
Aran berfikir bagaimana ia mencari ijin untuk Dera ke atasannya. Walaupun ia sebagai bos di sana tapi Dera tetap harus ijin agar ia tak di keluarkan dari pabrik. Dengan melihat Dera yang masih ngos-ngosan dan memejamkan mata, Aran tahu jika Dera sangat kelelahan apalagi semalam ia melakukan dengan begitu maraton. Seperti baru pertama kalinya melakukan tadi malam sampai Aran minta untuk terus melanjutkan.
Akhirnya dengan susah payahnya Aran mendapatkan ide untuk mengijinkan Dera untuk libur kerja. Dengan cepatnya dia bangun dan pergi ke blangkon kamarnya dan menghubungi Bagus, karena Dera sudah tertidur di ranjangnya dan takut akan terganggu dan terbangun.
"Bagus saya hanya akan mengijinkan Dera untuk tak masuk hari ini, dia mendadak menemani saya ke kota B untuk urusan keluarga disana", ucapan Aran yang padat jelas dan beribu-ribu makanya untuk Bagus.
"Iya pak saya ijinkan", balasan Bagus yang mau tak mau mengiyakan jika dengan bosnya ia tak bisa berbuat apa-apa.
Bagus begitu bingung apa yang terjadi pada Dera dan bos-nya sampai mereka harus libur dan pergi bersama. Rencananya untuk mencelakai Dera juga tak jadi. Karena frustasi dengan apa yang sudah ia rencanakan gagal Aran langsung memarahi beberapa anak buahnya sendiri. Sedangkan Aran yang selesai menghubungi Bagus langsung ikut kembali tidur disamping Dera. Mungkin akan beberapa saat sebelum Dera bangun. Benar saja pagi ini mereka istirahat dengan begitu pulas tapi siapa sangka jika sudah pukul 9 pagi mereka juga belum bangun. Gedoran pintu gerbang milik Aran begitu bising saat ini. Biasanya tak seperti ini apalagi baru kali ini Aran dirumah siang-siang. Dera yang mendengarkan hal itupun langsung membangunkan Aran yang ada di belakangnya itu.
"Mas, mas Aran bangun, sepertinya ada yang bertamu mas", kata Dera sambil menggoyangkan tangan Aran.
"He,,, apa Dera mas masih ngantuk", ucapan Aran yang masih terpejam. Karena rasa lelah dan kantuknya Aran sampai tak mau langsung bangun dan melihat siapa tamunya.
Dera yang tak bisa membangunkan Aran langsung menuju ke jendela kaca ruangan itu dan melihat apa yang begitu ribut di depan rumah itu. Dan betapa kagetnya Dera setelah melihat berapa orang yang ada didepan gerbang rumah Aran sambil memukul-mukul gerbangnya. Dengan panik akhirnya Dera memakai pakaiannya dan membangunkan Aran, mau tak mau harus juga bangun. Karena goyangan tangan Dera yang sangat keras akhirnya Aran bangun dan menanyakan apa yang terjadi sehingga dia membangunkannya itu.
"Ada apa sih Dera, mas ngantuk banget", marah Aran yang terganggu akan Dera.
__ADS_1
"Mas pakai baju sekarang mas, diluar banyak sekali orang, tu dengar suara gerbang mas di gedor-gedor mas", jelas Dera yang semakin bingung mau berbuat apa.
Aran yang tahu hal itu langsung mengambil baju dan memastikan jika Dera benar mengucapkan hal itu. Betapa ia kaget karena ternyata Dera tak bohong. Beberapa orang yang masih di luar gerbang mencoba memukul-mukul gerbang itu. Aran langsung berlari turun dan keluar yang di ikuti Dera dibelakangnya. Sampai di pintu utama Aran membuang nafas dan mengatur konsentrasinya agar terlihat lebih rileks lagi.
