
Dengan adanya masalah ini Dera meminta Aran untuk pulang lebih awal dari sebelumnya. Ia tak bisa tenang sama sekali di ruangan sang suami. Ancaman sang ayah yang masih teringat jelas di telinganya. Hingga akhirnya malam ini Dera tak begitu minat untuk makan. Diperjalanan pulang Dera yang di tanyai mau makan apa saja tak jawab ia hanya memalingkan wajahnya di arah luar mobil.
Aran yang tahu jika pikiran Dera sedang kacau pun memilih diam dan memilih makanan yang akan di makan sang istri. Walaupun ia begitu banyak pikiran tapi bayi yang ia kandung juga harus diberi nutrisi juga. Pas ia sampai di depan kedai sate ayam Aran menghentikan mobilnya dan memesan dua porsi sate untuknya dan Dera. Jika Dera tetap tak mau makan ia akan memaksa agar sedikit makan.
Dera tak mau ikut turun saat ini, pikirannya begitu kacau. Ia memikirkan bagaimana jika sang ayah menolak Aran sedangkan ayahnya belum tahu jika ia sedang hamil. Bayi yang tak berdosa itu sudah 3 bulan di kandungnya. Jika di raba perut itu sudah sedikit membuncit dari biasanya. Apalagi selera makannya juga sudah membaik dari dulu-dulu.
Setelah mendapatkan sate yang ia pesan Aran langsung masuk ke mobil dan mengajak Dera bicara. Ia sudah tak bisa melihat sang istri diam membisu seperti ini.
" Dera, kamu makan dulu gih mumpung masih hangat lho. Anak kita lapar Dera lihat dia melihat ke arah ku terus dari tadi", ucap Aran sambil mengemudikan mobilnya. Ia ingin buat Dera mengingat jika ia juga butuh makan untuk sang anak.
" Mas Aran, Dera pusing mas jika mas Aran gak di terima oleh Ayah gimana?.
Aku gak mau anakku tak mendapatkan kasih sayang dari ayahnya", ucap Dera sambil melihat ke arah Aran yang masih fokus pada jalanan yang padat.
__ADS_1
" Dera sayang, tak akan mungkin aku meninggalkanmu. Aku akan buat Teo dan anak-anakku kelak merasakan kasih sayang dari ku. Dan kamu gak usah ikut pusing biarkan itu semua urusan aku Dera", sahutan yang mengisyaratkan jika semuanya akan baik-baik saja.
" Mas, Dera gak yakin itu semua mas".
" Ok kita bisa berangkat malam ini kalau kamu gak percaya tapi kamu makan dulu habis ini kita langsung siap-siap untuk ke bandara biar diantar oleh Raka", perintah sang Aran yang tahu jika itu tak akan mudah membujuk sang istri. Sebenarnya dia juga takut karena ia belum tahu betul watak dari om Toso. Tapi ia juga harus memperjuangkan haknya sebagai sang ayah dari si jabang bayinya.
Dengan bujukan Aran akhirnya Dera makan satu bungkus sate yang masih hangat tadi. Setelah memutuskan untuk berangkat malam ini Aran melihat penerbangan paling cepat pukul berapa itu ia lakukan di lampu merah. Ia tak ingin tertundanya sedikitpun oleh kabar dari ini. Menyangkut harkat dan martabatnya sebagai laki-laki. Dalam ke panikan ya Aran sampai tak memikirkan siapa yang sudah melakukan hal ini semua. Mungkin jika tahu ia akan memberikan pelajaran untuk si pelaku itu.
Sesampainya di rumah Dera turun dulu dan masuk ke kamar. Ia bertugas menyiapkan kebutuhan yang akan ia bawa nantinya. Sedangkan Aran makan sate tadi sambil marah-marah sama Raka yang sudah berbohong.
Sedangkan Raka yang ketahuan berbohong langsung mengumpat pasalnya ia tahu ada penerbangan saat ini tapi ia ingin jalan dengan sang kekasih jadi biar ada waktu dulu.
"Gila, aku gak jadi main sama my Beby ni. Bisa-bisa dia juga marah lagi sama aku nanti. Tapi jika aku tolak my bos bisa dipecat aku juga. Huuh... marahnya sambil mematikan Putung rokoknya. Karena 30 menit begitu mendadak akhirnya ia mengambil mobil dan langsung menuju ke rumah sang bos besar. Ia memilih pekerjaan untuknya karena pekerjaan bisa mencukupi kebutuhan sang pacar nantinya juga.
__ADS_1
Karena ia yang sudah begitu mahir mengemudikan mobil. Ia hanya butuh 25 menit saja sampai di rumah sang bos besar. Rumah yang begitu megah dari luarnya.
PIM ..PIM..
Suara mobilnya yang menandakan jika ia sudah sampai. Tak menunggu lama akhirnya gerbang itu terbuka dan nampak sang bos juga sudah siap dengan baju santainya.
"Sudah siap bos", tanya Raka sambil tersenyum. Ia tahu jika sang bos akan memarahinya tapi ia tak ambil pusing toh tiap hari ia sering dimarahi jadi mah kebal.ðŸ¤
" Siap palamu peang Raka. Kamu berbohong katanya gak ada jadwal malam ini. Nyatanya ada kamu maunya apa sih?", marah Aran benaran.
" Mas Aran, Dera udah siap kita berangkat sekarang kan?", suara lembut Dera yang datang membuat marah Aran padam. Raka bersyukur adanya Dera tak jadi dimarahi lagi. Ya karena akhirnya bos Aran dan istrinya duduk di mobil tanpa kata lagi. Dera begitu bersemangat dari tadi ia ingin pulang ketemu keluarga apalagi Teo. Tapi takut juga ketemu sang Ayahnya.
Tapi berkat genggaman tangan sang suami Dera yakin jika Aran benar-benar akan memperjuangkan dirinya. Ia tahu tak mudah bagi Aran untuk menyatakan cintanya tapi beberapa hari ini bukti sudah menunjukkan jika ia benar-benar cinta padanya. Sampai-sampai Raka yang melihat perlakuan sang bos hanya geleng-geleng kepala. Bos galaknya bisa berubah seperti itu pada wanita. Sampai-sampai Aran yang tahu jika di lihat oleh Raka langsung melotot pada anak buahnya lewat kaca spion itu.
__ADS_1
Akhirnya Dera dan Aran masuk ke pesawat tujuan bandara Adisucipto Yogyakarta. Raka yang dapat tugas untuk menjalankan tugas sang bos hanya bisa mengiyakan karena ia hanya bawah yang harus tunduk pada atasannya. Pukul 21.00 wib akhirnya pesawat itu terbang menembus gelapnya malam dan mendekati bintang-bintang yang bersinar. Aran sang yakin keputusannya sudah benar. Ini akhir dari perjodohan masa lampau yang akhirnya ia temukan. Tapi ia juga tak tahu pendapat dari sang ayah Dera. Kita tunggu apakah yang ayah Dera ucapan setelah Aran benar-benar meminta restu padanya. Sebagai wali dari Dera ia mungkin akan melupakan emisinya jika ia tahu yang sebenarnya sudah terjadi pada anaknya selama hampir 4 bulan di Jakarta ini. Aku yang nulis ini aja binggung kenapa Dera juga mau nikah siri dulu sama Aran sampai-sampai ia hamil kaya gini. Kalau orang tua Dera gak setuju gimana nasib anaknya lagi.