
Aran yang tak menemukan Dera tadi langsung bergegas pulang untuk menanyakan pada Gendis apa yang sudah Gendis bicarakan pada Dera tadi. Ia takut jika Dera akan berfikiran yang aneh-aneh padanya. Ada anak Aran yang sedang di bawa Dera saat ini.
Dengan amarah akhirnya Aran sampai ke rumahnya lagi dan langsung masuk kedalam. Tak menghiraukan dia yang juga belum makan siang sama sekali. Yang ia pikirkan hanya dimana ia akan menemukan Dera saat ini.
"Gendis, kamu enak-enakan ya disini bisa makan sedangkan Dera yang aku cari tak ketemu sama sekali. Sebenarnya apa yang kau ucapkan tadi pada Dera, Gendis?", kemarahan atan yang sudah di depan Gendis yang sedang makan di meja makan.
"Aku hanya bilang kalau aku gak mau mas Aran selingkuh dengan wanita murahan seperti dia. Itu kan kenyataannya apakah mas Aran tahu bagaimana perasaan aku?
Aku benci sama mas Aran rasanya aku tak mau ketemu mas Aran lagi, tapi anak ini pingin ketemu kamu mas Aran", jawab Gendis yang langsung berdiri sambil menunjuk-nunjuk Aran.
Ia tak mau jika kasih sayang Aran dibagi dengan wanita lain yang Gendis juga tak kenal padanya.
__ADS_1
"Asal kamu tahu Gendis dia sedang hamil anakku, dia tak punya siapa-siapa di sini. Dan kamu tahu Gendis kami gak selingkuh kami juga...". Belum juga Aran selesai bicara ia tak bisa melanjutkan ucapannya lagi. Rasa sesak di dadanya melebihi rasa yang ia pendam membuat ia tak sanggup berkata lagi. Karena hal itu Aran langsung duduk di kursi kayu di ruang makannya.
Sedangkan Gendis yang dengar jika Dera sedang hamil anak mas Aran begitu kagetnya. Apa yang sedang di lakukan mas Aran-nya itu. Tak dapat ia cerna sama sekali rasanya. Makanan yang barusan ia telan rasanya sudah menutup tenggorokannya. Jika tak di berikan air minum mungkin akan terhambat dan membuat ia mati tak bisa bernafas lagi.
Akhirnya kedua orang tadi diam dalam posisinya masing-masing. Aran diam ingin mencari Dera kemana lagi. Sedangkan Gendis juga binggung akan berbuat apalagi dia saat ini. Hancur sudah perasaan wanita yang sedang hamil tua itu. Dia tak menyangka jika kepergiannya ke rumah ini lagi akan mengetahui hak besar yang ternyata mas Aran tutupi. Hanya tangisan Gendis yang bisa mengungkapkan perasaannya. Ia tak tahu harus cerita pada siapa lagi. Karena ini urusannya dengan mas Aran.
"Ok mas Aran cari aja Dera, aku pamit dan ingin pulang aku bisa gila karena mas Aran ini", ucap Gendis yang langsung pergi dan langsung mengambil tas branded miliknya tadi. Karena pabrik yang diberikan oleh mas Aran dulu juga berkembang maka ia bisa sedikit hidup mewah. Usah yang Aran tak pernah memperhitungkannya hanya untuk dia dan anaknya nanti. Walaupun mas Aran pernah marah padanya mungkin sampai sekarang pun masih semakin marah tapi Gendis tahu di lubuk hatinya ia sangat sayang padanya.
"Tuhan jangan kau coba aku seperti ini. Baru saja aku merasakan kehidupanku akan kembali tapi kenapa kamu buat aku jatuh lagi". Rasanya Aran lelah dalam keterpurukan terus. Ia ingin bangkit tapi tak ada semangat lagi karena hal ini. Usaha yang ia miliki terus saja semakin besar tapi urusan dalam kehidupannya selalu hancur. Tak mau hanya meratapi hal ini akhirnya Aran langsung naik ke kamarnya dan akan mandi. Mungkin setelah ia mandi bisa menemukan cara untuk mendapatkan Dera kembali. Hanya menguntungkan baju santai akhirnya Aran pergi dari rumahnya dan mencari Dera kembali. Ia berharap sore ini akan menemukan Dera dan mengajaknya pulang kembali. Aran akan berjanji membahagiakan Dera dan anaknya nanti. Karena anak yang Dera kandung benar adanya anak Aran.
Di tempat lain Dera yang berjalan sambil menenteng paper bag berisikan makanan tadi terus saja berjalan karena tak sanggup untuk memesan taksi atau aplikasi ojek. Hanya tinggal 3000 rupiah yang ada di saku bajunya. Bisa dibayangkan uang segitu jika tak dibawakan makanan dari buk Ratmi mungkin Dera akan menahan lapar dulu. Tapi sepertinya nasib si jabang bayi emang baik jadi ada makanan gratis untuknya.
__ADS_1
Mungkin Dera saat ini hanya memikirkan bagaimana ia berpamitan dengan Santi. Karena besok pagi saat Santi pulang kerja Dera akan langsung pergi dari kontrakan Santi. Tak enak jika harus lama-lama menumpang toh dia besok juga sudah bisa berkerja. Semoga saja Bu Ratmi orang yang baik nantinya. Dengan langkah kecilnya akhirnya Dera tiba di kontrakan Santi yang tergolong kecil itu. Ia langsung membersihkan badannya dan rebahan di kasur milik Santi. Seharian ia tak istirahat sama sekali. Sambil mengingat ucapan Gendis tadi pagi Dera mengusap perutnya yang masih rata.
"Sayang, maafkan Ibuk kamu tak bisa bersama dengan ayahnya lagi mulai hari ini. Kita tak sepantasnya ada di dekatnya. Tapi Ibuk berjanji jika kamu akan Ibuk rawat sepenuh hati Ibuk. Dan Ibuk minta ke kamu jangan rewel lagi ya mulai besok. Kami harus patuh sama Ibuk jangan buat Ibuk susah sendiri sayang. Kita kerja untuk kamu dan kakek nenek di rumah juga kakak Teo". Sudah penuh rasanya penderita Dera sampai saat ini. Dua kali ia hamil dua kali pula ia harus merasakan tak di perhatikan oleh suaminya. Pas adzan Magrib berkumandang Dera tanpa sengaja menitihkan air mata karena doanya tadi. Tak mau mengaduk ke siapapun akhirnya Dera menunaikan ibadahnya untuk mengadu.
Aran yang sangat merasa lapar dari siang tak juga makan akhirnya ia makan di lesehan pinggir jalan. Dengan memesan makanan ia langsung duduk dan makan agar tenaganya pulih. Tapi baru 5 kali suap ia tersedak dan langsung terbatuk-batuk.
"Uhuk,,, uhuk..
Baru akan mengambil minumannya ada suara dari seberang yang membuat Aran langsung menengoknya.
"Di kangenin pak itu sama anaknya !!", entah siapa tapi sepertinya omongan dia benar adanya. Ada anak yang kangen padanya dan mungkin saja ia belum makan saat ini. Aran tahu Dera tak bawa uang sedikit pun tak mungkin jika Dera bisa belanja nantinya. Dan Dera tidur dimana Aran juga tak tahu. Tak selera makan, akhirnya Aran langsung berdiri dan membayar makanannya. Melanjutkan perjalanan untuk mencari Dera lagi. Aran tahu di kamarnya sudah tak ada baju di lemari Dera. Dapat dipastikan jika Dera tak bermaksud untuk kembali pulang.
__ADS_1