
"Ok Genduk jika itu keputusanmu aku tak akan menolaknya asalkan kamu dijaga sungguh-sungguh oleh tuan Aran", jawaban Nanang Qosim yang menyindir Aran agar peka. Ia menyerahkan Genduk karena menghargai keputusannya tapi jika ia tahu sendiri Genduk tak bahagia ia akan mengambilnya lagi.
"Alhamdulillah Dera, akhirnya aku bisa bersama kalian lagi. Aku janji akan menjaga kalian agar tak terjadi seperti ini lagi. Dan untuk tuan Nanang saja akan menjaga Dera dengan baik-baik jadi anda tak usah memikirkan hal itu. Pikirkan bagaimana anda bisa maju satu langkah lagi dari saya", ucapan Aran yang menyindir rivalnya.
"Mas Aran, maksud mas bilang gitu apa?
Apa jangan-jangan aku hanya bahan taruhan kalian ya!", sentak Dera yang semakin geram dengan perdebatan mereka.
"Em, bukan maksud begitu Dera. Mas gak buat kamu ajang taruhan kok. Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku akan siap dan terdepan untuk kamu dan akan kita", sahut Aran yang menjawab ples tambah menekan anak kita tadi.
Tapi Nanang tak menghiraukan hal itu. Ia hanya ingin melihat Genduk bahagia. Walaupun ia harus mengalah untuk kedua kalinya, tapi ia tetap tabah karena perpisahan yang sekarang ia tahu jika Genduk melakukan hal itu semata-mata untuk sang bayi. Dera tak butuh lagi bekerja untuk kehidupannya kelak jika sudah di tanggung sang suami.
"Ya udah mas pulang dulu ya, aku ingin kasih tau nenek dan ibuk mengenai jawab kamu Genduk. Tapi walaupun kamu ingin ikut bersama suami kamu, rumah kami masih tetap akan terbuka untuk kamu singgahi. Dan satu lagi jangan sungkan jika suami kamu melukai perasaan kamu langsung kabari saya saja", pesan langsung oleh sang mantan untuk salam perpisahan.
__ADS_1
Aran hanya diam karena itu bukan hal yang butuh ia pikirkan. Toh selama ia hidup dengan Dera ia tak pernah melukainya selain kemarin posisi Gendis yang setau Dera adalah suaminya Aran. Walaupun belum ada perasaan cinta untuk Dera tapi saat ini Aran tahu jika Dera lebih penting dari segalanya. Apalagi jika ia ikut ngidam kehamilan Dera sepertinya ia sudah merasakan cinta untuk sang istri.
"Ehem,, hati- hati tuan Nanang Qosim jika ingin pulang. Dan untuk baju-baju Dera biar nanti diambil oleh Raka sang asisten saya. O.. satu lagi jika Ibuk dan nenek anda ingin berkunjung ke rumah kami persilahkan tuan Qosim. Aku akan menjamu mereka seperti keluarga sendiri", Aran tahu ini lebih baik dari pertengkaran karena semakin lama akan timbul persaudaraan yang begitu erat nantinya.
"Ok tuan Aran dan Genduk, mas mau pamit dulu". Dengan langkah gagahnya Nanang pergi dari ruangan itu. Dengan hati yang hancur ia pergi dari rumah sakit itu. Sang suster tadi yang sempat mengaguminya langsung berfikir jika pasti ia sedang sakit hati. Sang istri memiliki satu suami yang masih ada di dalam ruangan itu.
"Aduh pak aku juga mau kok jadi istri bapak. Udah ganteng, perhatian, juga penyayang", ocehan suster tadi yang di lewati oleh Nanang itu.
Walaupun mengucapkan hal itu sang Nanang tak mendengarkan sama sekali jadi ia masih untung jika tak di tengok atau perhatikan.
" Dera, apakah aku boleh ikut pegang perut kamu?", dengan pelan-pelan Aran menanyakan hal itu. Iya juga masih menghargai keputusan Dera nantinya jika ia menolaknya.
