MISTERI PERJODOHAN MASA LAMPAU

MISTERI PERJODOHAN MASA LAMPAU
Mulai fokus bekerja


__ADS_3

Dera dengan teliti memperhatikan bagaimana managernya memberikan contoh. Ia tak akan membuat Aran kecewa. Mungkin ia biasa membeli ponsel lagi jika ia sudah gajian besok dan tak merepotkan Aran lagi. Bisa mengontak kamar walaupun hanya kecil-kecil dan lebih bisa menikmati pekerjaan yang sudah diberikan oleh mas Aran. Walaupun tak jadi iku kerja dengan Santi tapi ia sudah bersyukur karena mas Aran tak membuat ia jadi pengangguran.


Semua karyawan wanita yang melihat managernya memberikan contoh pun saling berbisik karena tak seperti jika ada anak baru lainnya. Sebenarnya mereka tak mempermasalahkan hal itu toh di tempat ini tak ada yang boleh melawan keputusan dari atasan mereka. Tapi kadang kecemburuan sosial dapat timbul seiring waktu dimana jika perbedaan itu terjadi dan mencolok.


Jam makan siang Dera yang langsung berjalan ke arah ruangan mas Aran pun jadi bahan pembicaraan orang yang ada di sekitar ruangan itu. Mana ada yang berani masuk jika ia tak di panggil itupun kadang dipanggil karena ia memiliki kesalahan. Karena permintaan Aran jika akan menghubungi nomor keluarganya maka ia harus menemui dia di ruangan itu kalau tidak mungkin ia juga tak akan lancang seperti ini.


" Tok, tok,tok.


ketukan pintu ruangan Aran yang terdengar lirih. Aran tahu siapa yang datang karena ia melihat dari layar monitor cctv di ruangan itu. Rasanya ia sehari ini tak bisa fokus karena ia selalu memantau apa yang dikerjakan oleh Dera. Entah ia ingin memastikan Dera aman atau apa yang penting ia akan melindungi Dera selagi ia ada disampingnya.


Mungkin karena ia yakin jika Dera adalah orang yang ia cari atau apa yang penting rasanya ingin melindunginya. Padahal belum ada dua hari mereka bertemu, tapi rasanya ia sudah lama kenal dengan sang wanita itu.


" Masuk"


sahut Aran yang menyuruh Dera masuk keruangannya. Kasihan dia sudah berdiri beberapa saat diluar.


" Mas udah makan siang belum?


Kok dari tadi hanya di ruangan sih mas!".


Karena dari Dera pergi tadi Aran tak merubah posisi duduknya sama sekali.

__ADS_1


" Ah bisa aja kamu Dera, mas baru mau makan kok. Mau makan siang tapi aku kepikiran kamu yang juga belum makan siang kan. Atau kita makan siang bareng giman?". Pernyataan agar Aran bisa makan siang bareng Dera yang mungkin bisa mendekatkan mereka lagi.


" Dera gak makan mas, masih kenyang. Dera hanya ingin telfon Ayah sama Ibuk dan Teo. Rasanya aku kangen, sama semuanya. Tolakan halus akhirnya Dera lontarkan untuk menolak ajakan Aran. Ia tak enak harus merepotkan sang atasannya lagi.


" Gimana kalau kamu ikut mas, gak makan juga gak papa tapi kamu bisa telfon keluarga di sana kan. Ajakan Aran yang tak mau jika Dera sampai tak makan. Apalagi ia juga menginginkan berita selanjutnya yang ia dengar tentang Dera waktu telefon sama keluarganya.


" Ehem.. Ya udah mas, Dera ikut asal Dera bisa telfon ya. Emang mas mau makan dimana sih". Dera agak gak suka jika di tempat yang terlalu ramai mas. Mungkin karena Dera dari kampung jadi kalau makan di tempat yang ramai kadang rasanya di lihatin kaya orang kampung baru pertama ke kota aja. Kan Dera sedikit belum begitu kenal daerah sini juga.


" Kalau itu kemauan Dera, ok mas makan di tempat yang mungkin Dera akan senang kok. Ya udah kita berangkat yuk keburu mas lapar sekali", ajaknya.


Dengan mobil Aran akhirnya Dera pergi mengikuti kemana Aran akan makan siang. Sebenarnya Dera juga baru pertamakali datang ke kota ini jadi ia tak tahu betul dan tempat apa yang ia saat ini akan tuju. Karena larangan kedua orangtuanya ia lulus SMA hanya kerja di dekat-dekat rumah saja.


" Udah sampai Dera ayok turun. Oya kamu mau minum apa biar aku pesanin sekalian. Atau mau makan biar aku langsung pesankan biar gak bosen nunggu aku aja". Aran membujuk sang wanita agar mau ikut makan.


