
Setelah bujukan sang istri akhirnya pak Toso dan ibuk Rini mendekati Aran dan Dera lagi. Bedanya Dera sudah bisa duduk karena sudah siuman. Karena tengah malam dan takut tetangga pada dengar akhirnya pak Toso memilih untuk membahasnya dengan kepala dingin. Toh benar apa kata sang istri, Dera juga sudah hamil. Mau dipisahkan juga tak mungkin bagi keduanya. Dengan duduk berhadapan pak Toso dan istrinya sedang Aran dan Dera semaunya membicarakan dengan baik-baik.
" Sebenarnya apa yang membuat anda memilih anak saya untuk kau jadikan istri tuan?", tanya pak Toso yang sudah berubah nada bicaranya.
" Saya hanya ingin mencoba sebenarnya pak, tapi akhirnya saya benar-benar takut kehilangannya. Apalagi setelah Dera hamil aku ingin anakku merasakan kasih sayang seorang Ayah. Dan untuk Teo aku benar anak menganggap dia anakku juga pak. Jika perlu bapak dan ibuk mari pindah ke Jakarta untuk ikut saya", ucap Aran meyakinkan kedua orang tua itu. Ia terlalu jujur dan tak tahu apa jika ucapannya tadi juga sedikit menyinggung pak Toso. Mana ada seorang bapak yang terima jika anaknya hanya untuk percobaan.
" Tuan, aku tahu anda orang punya tapi anda tadi bilang jika hanya ingin mencoba pada Dera. Jadi jika Dera tak hamil bapak tak akan tanggung jawab?".
" Bukan seperti itu pak, saya ingin Dera milikku tapi aku sebenarnya ingin minta restu dulu dari bapak tapi karena ada kecelakaan maka kami terpaksa menikah siri dulu pak. Benar saya tulus dengan anak bapak saat ini pak, aku mohon bapak izinkan saya pak", permohonan Aran yang sambil memegang tangan Dera. Mereka saling menguatkan satu sama lainnya. Dera ingin anaknya memiliki Ayah sedangkan Aran ingin Dera menjadi miliknya selalu.
"Tapi jika anda akan sayang Teo juga akankah keluarga besar anda akan setuju dengan ini semua. Aku tak mau jika anakku akan di bicarakan hanya mengincar harta anda saja tuan. Aku masih sanggup merawat mereka semua apalagi Teo yang tak ada hubungan darah dengan anda. Pastinya akan sulit untuk sayang setulusnya", ucapan pak Toso yang menakutkan apa yang terjadi esok hari untuk anak dan cucunya. Lebih baik hidup biasa tanpa cibiran dari orang lain.
__ADS_1
" Keluarga ku tak akan mempermasalahkan itu semua pak. Aku hanya punya adikku dan dia sudah hidup dengan pilihannya sendiri. Dan Dera adalah pilihan saya pak. Izinkan pak Toso aku mohon berikan saya restu anda untuk meminang Dera. Setelah ini apapun yang pak Toso inginkan akan saya lakukan", sungguh permintaan Aran yang tak tahu malu.
" Ok, aku akan berikan izin jika anda benar akan setia dengan anak saya. Aku ingin tuan besok siang menikah di kantor urusan agama di kecamatan sini apakah anda siap tuan?", tanya pak Toso.
" Saya siap pak besok semuanya anak saya lakukan, semaikan cepat semaikan baik juga. Tapi untuk Teo dan bapak ibu setelah kami resmi menikah akan ikut kamu ke Jakarta ya?", tanya Aran yang sebenarnya ingin lebih dekat dengan kedua orang tua Dera yang akan jadi orangtuanya juga. Ia jadi merindukan sang ayah dan Ibuknya sendiri. Pasti jika semuanya masih ada akan ada senyum bahagia di antara mereka. Dengan pembahasan ini tak terasa jam sudah pukul 03.00 dini hari. Mau istirahat tapi ia ingin juga akrab dengan sosok orang tua itu.
" Kalau itu saya dan istri saya gak akan ikut kalian, dan untuk Teo biarkan dia disini saja. Kami ingin tetap dikampung tuan. Asalkan Dera benar-benar dijaga dan disayangi aku akan bahagia juga. Karena dia adalah satu-satunya permata yang aku punya tuan", kata pak Toso lagi. Ini tak ingin pernikahan Dera seperti dulu yang tak bahagia itu. Cukup sudah ia menderita biarkan ia bahagia saat ini.
" Tapi pak, aku ingin semuanya ikut kesana. Dan satu lagi pak Toso panggil saya nak Aran saja tak enak jika pakai tuan segala. Kan saya akan jadi mantu bapak juga. Dan satu lagi pak, apakah bapak benar-benar merestui hubungan kami ini pak?", Aran memantapkan untuk menayangkan hal itu lagi. Ia tak ingin ada penyesalan di kemudian hari.
" Ayah... Kapan ayah sama Ibuk pulang. Teo mimpi atau gak Ayah", suara Teo yang terbang karena ingin buang air kecil. Biasa jam segini Teo selalu terbangun untuk ke kamar mandi. Dan berhubung gak ada neneknya maka ia akan mencari tapi malah melihat sang Ayah dan Ibuknya di ruang tamu tadi. Bersumber dari suara orang berbicara akhirnya Teo tiba di rumah tamu.
__ADS_1
" Aduh sayang udah bangun, ini ayah benaran sayang. Ibuk sama Ayah kangen kamu nak dan satu lagi mau kenalin Teo sama adek Teo yang ada di sini", kata Aran sambil mengambil Teo dan memangku ya. Aran menggenggam tangan mungil Teo dan meletakkannya di perut sang istri. Ia ingin memberi tahu bahwa anak kecil itu akan memiliki seorang adik nantinya.
" Ayah benaran, Teo mau punya adik?", tanyanya antusias yang tadinya mau pipis malah asik di pangkuan sang ayah.
" Iya sayang, kakak Teo mau punya dedek jangan nakal ya nanti. Oya Ayah ingin Teo sekolah ikut ayah sama Ibuk mau?", tanya Teo lagi.
" Asik, Teo mau Ayah. Tapi apakah nenek sama kakek juga ikut?", pertanyaan dari anak kecil itu sambil melihat ke arah sang nenek dan kakek.
" Gak sayang nenek gak ikut sama kakek. Tapi jika Teo ingin gak apa-apa jika mau ikut nak asal Teo mau tetap belajar yang rajin. Dan jangan lupain nenek sama kakek", Ibuk Rini baru mengutarakan itu semua karena beliau ingin sang cucu bahagia. Dengan perlakuan Aran tadi Ibuk Rini tahu jika ia benar-benar sayang dengan Teo juga.
" Teo, Ibuk juga ingin sekali Teo ikut sama Ibuk sama Ayah tapi lebih ingin lagi jika nenek dan kakek juga ikut nak. Kita hidup bahagia disana bersama-sama dan pastinya akan bahagia nak. Kamu bujuk nenek sama kakek ya biar mereka ikut", ucapan Dera yang tahu jika ia tak bisa membujuk sang orang tua. Apalagi mengenai tentang meninggalkan rumah leluhurnya itu. Dari nenek Dera sudah tinggal di sana mungkin malah dari nenek moyangnya dulu malahan.
__ADS_1
****
Kapan Aran akan jujur ya, kita tunggu lagi di lain waktu ya kakak♥️🥰.