" E.. sini mas gak apa-apa biar anak kamu juga mengenal kamu. Tapi jangan buat ia kecewa lagi ya mas".
__ADS_1
"Iya Dera aku janji jika tak akan mengecewakanmu. Karena aku tak memberitahukan kamu siapa sebenarnya Gendis itu. Sebenarnya dia adik satu-satunya yang aku punya. Karena ada hal yang lain akhirnya aku renggang dengannya sampai-sampai aku tak memberitahunya jika aku menikah denganmu itu. Dia sudah punya kehidupan sendiri jadi aku tak mau mengurusinya lagi", penjelasan Aran yang sambil mengusap perut istrinya itu. Akhirnya ia sudah memberitahu sebenarnya siapa Gendis itu. Agar Dera tak ada salah paham lagi mungkin ia juga akan memberitahu semaunya yang sudah ia tutupi, dengan berjalannya waktu.
Posisi yang akhirnya bisa Dera rasakan. Sang suami yang memeluknya dari belakang sambil mengusap perutnya. Bayi yang juga kangen dengan pelukan sang Ayah hanya diam dan menikmati, sampai-sampai Dera bisa tertidur di posisinya itu. Sungguh mantra ajaib untuk sang Dera bisa tenang dan terlelap dalam damai.
Aran yang melihat istrinya sudah terlelap langsung mengecup kening sang istri. Ia tak menyangka jika akhirnya ia akan kembali ke rumah bersamanya lagi. Bisa merasakan betapa ia melihat proses demi proses sang istri hamil dan perkembangan sang bayi mungil itu. Tapi Aran saat ini binggung bagimana ia akan meminta restu dari orang tua Dera nantinya. Apalagi kondisi perutnya semaikan lama semakin akan membesar dan pastinya akan sulit lagi nantinya.
"Sayang buat Ibuk kamu tetap di samping Ayah ya, Ayah tak mau kehilangan kalian. Ayah janji akan mengutamakan kalian nantinya. Ayah tak mau kehilangan seperti dulu lagi", batin Aran sambil mengecup perut Dera. Ia langsung ikut tidur di samping sang istri, ia ingin mengistirahatkan tubuhnya. Dari dia tahu Dera sudah ketemu ia tak istirahat sama sekali apalagi ia juga belum makan dari pagi pastinya ia juga sudah sangat lemas. Tapi demi orang yang ia sayangi ia bertahan untuk tumpuhan hidup keduanya.
Tak lupa tugas dari Raka untuk mengambil baju Dera ke rumah tuan Qosim sudah ia perintahkan. Jadi Jika sudah diperbolehkan untuk pulang mereka langsung pulang saja. Tanpa harus ke rumah dimana Dera tinggali dua bulan ini.
****
Sedangkan Nanang yang sudah menjelaskan apa jawaban yang Genduk berikan langsung dapat pelukan dari sang nenek. Neneknya merasa jika itu pilihan terbaik untuknya. Tidak selamanya kita harus hidup dengan orang yang kita cintai jika salah satu dari kita ada yang tersakiti. Lebih baik mengalah demi pasangan kita juga bahagia.
__ADS_1
Tapi berbeda dengan Ibuk Ratmi yang masih berdoa demi kebahagiaan sang anak. Ia berdoa jika ia melepaskan Dera agar bahagia maka gantikan berlipat-lipat ganda orang yang akan mencintainya nanti dan sanggup untuk membuat hidupnya indah.
Nanang juga akan berusaha untuk mencari pengganti dari Genduk. Mungkin ia tetap menganggap dia wanita yang ia cintai pertama tapi iya akan melupakannya jika ada yang bisa membuatnya merasakan kasih sayang lagi. Apalagi ia sudah merelakannya agar ia tetap bahagia dan itu juga permintaan dari Genduk yang memilih dengan Aran. Berbeda dengan dulu Genduk meninggalkannya tanpa memberitahu padanya yang sehingga membuatnya hancur berkeping-keping.