan terjadi pendarahan". Berita yang memilukan bagi Nanang dimana rumah dan tempatnya saat ini jauh sekali.
"Apa nek, Genduk pingsan?", pekikan suara Nanang Qosim yang membuat Aran duduk di sampingnya kaget mendengar nama yang Nanang panggil tadi. Ya nama Genduk yang diucapkan tadi seperti nama dimana semalam ia baca di ijasah SMA Dera. GENDUK DERANI apakah mungkin ada kesamaan nama atau emang mereka adalah sama. Bukanya fokus pada pembahasan Aran juga sedikit mendengarkan apalagi yang di bicarakan di ponselnya tuan Qosim.
__ADS_1
"Ok, ok nek aku akan cari penerbangan secepatnya agar akau masih bisa menunggu Genduk di rumah sakit nek, Ibuk suruh panggil ambulance secepatnya nek", kekhawatiran Nanang langsung meninggalkan ruangan rapat tanpa berpanjang dengan Aran. Aran tahu jika pasti sangat binggung karena ia juga penasaran akhirnya Aran menyusul ke luar dan memanggil Nanang berharap akan menemukan apa yang ia pikirkan.
"Tuan ada apa sepertinya anda khawatir?".
"Maafkan saya tuan, saya lupa berpamitan. Ini ada hal penting yang harus saya lakukan karena keluarga saya ada yang terkena musibah". Pamit tuan Qosim yang akan naik ke atas mengambil kopernya. padahal koper itu belun juga ia tata bajunya.
"Tadi anda menyebutkan nama Genduk itu apakah anak anda tuan?", tanya Aran hati-hati takut ketahuan maksudnya.
"Genduk bukan anak saya pak, tapi mungkin calon istri saya nantinya. Ya udah pak Aran saya pamit dulu ya".
Setelah Qosim naik ke lift Aran binggung antar mau ikut dan memastikan sendiri apa yang ia pikirkan benar apa melanjutkan rapatnya. Ia masih yakin jika itu adalah takutnya Dera tapi nama juga kadang bisa sama. Karena binggung akhirnya Aran memutuskan untuk menunggu Qosim turun ke bawah lagi.
" Tuan Aran kenapa gak masuk ke ruangan rapat?. 'Saya sudah mau pergi pak Aran", tegur Qosim yang baru keluar dari lift tadi.
"Em,, maaf tuan saya hanya menunggu ada untuk pamitan saja. Oya tuan jika anda akan segera menikah jangan lupa kabari saya ya tuan, saya akan datang", ucapan Aran yang akhirnya tak berani tanya-tanya lagi mengenai Genduk lagi. Tapi setelah Nanang Qosim pergi tadi Aran langsung menghubungi Raka untuk mencari tahu sendiri apa yang sebenarnya terjadi. Perasaan ya itu adalah benar.
Di dalam ruangan rapat Aran tak bisa fokus, sesekali ia melihat ponselnya menanti kabar dari sang asisten. Ia ingin mengetahui informasi itu sebelum Qosim sampai sana. Karena tak kunjung mendapat informasi akhirnya ia memutuskan untuk ke toilet membasuh muka agar tak kelihatan tegang.
"Kring,,,kring..
Ponsel Aran berbunyi. Raka sang asisten akhirnya menghubunginya. Ia langsung mendengarkan apa yang Raka dapatkan tentang informasi tadi yang ia mintai.
"Maaf tuna saya sudah di depan rumah tuan Nanang Qosim tapi tak menemukan sesuatu. Saya binggung harus tanya siapa untuk hal yang anda suruh ke saya tadi". Pertanyaan yang membuat Aran geram. Punya asisten tolol sepertinya. Padahal tinggal mencari informasi pada security atau apa malah menghubunginya.
"Cari tau cepat Raka kamu mau aku pecat sekarang juga", sentak Aran geram.
Akhirnya Raka turun dan mengetuk pagar gerbang rumah besar tuan Nanang Qosim berharap bisa bertemu dengan sang scurity atau apa. Tapi di dalam rumah begitu terlihat gaduh ada wanita tua memakai kursi roda yang di dorong oleh asisten rumah tangga untuk keluar dan masuk ke mobil. Melihat hal itu Raka masuk ke dalam mobil lagi untuk jaga-jaga jika mobil di dalam rumah keluar ia akan mengikutinya.
