
Setelah perjalanan Aran mencari Dera berlanjut Raka tanpa sengaja mendengar telfon milik pak Aran berbunyi. Karena fokus melihat kanan kiri jalan Aran sampai tak mendengarkan telfonnya sendiri berdering.
"Pak Aran, maaf pak ponselnya berbunyi pak", kata Raka yang mengingatkan hal itu.
"Oya terima kasih Raka", kata Aran yang langsung mengambil ponselnya tadi di dalam saku celananya. Setelah ponsel itu sudah ia ambil betapa ia terkejut saat melihat nama Ayah Dera yang sedang menghubunginya. Antara mau ia angkat atau gak karena ketakutannya. Raka pun tahu jika bosnya sedang ketakutan. Karena panggilan itu tak kunjung mati akhirnya Aran berniat akan mengangkat telfon itu walaupun nanti ia akan berbohong maka ia tak mau membuat orang tua Dera menunggu.
"Assalamualaikum pak", suara Aran yang sudah mengangkat panggilan tadi.
"Pak bos, apakah saya boleh bicara dengan Dera, anaknya menangis terus dari pagi rasanya kami gak sanggup untuk menenangkannya", ucapan pak Toso yang membuat perasaan Aran semakin sakit. Ada rasa haru karena Teo yang sekecil itu bisa merasakan jika Ibuknya sedang dalam masalah.
"Maaf pak, Dera saat ini kerja lembur jadi saya belum bisa ketemu dengan dia pak, apalagi saya juga ada kerjaan di luar kota pak", bohong Aran pada pak Toso Ayah dari Dera itu. Sebenarnya ia tak mau berbohong tapi demi kebaikan semuanya. Sampai pada akhirnya panggilan tadi selesai karena Teo suda mau menerima penjelasan Aran.
Malam ini Aran tak menemukan titik terang keberadaan Dera. Sudah 5 rumah sakit ia datangi tapi tak ada nama pasien Dera yang dirawat di sana. Karena Aran kasihan dengan Raka tadi Aran meminta untuk istirahat di daerah pasar dimana mobil box tadi berada. Sambil minum kopi Aran melihat sekitar sana berharap ada sedikit celah untuknya biar mendapatkan kabar Dera.
__ADS_1
Mungkin hanya kopi hitam yang bisa membuat perasaannya kembali pulih lagi. Rasa kehilangan dan rasa bersalah telah membiarkan Dera sampai di culik seperti ini. Rasanya ia sudah tak bisa lagi seperti ini. Akan lapor polisi tapi belum ada 24 jam dari kehilangan Dera tadi. Tapi mungkin Tuhan juga lebih menginginkan Dera bersama dengan Aran. Itu terbukti karena tanpa sengaja Aran melihat dua orang sedang berbincang-bincang. Dari kejauhan tampak satu orang yang mesih memakai rompi parkir dan itu orang yang tadi memberikan kunci mobil pada Aran tadi. Tapi yang satu dapat Aran pastikan jika ia bukan Bagus karena postur tubuh mereka tak sama. Bagus yang tak setinggi Aran terlihat berbeda dengan orang yang sedang bersama tukang parkir tadi tinggi.
Tapi tak mau ambil pusing akhirnya Aran berjalan ke tempat kedua orang tadi berbicara. "Pak maaf pak apakah bapak masih ada informasi terbaru dari orang yang bawa mobil tadi pak. Saya sudah mencari di 5 rumah sakit tapi tak mendapatkan informasi sama sekali tentang adik saya", tanya Aran yang sudah mendekat ke tempat kerumunan kedua orang tadi.
"Wah saya tidak tahu pak, beneran saya gak kenal siapa orang itu. Apakah bapak mengawasi saya dati tadi?", tanya juru parkir yang merasa jika Aran juga sudah mengawasinya dari tadi. Takut jika ada sesuatu yang sudah Aran ketahui.
Aran yang tahu ada yang tak beres hanya menjawab jika ia baru saja datang. Dan satu orang yang ada didekat juru parkir tadi langsung pamit pada orang yang ditanyai oleh Aran tadi yaitu juru parkir yang berbohong tadi. Aran yang menyuruh Raka standby di mobil ternyata ada untungnya. Karena setelah orang itu pergi Aran langsung berlari ke mobilnya dan mengikuti kemana dia pergi. Dari arah yang ia tuju sepertinya ia akan pergi ke suatu tempat. Tapi setelah ia tahu jika ada mobil yang mengikutinya mobil menambah kecepatan yang ia keluarkan melebihi batas wajar berkendara. Apalagi malam ini sudah tak begitu ramai jadi bisa leluasa di jalan.
"Kita ikuti gak pak sepertinya ini bukan jalan umum", tanya Raka yang menghentikan mobilnya sebelum ia melanjutkan perjalanannya. Ada rasa takut jika orang tadi orang yang sangat jahat dan akan mencelakakan mereka berdua.
"Ikuti saja aku tahu jika dia anak buah Bagus yang tadi tanpa sengaja memberikan uang pada juru parkir pasar tadi", ucapan Aran yang meyakinkan Raka untuk ikuti mobil itu. Jika terjadi apa-apa pasti BPJS yang ia butuhkan sudah ditanggung bos besar koneksinya. Walaupun Aran tak memiliki beberapa cabang tapi pabrik yang ia miliki sudah cukup besar dan bisa untuk mencukupi kebutuhan beberapa keluarga anak buahnya.
Mobil Aran yang baru ia beli beberapa bulan sebelum ia bertemu dengan Dera akhirnya masuk di dalam hutan mengikuti dimana ia mendapatkan sorot lampu mobil lain. Karena tadi sempat berhenti maka ia sedikit tertinggal dari mobil yang mereka kejar tadi. Tapi masih tetap bisa menemukan keberadaannya.
__ADS_1
Pas akhirnya mereka menemukan ada dua mobil yang terparkir di gudang tua dan ada pula mobil yang mereka kejar tadi akhirnya Aran turun dan masuk kedalam yang di ikuti Raka. Raka tak mau bosnya terjadi apa-apa. Karena mereka tak tahu kalau orang tadi orang baik atau orang jahat.
Pas dari luar Aran yang berhati-hati langsung masuk tanpa mengetuk pintu rusak itu. Walaupun sudah rusak tapi masih bisa ditutup.
"Der,,
Suara pintu yang di tendang oleh Aran. Raka langsung masuk dan mengikuti Aran tadi. Pas didalam ada 3 laki-laki yang terutama yang di jumpai Aran di pasar tadi. Ketiga orang itu langsung berdiri dan memperlihatkan tatapan tak suka pada Aran yang sudah tak sopan seperti barusan. Sudah masuk ke markasnya tapi ia tak memperlihatkan jika sopan sama sekali.
"Mau anda apa?", tanya salah satu orang tadi. Jika di definisikan orang itu tinggi, kulit sedikit sawo matang, berjenggot, dan badan besar. Pokonya kalau Aran kalah besar deh. Bisa-bisa satu tendangan bisa melayang. Tapi demi Dera ia telah menjadi seperti apa yang penting Dera selamat. Ada harapan orang tua Dera yang menyerahkan keamanan Dera padanya.
"Siapa pun aku tak penting, aku hanya ingin ketemu bos kalian", balas Aran yang tak takut sama sekali. Raka saja sedikit takut di belakang Aran.
"Saya bos di sini, sahut satu orang lagi yang di sebelah kanan tadi". Ada rasa penasaran apa hubungannya sehingga mencarinya langsung ke markas mereka itu. Sambil menatap Aran ia yakin jika musuhnya saat ini hanya salah sasaran saja.
__ADS_1