
Diam yang pak Toso lakukan saat ini. Pikirannya terus berputar kapan itu terjadi. Karena tak mendapatkan apapun akhirnya ia menyerahkan dengan hanya melanjutkan untuk menyemangati istrinya dan menantunya.
*****
Sedangkan di kamar Teo yang sedang sadarkan diri ia langsung mencari dimana ke berada sang ibu. Di tempat yang asing baginya membuat Teo melihat ke sekelilingnya berharap mendapatkan apa yang bisa ia mintai pertolongan. Tapi tak mendapatkan apapun anak kecil itu langsung keluar dan melihat tempat apa yang saat ini ia tempati. Rumah yang besar dan rapi tentunya yang bisa Teo lihat dan definisikan. Setelah melihat ke bawah ia tak sengaja melihat meja makan yang terdapat beberapa makanan. Karena ia lapar langsung saja memakan apa yang ia sukai.
Karena terbiasa hidup di kampung bersama nenek dan kakeknya, Teo terbiasa menyiapkan makanan untuknya sendiri yang penting sudah ada makanan. Itu terbukti setelah ia merasa kenyang langsung mencari dimana ia saat ini akan mencari pertolongan. Satu demi satu pintu ruangan itu ia buka berharap jika sang ibu ada di dalamnya. Tapi sampai ke pintu ke dua ia tak mendapatkan apapun. Karena merasa jika ia sendirian ia yang akan menangis tanpa sengaja melihat ponsel di atas meja di kamar itu. Ya ponsel Bagus yang tadi ia letakkan dan lupa ia bawa. Karena kepanikannya ia juga lupa untuk memberitahu anak buahnya untuk menjaga Teo yang tadi masih belum sadarkan diri.
Tanpa menunggu lama Teo langsung mengambil ponsel itu dan menghidupkannya. Dengan baiknya pula ternyata ponsel itu tak di kunci oleh sang empunya. Karena anak sekecil Teo belum tahu nomor Ayah Aran, ia langsung mencari sekiranya ada yang ia kenal. Dengan bantuan WhatsApp yang menampilkan foto anak sekecil Teo bisa menemukan foto sang ayah Aran terpampang jelas di sana. Dengan senangnya Teo langsung menghubungi nomor tersebut untuk memberitahu jika ia sedang sendirian.
Dengan ketakutan Teo menekan untuk tombol memanggil agar bisa cepat tersambung dengan sang Ayah. Dengan melihat ke semua arah Teo sangat takut jika ia akan ketahuan pada yang punya ponsel itu. Dengan ketakutan akhirnya telfonnya tersambung dengan sang Ayah.
" Iya halo, ada apa kamu menghubungiku", kata Ayah Aran yang sedang marah dan memang sangat tak suka dengan Bagus suami dari adiknya itu. Ya Bagus tak pernah dianggap oleh Aran yang pasti.
" Ayah,, aku sendirian. Ibuk gak tahu dimana Ayah", kata Teo di balik telfon yang tadi dimarahi oleh Aran.
Aran yang kaget langsung mengeraskan ponselnya agar orang tua Dera juga dengar.
"Sayang, kenapa kamu bisa pakai nomor ini sayang. Kamu dimana, dan ibuk kamu dimana?", tanya Aran yang khawatir akan terjadi sesuatu pada anaknya itu.
Sedangkan pak Toso yang tadi masih mengingat kapan ia dipanggil dengan sebuah itu teralihkan dengan suara cucunya yang sedang menghubunginya itu. Tak mau kalah ia langsung mendekati sang mantu untuk ikut menanyakan kondisi dari sang cucu.
__ADS_1
" Teo gak tahu Ayah, aku dimana. Aku di rumah sendirian dan ibuk juga gak ada. Tapi di kamar ini ada sedikit darah yang ada di tempat tidur Ayah. Teo takut Ayah, tolong selamatkan Teo", ucapan anak sekecil itu yang marasa ketakutan sekali. Keringat yang keluar dari tubuhnya begitu banyak setelah melihat darah yang ada di ranjang tempat tidur itu. Suara Teo yang tadinya semangat juga langsung melemah teringat karena tak menemukan sang Ibuk juga di situ.
" Teo tenang ya, coba Teo lihat pintu utama dan kamu keluar cari tahu dimana Teo sekarang. Biar Ayah kesitu saat ini juga sama kakek dan nenek sayang", kata Aran menyemangati sang anak yang ia tahu pasti sangat ketakutan.
Benar saja Teo langsung keluar dari rumah itu dan tak dikunci sama sekali. Ia mencari seseorang yang bisa ia mintai tolong. Dan tepat di paling ujung ruangan ada petugas kebersihan yang sedang memunguti sampah. Teo langsung menanyakan dimana ia saat ini berada. Dengan baiknya orang itu memberitahu dimana ia saat ini berada dan Aran yang masih mendengarkan suara dan pastinya sudah ada di dalam mobil langsung menuju tempat dimana Teo berada. Ditemani oleh sang mertua akhirnya Aran bisa tepat 1 jam lamanya di tempat itu. Aran tak mau mematikan ponselnya dan mencari dari lantai satu demi satu dimana Teo berada.
