
"Udahlah mas Dera malu", serunya sambil memukul-mukul dada bidang Aran. Walaupun ia ingin sekali merasakan dimanjakan tapi jika seperti ini ia sedikit risih sendiri jadinya. Apalagi selama ia menjalani kehidupan dengan mantan suaminya dulu tak pernah ia diperlakukan seperti itu.
"Mas mau kok, kita ibadah bareng terus lanjut jalan-jalan ya, karena tadi kita nikahnya mendadak aku tak sempat beri kamu apapun Dera". Aran ingin membelikan Dera sesuatu untuk sebagai mas kawin atas pernikahannya tadi.
Tapi Dera menolak hal itu, Dera tak mau begitu banyak yang Aran keluarkan untuknya. Belum uang yang di kirimkan ke keluarganya juga sudah melebihi uang maharnya. "Tak usah seperti itu lah, anggap uang yang mas kirimkan untuk keluarga aku sebagai mas kawin atas pernikahan kita. Agar Dera tak merasa begitu banyak hutang ke mas Aran".
"Tapi kan itu bukan yang aku inginkan Dera, paling gak kamu beli ponsel untuk aku mudah menghubungi kamu apa gitu ya?".
"Udah mas, Dera gak mau juga. Tunggu Dera gajian nanti Dera beli sendiri deh".
"Ya udah kamu kerja sama aku sekarang nanti langsung aku gaji ya". Aran ingin Dera bekerja untuknya lagi. Tapi apakah Dera mau dan mengijinkan hal itu.
"Ah,,, udah lah mas, Dera capek bisa gak minta itu dulu", sambil mengucapkan itu Dera langsung masuk ke kamar Aran untuk ibadah. Sedangkan Aran lari mengikuti Dera untuk menjadi imamnya. Setelah selesai berdoa Dera dengan patuh mencium punggung tangan suami barunya. Masih siang tapi Dera udah merasa mengantuk dan ingin melanjutkan tidurnya yang seperti terganggu tadi.
*********
Di pabrik dimana bos mereka tak berangkat menjadi pusat pembahasan karena tak biasanya akan libur atau seperti ini. Apalagi Bagus yang dari tadi pagi marah-marah membuat semuanya takut untuk membuat masalah dengannya. Apapun kesalahan kecil pun langsung Bagus maki semakinya seolah-olah ia sedang melampiaskan kekesalannya.
Waktu istirahat Bagus yang menyendiri setelah membuat kopi langsung di dekati oleh teman akrabnya.
__ADS_1
"Gus kamu kenapa sih, sepertinya mood kamu hancur dari pagi?
Apa jangan-jangan kamu udah ditolak yang sama anak baru yang kamu ceritakan kemarin". Tak tahu jika itu yang membuat moodnya hancur ucapan itupun luluh seperti di suruh keluar sendiri.
"Udahlah jangan bahas itu aku gak ingin kamu juga kena imbasnya, aku lagi gak mau diganggu mending kamu pergi dari sini!",marah Bagus yang tak bisa terkontrol sama sekali.
"Udah jangan dibuat bingung jika dia tak bisa kamu dapatkan dengan cara baik maka bisa di dapatkan dengan cara kita kemarin bro". Hasutan yang sangat membuat api dalam benak Bagus tersulut lagi.
"Yang kemarin kita rencanakan aja gagal kan, dia gak berangkat sekarang. Apalagi dia pergi sama pak Aran saat ini", penjelasan Bagus yang tahu jika mungkin tak ada lagi kesempatan itu datang lagi.
"Kita tunggu lengahnya saja bro, masih ada cara yang lainkan paling enggak kamu jadi udah pernah merasakan dengannya". Hasutan teman Bagus membuat Bagus terdiam memikirkan cara yang lain untuk mendapatkan itu semua.
Sepeninggal temannya tadi Bagus mendapatkan ide untuk mendapatkan Dera. Ia yakin jika Dera akan langsung terpikat olehnya. Jika Dera udah terpikat maka ia akan langsung pamit keluar dari pabrik ini. Selama kerja disini Bagus berfokus untuk mendapat istri yang cocok menurut pilihannya bukan karena untuk menyambung hidupnya itu. Usah yang sudah ia miliki sudah bisa menghidupi dalam 2 keturunan mungkin.
