
Dengan segenap jiwa akhirnya Aran tetap akan mencoba lebih dekat dengan Ayah Dera. Walaupun selama ini ia sudah dekat dengan mereka tapi itu karena dia sebagai bos dari anaknya jika mereka tahu dia sudah menikah dengan Dera walaupun hanya dengan nikah siri dia juga tak tahu apa reaksinya nanti.
"Sayang sebelum makan kita makan dulu ya biar aku pesan dulu?", tanya Aran pada Dera.
"Gak males mas aku mau makan bubur aja, apa mas bisa buatin buat aku?
Anak ini pingin makan bubur buatan kamu!", goda Dera agar mereka tak beli terus. Kebiasaan di rumah yang harus menghemat apapun itu.
"Em,, jika kamu maunya seperti itu mas akan coba. Kamu istirahat dulu ya nanti jika udah matang mas bawa ke kamar", pamit Aran yang sebelum ia ke dapur meninggalkan Dera ia mencium kening sang istri dulu. Kebiasaan yang baru untuknya tapi sangat jadi candu baginya.
"Mas Aran", rengek Dera yang merasa kecolongan lagi. Tapi mau membalas pake apapun dia juga gak bisa karena Aran sudah lari ke luar kamar.
Akhirnya Dera hanya tiduran di kamar sambil menunggu sang suami dan bubur pastinya. Ia ingin istirahat full sebelum akhirnya ia bisa sembuh lagi. Sambil mengusap perutnya ia selalu mengucapkan syukur akan hatinya saat ini. Ia berdoa agar sang anak bisa mendapatkan kasih sayang dan kebutuhan yang layak. Walaupun Teo juga mendapatkan kebutuhannya tapi sayang ia tak mendapatkan kasih sayang dari ayahnya.
Belum juga Dera usai memanjakan doa ponsel dari Aran berbunyi. Ia yang berniat mengambilnya takut jika itu penting langsung mengangkatnya tanpa pikir panjang toh itu nomor baru pikirnya.
" Selamat malam, ada yang bisa dibantu?", tanya Dera pada penelpon itu.
__ADS_1
" Malam nona, apakah ini benar dengan Genduk Derani, sepertinya anda berasal dari kota Y yang tanpa sengaja aku ketahui kendaraan anda sekarang", ucapan yang membuat Dera diam dan mencerna ucapan si penelepon. Pokoknya penelpon misterius bagi Dera yang mana dia tahu tentangnya.
" Anda siapa, dan mau anda apa?
Aku benar Genduk Derani anda jangan main-main dengan saya. Anda tak tahu siapa suami saya?", marah Dera yang ingin mengertaknya.
" Oh, anda sudah menikah ya sama tuan Aran. Aku tahu pastinya susah jadi janda yang menghidupi satu anak. Atau karena kurang belaian setelah cerai dengan mantan suami mu dulu", nada mengejek yang membuat Dera menitihkan air mata. Tak tahu kenapa ia di ingatkan pada sang mantan suami yang sangat ia benci sekali.
"Mau anda apa, aku tak ada masalah dengan anda. Aku tak akan marah jika anda jujur siapa anda tapi jangan ganggu saya lagi", ucapan Dera sambil menangis karena Iskan masih terdengar jelas.
Si penelepon pun diam, dia merasa tak pantas untuk mendapatkan maaf dari Dera. Ia yang bicara tadi saja sudah membuat wanita cantik itu menangis seperti ini. Sungguh sangat jahat ia saat ini. Ya yang telfon Dera saat ini adalah mantan suaminya dulu. Entah yang tadinya ia ingin minta maaf tapi tak bisa terucap dan hanya bisa menjatuhkan Dera. Terbawa suasana hatinya yang mengingat di rumah sakit pas lihat dia di gandeng dengan Aran tadi.