__ADS_1
Benar saja mobil itu keluar dan Raka mengikutinya. Raka binggung mengikut mobil ini benar atau tidak karena ia juga tak mendapat informasi apapun dari anggota rumah sang tuan Qosim. Setelah beberapa lamanya mobil itu turun di sebuah rumah sakit besar. Nenek tadi di antar sang asisten rumah tangga menuju ke ruang administrasi untuk menayangkan nama pasien yang akan mereka datangi. Benar saja ternyata Ibuk Ratmi sudah tiba mengunakan ambulance bersama pasien sedangkan Ibuk Ratmi yang melibatkan Ibuk mertuanya datang langsung mendekatinya.
Itu semua sudah di lihat oleh Raka sendiri, kecemasan semua terlihat begitu dalam. Ia tak mau kehilangan informasi tadi akhirnya setelah nenek tadi sedikit menjauh dari tempat beliau tanya Raka pun gantian mencari informasi yang ia inginkan.
"Sus apakah nenek-nenek tadi mencari tahu nama pasien?
Dia nenekku tapi ia tertutup saya tanya akan mencari tahu siapa di sini?", bohong Raka untuk mendapat informasi juga. Bisa di bunuh bos Aran jika ia tak mendapat informasi apapun.
"Oh nenek menanyakan pasien bernama Dera tadi tuan. Nenek tak sempat tanya sesuatu lagi karena sudah di panggil anaknya". Suster tadi menjawab apa yang ia tahu saja.
Raka kaget dengan sebutan Dera. Ia langsung menghubungi nomor bos Aran untuk mendapat pujian dari bosnya itu.
"Bos, saya sedang di rumah sakit ternyata yang sakti namanya di buku pasien Dera bos. Apakah itu Dera bos Aran?".
"Ok awasi disitu menyamar lah duduk di ruang tunggu aku akan terbang kembali pulang melihat sendiri apa yang sebenarnya Qosim tutupi nanti. Karena tadi ia menyebutkan nama Genduk sedangkan disebut Dera. Itu kan nama yang aku kasih ke kamu semalam kan!".
Pekerjaan yang menyenangkan karena Raka hanya duduk di ruang tunggu dan menyamar jadi pengunjung. Ia memakai masker dan topi untuk menutupi jati dirinya. Dari dekat ia masih bisa melihat gerakan gerik keluarga tuan Nanang Qosim tadi. Di depan ruang UGD yang masih menyala tandanya sang pasien masih di tangani sang dokter ahli.
Beberapa menit dari itu sang tuang Qosim datang dengan sedikit berlari menuju keluarga. Setelah memeluk sang ibu ia langsung mencium pipi sang nenek. Raka yang melihat itupun kagum ternyata sang rekan bisnis bosnya sangat berhati lembut seperti itu. Akhirnya sang tuan meminta penjelasan yang sebenarnya terjadi pada Genduk. Ya benar tuan Qosim memanggil dengan sebutan Genduk sedangkan sang Ibuk dan nenek memanggil dengan nama Dera.
"Sebenarnya apa yang terjadi Ibuk mengapa terjadi seperti ini?".
"Tadi pagi pas Dera mau bantu nenek untuk sarapan aku juga ikut masuk ke kamar nenekmu nak. Aku dan nenek meminta Dera untuk cepat menikah denganmu. Aku tak mau kamu kecewa lagi. Jika itu semua hanya masalah kehamilannya aku sama nenek siap menganggap dia cucu kami juga. Tapi mungkin Dera kepikiran dan setres saat itu ia langsung menangis dan berdiri entah kami tak tahu akhirnya Dera memegangi perutnya dan langsung pendarahan seperti ini. Kami panik dan menghubungi kami tadi nak", penjelasan sang Ibuk yang ternyata di rekam oleh Raka untuk bukti ke bosnya. Ia langsung mengirimkan video tadi tapi tak bisa mungkin sang bos besar masih di penerbangan.
Sedangkan Nanang yang tahu alasan Genduk seperti ini binggung karena sang Ibuk dan nenek hanya ingin membantunya. Tapi kenapa Genduk pendarahan apakah ia tertekan dengan situasi ini. Karena itu setres ia langsung duduk di kursi tunggu dan memegangi kepalanya. Ia tahu jika Genduk akan sulit ia dapatkan tapi usaha dan doanya tak pernah ia putus.
Bagaimana kelanjutan Aran dan Nanang nantinya. Kita tunggu Dera akan memilih Nanang Qosim atau sang suami mas Aran. Jika kakak komentar yang kakak pilih dan benar mungkin dapat ekstra episode ❤️😘🥰😍
__ADS_1