" Ya udah kamu duluan kesana nanti aku susul. Ini kalau mau telfon pegang dulu aja. Aran langsung menyerahkan ponselnya pada Dera. Ponsel yang emang tak di sandi dengan mudah Dera menghubungi keluarganya.


Setelah Dera membawa ponsel milik Aran ia langsung pergi ke kursi yang tadi ia tunjuk. Dengan langsung mencatat nomor ayahnya ia langsung memulai telfonnya. Ya hitung-hitung biar bisa lama yang bicara nanti pikirnya.


" Halo Ayah assalamualaikum. Gimana Teo gak rewel kan. Dera hari ini sudah kerja lho Ayah? Bosnya juga baik banget . Pokoknya Dera akan berusaha untuk keluarga kita semoga Ayah gak harus ikut kerja lagi ya. Cuma ngasuh Teo aja udah cukup".


" Walaikumsalam nak, Alhamdulillah jika kamu sudah kerja. Oya Teo lagi keluar sama ibukmu. Kamu makan belum nak, jaga kondisi dan kesehatan ya. Jika kamu betah disitu Ayah ikut bahagia nak. Ya udah maafin Ayah ya gak biasa lama-lama karena ini ada yang mau Ayah kerjakan".

__ADS_1


Karena ingin menyelesaikan urusannya makan siang ini telfonan dengan Dera hanya sebentar asalkan sudah memberikan kabar itu udah cukup baginya.


" Ya udah Ayah, jika semua baik-baik. Jangan terlalu memforsir tenaga lho yah. Ayah tenang aja mulai bulan depan aku kirim uang untuk kebutuhan Ibuk sama Ayah. Dera matiin ya Ayah salam buat Ibuk, assalamualaikum. Setelah mengucapkan salam akhirnya telfon tadi mati. Dan saat itu juga Aran datang dengan membawa pesanan makanan yang ia pesan. Ada nasi bakar, dan minuman untuk Dera.


" Kok udah yang telfonan?


Atau kamu malah belum telfon Dera". Aran mastikan apakah sudah menelfon atau belum.


" Tadi Ayah lagi sibuk mas jadi aku matiin aja. Apakah mas sering ya makan disini kok sepertinya mas suka sekali pada menu-menunya, tu lihat banyak banget yang mas pesan", ucap Dera sambil tertawa melihat pesanan Aran yang begitu banyak.


" Ya aku suka menu makan disini. Tapi aku juga tak begitu hobi makan ini terus kok karena aku takut jika kolesterol aku naik". Aran memang menjaga pola makannya jadi ia tak sembarang makan.


"Masih muda kok sudah takut kolesterol sih mas, emang mas umur berapa sekarang. Sepertinya gak jauh berbeda dengan aku kok". Dera mengucapkan hal itu karena terlihat jika Aran nampak seusianya.


" Aku udah 26 tahun lho Dera. Aku makan ini kamu makan itu ya, baru jika udah selesai kita langsung balik ke pabrik lagi". Jangan sampai kita nanti telat makannya yang cepat ya, pinta Aran tak mau lama-lama. Walaupun seorang bos tapi ingin menjadi panutan bagi anaknya.


" Ok mas, makasih ya mas udah bantu aku kaya gini. Mungkin kalau semalam aku gak ketemu mas aku udah jadi gembel di jalan mas, kata Dera sambil memakan salat buah yang di pesankan oleh Aran barusan.


" Gimana kamu, bisa ngikutin kerja manager kamu? Bagian itu paling banyak laporan dan paling ribet jika rame pesanan lho. Dan untuk masalah itu biarkan saja aku ikhlas kok bantu kamu. Jangan ungkit lagi biar kita jalani aja seperti ini. Toh kamu juga baik kok gak mungkin orang sebaik kamu akan di jahati orang terus". Sungguh Aran yang baik hati.


" Iya mas aku bisa kok, apalagi tadi aku di ajarin dulu kok, dia sepertinya telaten dan baik kok mas", jawab Dera tak mau bohong. Managernya emang seperti itu kok.

__ADS_1


" Ya sukur Alhamdulillah jika kamu bisa, Oya kalau kamu butuh apa-apa bilang sama aku aja. Aku akan bantu sebisa aku asal itu bisa aku lakukan. Apakah kamu mau aku belikan telfon agar kamu bisa menghubungi keluarga kamu setiap saat?". Aran begitu memperhatikan hal itu takut jika Dera merasa tak enak jika harus meminjam telfon miliknya terus menerus. Apalagi ia tahu pasti kadang ia tak bisa ada di kantor terus. Lebih baik Dera memiliki telfon sendiri pikirnya.


" Ah, tak usah mas, Dera pinjam punya mas aja udah cukup kok. Biarkan besok Dera beli sendiri kalau udah punya uang sendiri mas". Tak ingin merepotkan Aran terus-menerus ia langsung menolak permintaan sang bos tersebut.


__ADS_2