*****
Sedangkan ditempat lainnya Dera dan Aran yang seharian hanya istirahat tak mau memikirkan hal tentang pekerjaan pun bisa terlelap dengan pulas. Apalagi Aran yang tertidur dalam keadaan memeluk erat tubuh Dera. Sekarang tubuh tinggi kurus itu sudah menjadi candunya untuk penghantar tidurnya. Sebelum ia berhasil memeluk dan menggoda Dera pasti Aran belum bisa tidur sama sekali.
Dera yang terbangun duluan dari Aran pun menatap wajah yang sudah sekian jam yang lalu menjadi suaminya itu. Ada rasa tak percaya bahwa ia ke Jakarta ini hanya untuk di jadikan istri orang, itupun nikah siri. Sambil melihat wajah yang terlelap Dera berdoa agar ia tak disakiti seperti saat masih bersama suaminya yang lalu. Tapi ada satu hal yang Dera inginkan saat ini, ia belum sanggup untuk mengandung anak dari Aran takut jika ia akan ditinggikan nantinya. Butuh bukti agar Aran tak meninggalkannya baru ia bisa menuruti apa kemauan Aran tersebut.
__ADS_1
"Mas, Dera mau ke kamar mandi mas udah dari semalam Dera gak telfon Ayah sama Ibuk juga. Kangen sama Teo juga mas". Semua pikiran Dera langsung di ucapan setelah Aran sedikit membuka matanya dan menatap wajah ayu Dera.
"Kamu hubungi saja disini mas mau dengar suara mereka juga Dera". Permintaan Aran yang sambil menyerahkan ponselnya ke Dera. Mungkin kalau hanya ke kamar mandi untuk menghubungi keluarganya Aran juga ingin mendengarkan juga. Toh sekarang ia juga sudah suaminya.
Dera pun menurut dan menelfon keluarganya, rasanya ia kangen sekali baru sehari tak menghubungi mereka aja. Dalam deringan ke tiga akhirnya telfon itu di angkat oleh Teo yang ternyata sedang bermain ponsel kakeknya.
"Halo Ibuk,, Teo kangen Ibuk". Teo bicara dengan nada keras yang membuat Aran melihat wajah anak yang ia ketahui sebagai Teo tadi.
"Ibuk,,, siapa itu kenapa Ibuk sama laki-laki?". Belum juga Dera menjawab pertanyaan anaknya tadi, namun sudah di tanyai lagi perihal Aran yang tiba-tiba nongol di belakangnya. Dera langsung mencubit perut Aran karena ulahnya tadi.
"Nak, nak ada apa kok teriak-teriak", suara Ibuk Dera yang sepertinya mendekati Teo tadi.
"O, ibukmu to yang telfon. Gimana kabarnya Dera, Ayah tadi bilang jika kamu kirim uang jadi langsung di cek Ayah barusan. Tapi kami kaget begitu besar sekali kamu mengirimkannya buat kita?". Ibuk Dera langsung menanyakan apa yang di takutkan oleh Dera tadi. Dera yang bingung mau jawab apa langsung di pegang pergelangan tangannya oleh Aran untuk segera menjawabnya takut Ibuknya semakin menunggu lama.
"Oh,,itu buk Dera habis jual ponsel Dera dan hasilnya Dera kirim ke Ibuk buat kebutuhan disana. Dera untuk sementara pakai ponsel bos Dera gak apa-apa Ibuk asal Ibuk tercukupi semua buk". Akhirnya Dera menjawab asal-asalan.
"Nek, tadi ada ayah di dekat Ibuk, Teo tau nek". Rengekan Teo yang membuat Ibuk Dera bingung karena cucunya tak pernah berbohong.
"Kamu sama siapa Dera kok Teo bilang gitu?", tanya Ibuk Dera langsung pada intinya. Siapa yang dimaksud sang ayah dari Teo barusan.
__ADS_1
Dera yang gugup bingung mau jawab apa, masak ia jawab jika sedang sama bosnya sedangkan ia tak terlihat di kantor untuk saat ini.