Sungguh malang nasib Teo saat ini ia ditemani oleh pegawai kebersihan menunggu kedatangan Aran dan kakek neneknya. Sudah di wajibkan untuk dewasa sebelum waktunya. Aran langsung berlari saat ia menemukan Teo berada di lantai 17 gedung apartemen itu. Memberikan ketenangan pada Teo yang masih ketakutan pastinya. Karena bantuannya pegawai kebersihan tadi langsung di beri imbalan oleh Aran agar bisa untuk membeli sesuatu nantinya. Itu pun tak sebanding dengan pengorbanannya untuk menjaga Teo saat ini.
Tangisan Ibuk Rini pun pecah karena akhirnya ia bisa bertemu dengan sang cucu lagi. Aran yang masih curiga dengan nomor Bagus yang digunakan oleh Teo tadi ia bertanya dimana tempat Teo tadi berada. Dengan di tunjukkan oleh Teo akhirnya Aran bisa menemukan rungan apartemen yang mana masih begitu baru belum semuanya tersedia. Ia berfikir apakah yang sedang terjadi saat ini pada Dera. Teo yang tak lupa memperlihatkan kamar dimana ia melihat darah langsung di datangi oleh Aran langsung. Disitu lah Aran melihat baju dimana yang Dera pagi tadi ia pakai di lantai yang sudah sobek menjadi dua bagian. Marah tentunya Aran yang melihat hal itu. Aran yang juga melihat ranjang penuh bercak darah semakin emosi dan tentunya binggung apa yang terjadi pada Dera.
" Berani sekali kamu bermain denganku Bagus. Ok aku pastikan kamu akan mendapatkan apa yang telah engkau perbuat", batin Aran yang langsung memunguti sobekan baju Dera tadi. Dan menyembunyikannya sebelum kedua orang tua Dera mengetahuinya. Ia tak mau mereka ikut merasakan kecemasan apa yang terjadi pada Dera.
Berkat kepandaian Aran, pak Toso dan ibuk Rini tak tahu apa yang terjadi saat ini. Semuanya fokus di Teo sampai Aran tak mau memberitahu apa yang ia tahu tadi. Yang pastinya Aran tahu jika Dera masih dalam dekapan Bagus. Apakah Dera berkhianat padanya atau malah Bagus yang telah berbuat tak baik pada Aran. Aran diam dalam pikirannya sampai tak terasa mobilnya sudah sampai di rumah lagi. Aran langsung menyuruh pak Toso dan ibuk Rini turun bersama Teo. Dengan alasan masih akan mencari Dera akhirnya Aran pergi lagi dari rumahnya. Hanya dengan melakukan mobilnya Aran tak tahu akan mencari Dera saat ini. Tak ada informasi lagi yang bisa ia dapatkan jika ia tak ke apartemen itu lagi. Dan benar saja di apartemen itu sudah napak Bagus yang sedang mencari sesuatu. Aran langsung masuk dan mengunci pintu itu dari dalam. Memberikan pelajaran pada Bagus karena telah membuat hatinya sekacau ini.
" Apa yang kamu cari penghianat. Aku tak pernah percaya kamu dari dulu, dan nyatanya kamu saat ini berbuat ulah denganku, pengecut", kata Aran penuh penekanan waktu ia memanggil dengan sebutan pengecut.
Bagus yang sedang membuka pintu kamar langsung berbalik dan melihat ke arah Aran yang tadi bicara.
" Haha...
Akhirnya kamu menemukan ku kakak. Apa yang membuat kamu datang ke apartemen ku saat ini", ucap Bagus sombong.
__ADS_1
Bug,, bug.
Suara pukulan yang Aran langsung berikan pada Bagus. Bagus yang tak tahu akan mendapatkan pukulan langsung sedikit terdorong ke belakang. Memang Aran paling jago dalam berkelahi dari dulu. Tubuhnya yang begitu besar dan tinggi membuat Bagus tak bisa membalasnya.
" Dimana Dera saat ini Bagus. Aku tahu dibalik penculikan ini semua adalah kamu Bagus. Apa mau mu?. Ha..!!.", sentak Aran lagi.
" Dera,,,
Pastinya saat ini sedang merasakan kebahagiaan bersamaku kakak. Kami baru saja melakukan hubungan suami istri yang mana Dera sampai ketagihan dan meminta terus. Dia sedang tidur kelelahan karena ulahku. Kakak mau lihat bekas pertempuran kami tadi", ucap Bagus semakin memancing emosi Aran.
" Bug, bug..
Dua kali pukulan akhirnya mendarat di wajah Bagus lagi. Aran tak terima jika ada yang melakukan hal ini pada Dera sang istri. Tak mungkin jika Dera melakukan hal ini jika posisi robekan baju Dera seperti tadi.
" Silahkan kakak pukul saya, yang pasti emang aku yang telah mendapatkan sebelum ia kenal kakak. Kakak tahu jika aku juga yang mendapatkan ke perawan Dera waktu itu kakak. Kami saling mencintai dan pastinya akan terus saling mencintai", kata Bagus akhirnya terucap apa yang ia inginkan tadi.
Aran yang mendengarkan itupun langsung menghempaskan tubuh Bagus tak menghiraukan kesakitan Bagus. Antara percaya atau tidak Aran masih binggung kenapa Bagus sampai bicara seperti itu padanya.
****
Bagaimana kah kelanjutan Aran menanggapi ini semua. Jadikan Aran akan marah pada Dera dan menjauhinya. Kita tunggu episode berikutnya 🥰
__ADS_1