
Hari ini suasana hati Dera kacau entah dari bangun tidur rasanya ia malas melihat suaminya. Tapi Dera tak mempermasalahkan hal itu, ia tetap berbuat baik pada Aran. Ia hanya tak mau terlihat sedang membencinya saja.
Setelah membuatkan kopi untuk Aran, Dera langsung kembali lagi ke kamar. Gelarnya yang positif membenci bawang putih membuat ia harus masak mengunakan masker. Karena ia tadi lupa mengambil maskernya ia langsung mengambilnya dan bersiap untuk masak pagi. Mungkin akan ia ganti pakaian bawang Bombay tapi tetap harus memakai masker juga.
"Mas kopinya ada di bawah ya", ucapnya ketus melihat Aran yang masih didepan laptopnya. Mungkin bawaan bayi yang tak mau dia lebih baik dengan Aran.
"Iya mas bentar lagi ke bawah", jawabnya sambil masih fokus pada layarnya itu. Tak tahu jika Dera mencibirnya habis-habisan. Tapi Aran tak bodoh karena ia masih bisa melihat bayangan Dera dari layar laptopnya itu. Rencananya hari ini ia akan membelikan Dera ponsel yang dari beberapa hari yang lalu tertunda terus. Alasannya sih Dera yang tak mau tapi membuat Aran kesulitan sendiri jika jauh dengan Dera. Apalagi akhir-akhir ini Dera paling bolot jika ia panggil. Kadang Aran juga sampai pusing sendiri mau bagaimana ia mencari Dera yang ternyata sedang di kantin pabrik jajan cilok goreng.
"Ok kamu ngapain kaya gitu? Emang mas gak lihat apa?", suara Aran yang tak merubah posisi kepala dari tadi. Dera yang di tegur langsung gelagapan bagimana Aran tahu jika ia sedang meledaknya.
"Gak kok, Dera benci aja sama mas Aran!" seru Dera yang langsung mendekati Aran dan memikul punggung suaminya itu. Mungkin benaknya yang penuh bisa tumpah pagi ini pikir Dera.
"Buk, buk,,
"Awu Dera, sakit ada apa kamu Dera?".
__ADS_1
Aran memberontak dengan meletakkan laptopnya dan memegang tangan Dera yang dari tadi memukulnya itu. Ia paling tak bisa kalau di pukul entah dari dulu seperti itu.
"Aku benci mas Aran, aku marah sama mas Aran", teriak Dera yang tak mau kalah ingin melepaskan genggaman tangan itu.
"Iya mas tahu kamu muak sama mas tapi kenapa Dera?" suara Aran yang melemah karena Dera juga semakin melemah tenaganya.
"Gak tau pokonya Dera benci sama mas Aran, hari ini Dera gak mau ikut mas Aran ke pabrik atau kemanapun", dengan tangisan Dera menjawab itu semua.
"Ok mas gak akan paksa kamu ikut mas, kamu istirahat dulu ya di kamar biar mas aja yang buat sarapan kita". Aran tahu jika Dera saat ini pasti karena bawaan bayinya tak sekalipun Aran melihat Dera seperti ini sebelumnya.
Selang beberapa menit akhirnya Aran tiba dengan dua mangkuk bubur yang masih terlihat panas, begitu banyak kepulan asapnya. Dia langsung duduk dan memberikan pada Dera yang tengah duduk sambil melihat televisi. Rasanya seperti Aran melayani anak kecil yang sangat manja dan tak tau apa-apa.
"Auw,,, panas", rengekan Dera yang sambil membuka mulutnya yang panas itu. Masih terlihat kepalan asapnya.
"Masih panas kaya gini langsung kamu makan aja sih Dera, Dera", ucapan Aran sambil geleng-geleng. Aran langsung melihat mulut Dera yang sedikit memerah dengan cepat ia langsung mencium Dera agar meredakan panasnya. Sambil bermain dengan lidahnya Aran memberikan rasa dingin untuk Dera. Nyatanya Dera tak melepaskan hal itu ia malah terbuai dengan permainan Aran. Mungkin ia juga merindukan belaian suaminya yang seperti ini. Tidak di pungkiri jika Dera sudah merasa kecanduan pada belainya.
__ADS_1
"Ah, mas Aran", suara serak Dera.
"Mas ingin Dera", yang mana Aran ingin mengobati Dera malah tersulut nA*funya. Dengan tak ada penolakan pada Dera akhirnya pagi ini ia sarapan dengan melakukan satu ronde permainan sambil menunggu bubur buatan Aran dingin. Apalagi jam masih pagi bagi Aran untuk siap-siap berangkat ke pabrik.
"Cepak mas," ucapan Dera yang langsung tertidur di ranjang kamarnya. Sedangkan Aran langsung duduk dan mencium kening Dera sambil mengambil bubur Dera. Aran menyuapinya sambil ia tersenyum terus pada pendampingnya itu. Aran tak ingin Dera kesakitan setelah Dera mengucapkan cepek Aran langsung menghentikan permainannya. Keringat pagi yang membuat stamina tubuhnya kembali.
"Makasih Dera, nanti mas ke pabrik bentar aja kok kamu gak ikut gak apa-apa. Kamu capek kan jaga dia agar sehat di sini ya", ucapnya sambil mengusap perut Dera.
"Iya mas Dera gak ikut ya, Dera leleh ingin tidur sebentar aja". Sambil menghabiskan bubur yang di siapkan padanya itu. Setelah bubur itu habis Aran langsung makan bubur miliknya dan segera mandi ia tak mau meninggalkan Dera lama-lama. Setelah jam makan siang ia akan langsung pulang tapi akan mampir membelikan ponsel untuk Dera.
Dera yang juga sudah mandi dan memakai baju daster langsung ikut Aran turun ke bawah untuk mengantarkan Aran berangkat kerja. Ya namanya istri secapek apapun ia akan melihat suaminya pergi kerja juga. Mobil putih akhirnya melaju sampai tak terlihat oleh Dera lagi setelah Dera mencium punggung tangan suaminya. Ada beban yang di tanggung oleh Aran untuk keluarga.
Belum juga Dera mau menutup pintu gerbang besi itu ada taksi yang berhenti di depan Dera. Tanpa kaki jenjang yang terlihat di Indra penglihatan Dera. Pas orang itu keluar seluruhnya ada wanita yang cukup cantik dengan perut yang sudah membesar, kira-kira juga hamil 7 bulan. Dera yang fokus pada perut orang itu tak memikirkan jika orang tadi semaikan dekat dengannya.
"Mbak pembantu ya di sini? Baru lihat aku", ucapannya sambil masuk ke rumah Aran tadi. Kesan pertama Dera pada orang itu sedikit sadis dan sombong. Tak tahu diri langsung masuk ke dalam saja. Belum juga Dera menjawab wanita tadi bertanya lagi. "Mas Aran sudah berangkat kerja ya, aku tadi telfon suruh jemput kok gak diangkat".
__ADS_1
Dera semakin binggung akhirnya ia langsung menutup pintu gerbang dan mengikuti wanita tadi yang sepertinya tahu seluk beluk rumah itu. "Siapa dia", batin Dera bertanya-tanya.
"Mbak buatin aku minum mbak, aku tahu mas Aran masih marah sama aku makanya gak mau angkat telfon aku tadi. Tapi aku juga butuh dia kan repot kalau harus naik taksi dengan perutku yang besar ini". Wanita itu tak henti-hentinya mengucapkan kata-kata yang sedari tadi Dera juga tak menjawabnya." Mbak dengar kan aku bicara apa?", sentaknya sambil melihat ke arah Dera.