"Check,,,
Suara pintu utama Aran terbuka. Aran keluar dan di ikuti oleh Dera dibelakangnya. Langsung saja orang-orang yang ada di depan gerbang itu teriak meminta si empunya membukakan pintu gerbang yang tinggi itu. Dengan cepat Aran membuka gerbang kokoh itu dan menemui apa yang sebenarnya sedang terjadi.
"Maaf pak, ada apa ya", tanya Aran pada sekelompok bapak-bapak yang ada di depan gerbang tadi. Dera yang takut puh hanya terdiam di belakang Aran dan bersembunyi.
"Pak Aran dari tadi kita datang kemana aja pak? Bapak Aran tahu gak para Ibuk bingung kenapa melihat asap mengepul di rumah pak Aran? Bapak emang sedang apa sih dari tadi kami disini, sampai kami capek pak?", ucapan bapak selaku RT di komplek itu. Karena jika ada apapun yang maju pertama adalah RT setempat. Sedangkan setelah bisa masuk ke rumah pak Aran para ibu yang dekat rumah pak Aran satu demi satu tiba ditempat itu juga.
"Astaga Dera lupa", ucap Dera yang langsung masuk ke rumah di ikuti Aran dan bapak serta Ibuk yang tadi.
Dera langsung lari ke ruang setrika ternyata ia tadi masih menghidupkan setrika yang mana setelah mengantarkan baju untuk Aran ia tak kembali ke ruangan itu. Meja setrika yang sudah berlubang karena kena panasnya setrika sudah lebih dari 4,5 jam setrika itu disitu.
Langsung saja Aran lari ke tempat dimana saklar itu ada dan mencabutnya. Para Ibuk dan bapak yang ada disitu langsung keluar ruangan dan menunggu sang pemilik rumah keluar. Karena urusan mereka sudah selesai. Tapi Ibuk RT yang ada didekat Dera yang bingung kenapa di rumah Aran ada wanita yang notabenenya Aran tak pernah memperkenalkan pada lingkungan sekitarnya.
__ADS_1
"Pak Aran, siapa wanita ini pak?
Dan apa hubungannya dengan Bapak?", pertanyaan Ibuk RT yang lebih peka dari pak RT yang baru menyadari hal itu setelah istrinya menanyakan hal itu.
Dera yang merasa terpojokkan pun bingung mau berbuat apa. Sedangkan Aran juga memikirkan apa yang harus ia jawab. Tapi semua orang yang ada disitu jadi diam dan menunggu jawaban dari Aran.
"Em,, ini karyawan pabrik saya buk, pak", kata Aran yang langsung bilang seperti itu.
"Tapi kenapa di rumah pak Aran, ada hubungan apa pak?", tanya Bu RT yang ingin jawab jujur dari Aran tadi.
"Ya dia sambil kerja di rumah saya buk untuk bantu bersih-bersih", jelasnya pada semuanya.
"Sejak kapan pak, kenapa pak Aran tak memberitahukan kepada kami?", tanya pak RT gantian karena sudah merasa tertipu.
"Sejak,,, em 5 hari yang lalu pak, maaf saya belum lapor sama bapak dan semuanya", jelasnya yang merasa melupakan kewajibannya itu.
"Oh sudah 5 hari ya pak Aran! Jadi ini apa yang pak Aran?", tanya Ibuk RT yang langsung memperlihatkan beberapa tanda merah di leher Dera yang masih berwarna merah, itu tandanya masih baru di buat.
__ADS_1
Semuanya langsung melihat leher putih Dera yang tadi di tunjuk oleh Ibuk RT tadi. Karena semuanya juga tahu hal itu langsung gaduh di rumah Aran itu meminta penjelasan tentang hal itu. Tak mau pergi sebelum Aran atau Dera sendiri yang menjelaskan. Dera yang merasa terpojokkan langsung mendekat pada Aran dan membenamkan wajahnya di punggung Aran ia tak kuasa menahan air matanya yang akhirnya jatuh tak terbendung sama sekali. Ketakutan terulang lagi seperti beberapa tahun yang lalu. Dimana ia di hakimi dan di cemoh begitu banyak orang.