"Jangan Dera, aku mohon aku hanya ingin dengar suaramu yang bahagia itu. Sepertinya kamu bahagia saat ini. Aku begitu ingin bertemu dengan kamu, sudah lama aku mencarimu tapi tak kunjung menemukan kamu Dera", permohonan dari si Bagus. Walaupun dia mengucapkan hal itu tapi Dera tak mengingat jika dia adalah mantan suaminya dulu. Karena begitu banyak rasa sakit yang ia torehkan padanya ia melupakan suara dari Bagus.
" Maksud kamu apa? Aku gak mau ketemu sama kamu, dan tak akan mungkin titik", sahut Dera marah. Dan di saat itu Aran datang membawa dua mangkuk bubur yang sudah matang. Mendengar sang istri marah Aran langsung meminta ponselnya dan mendengarkan apa yang terjadi sehingga Dera semarah itu.
" Kamu siapa, sudah buat istri saya menangis. Jika ada masalah sama saya sini ketemu langsung denganku", suara Aran pada penelpon itu.
__ADS_1
" Oh gak tuan maafkan saya, saya salah sambung dan tolong jaga istri anda sepertinya dia lebih bahagia dengan anda. Jangan buat dia tersakiti untuk kedua kalinya lagi. Karena ia sebenarnya orang yang begitu baik", ucap si penelepon dan akhirnya mematikan ponselnya. Ia tak mau terlalu lama bicara dengan Aran takut ketahuan nantinya.
Aran yang panggilan di putus dengan sepihak langsung marah. Ia langsung duduk dan memeluk Dera yang masih menangis. Ia ingin tahu apa saja yang sudah di ucapkan sebelum ia datang tadi.
" Dera apa saja yang dia ucapkan tadi Dera. Kenapa ia tadi berpesan untuk menjaga mu? Aku tak tahu siapa saja yang mengenalmu Dera", tanya Aran masih memeluk sang istri yang sesegukan.
" Mas, Dera gak tahu siapa dia. Aku juga kaget dia bilang sepertinya aku bahagia dengan suamiku yang sekarang dari pada yang dulu. Aku punya salah apa mas?
Aku sepertinya tak di takdirkan untuk bahagia mas Aran", tangis Dera semaikan keras. Ia tak bisa menahan lagi apa yang ia rasakan. Ucapan orang tadi begitu menyayat hatinya.
" Sudah ada mas di depanmu, aku pastikan ini akan jadi ya pertama dan terakhir bagi dia menghubungi kamu Dera. Dan aku berjanji akan membuat kamu bahagia tak seperti mantan suamimu dulu. Aku akan meminta izin pada Ayahmu dan ibukmu secepat mungkin agar aku bisa menjaga kalian semua", Aran berjanji di depan sang istri.
" Makasih mas Aran aku tak akan melupakan apa yang sudah mas perbuatan padaku dan keluargaku. Aku akan mengabdi untukmu mas. Aku akan siap jika di suruh apapun untuk membalas ini semua mas Aran", suara pelan Dera.
" Benar Dera?
Mas ingin kamu punya anak 4 dari mas. Jadi pastinya rumah kita esok akan rame karena ke-5 anak kita nantinya. Teo yang sudah besar akan bisa membuat mengasuh adik-adik kelak", jawab antusias dari Aran.
__ADS_1
" Mas Aran, emang enak jika melahirkan!. Apalagi harus sampai 4 kali", sahut Dera yang langsung menatap sang suami.
" Aku akan terima berapapun Tuhan akan berikan Dera. Tapi aku tak akan mengizinkan kamu memakai alat kontrasepsi agar di masa tuaku aku masih bisa dijaga oleh anak-anakku. Dan satu lagi aku sudah bahagia selalu ini dipanggil Ayah oleh Teo apalagi jika dipanggil ke 4 anakku nantinya", kata Aran yang mengusap perut Dera. Ia yakin jika ini adalah yang terbaik dari keluarganya yang mana ia harus jaga sampai kapanpun. Tak ada orang tua yang akan menjerumuskan sang anak untuk hak yang tidak baik. Maka dari itu turuti sang orang tua untuk kebaikan kita nantinya 🥰😍.