
Dera yang sedikit di sentak pun langsung menjawab dengan gugupnya.
"Iya mbak, saya buatkan minum apa ya?", suara Dera tak kalah gugupnya tadi.
"Saya minta lemon tea aja. Oya mbak apakah kita pernah bertemu sebelumnya? Sepertinya aku pernah lihat mbak", tanya wanita hamil tadi pada Dera sebelum Dera beranjak dari tempatnya tadi.
"Se,, sepertinya belum pernah mbak, saya tak pernah ketemu anda sebelumnya!". Dera tak merasa jika ia pernah bertemu dengan Dera.
"Udah lah lupakan, buatin aku minum aja cepat mbak", perintahnya lagi pada Dera. Akhirnya Dera langsung pergi ke dapur untuk membuatkan minuman pada wanita tadi.
Dengan segenap pikiran yang tak tenang ia langsung menyajikan minuman itu pada tamunya, ya dia istri dari sang pemilik rumah walaupun hanya nikah siri. Tapi siapa wanita ini juga yang sepertinya akrab sekali dengan mas Aran dan rumah ini. Apalagi ia juga sedang hamil tua. "Apakah mas Aran sudah memiliki istri yang mana tak mau menikah secara negara denganku", pikiran Dera yang tak tahu entah apa itu. Ia serasa bagikan pelakor yang sudah merebut suami orang yang ternyata istrinya sedang hamil ini.
"Mbak kok bengong sih, panggil saja aku Gendis", ucapan wanita tadi sambil melambaikan tangannya di depan Dera yang melamun itu.
"Oh iya mbak Gendis maaf kan saya, Oya anda siapa ya pak Aran mbak?", tanya Dera yang sengaja menyebutkan nama Aran dengan panggilan pak.
"Apakah mas Aran tak pernah menceritakan aku!. Dia seperti tak menganggap aku dan anak ini mbak, biarkan", ucap gendis yang sudah duduk berdampingan dengan Dera.
__ADS_1
"Deg, jantung Dera langsung berhenti setelah mendengar mas Aran tak menganggap Gendis dan anak yang di kandungnya itu. Ingin rasanya Dera menangis ternyata suaminya seperti itu. Hati wanita mana yang tak sakit karena ini semua. Tapi Dera tak akan menitihkan air matanya di depan Gendis tadi.
"Aku baru tahu mbak Gendis, Oya panggil aku Dera aja ya biar lebih akrab", Dera setegar mungkin mengucapkan hal itu padahal ia tahu hatinya kacau balau. Tak mungkin ia ada di antara mas Aran dan Gendis tadi.
"Oya mbak aku rasanya letih dan ingin pergi ke kamar mas Aran dulu ya, mbak Dera mau masak kan?", ucap gendis yang akan berjalan ke tangga menuju ke kamar atas. Dera yang ketakutan langsung menahan gendis agar tak naik ke kamar mas Aran. Baju milik Dera banyak di kamar mas Aran takutnya gendis akan tahu hal itu.
"Tunggu mbak biar Dera bersih tadi kotor kata pak Aran!", teriak Dera yang sambil memegang tangan gendis tadi.
"Gak mungkin mbak, mas Aran tak akan pernah membiarkan kamarnya berantakan kok aku udah tahu itu", karena kebiasaan Aran sudah gendis tahu sebelum Dera malahan.
Karena tak bisa mempengaruhi gendis langsung naik ke atas dan menuju ke kamar Aran. Dan di ikuti oleh Dera yang ketakutan akan Gendis yang akan tahu nantinya.
Suara pintu kamar Aran yang sudah dibuka oleh Gendis. Ia langsung masuk ke kamar dan merebahkan badannya yang sedikit leleh itu. Tapi pas netra Gendis melihat sekeliling ruangan mas Aran ia penasaran pada baju kotor perempuan yang ada di sudah ruangan itu. Dengan segenap tenaga yang ia miliki ia bangkit dan memastikan apa yang ia lihat benar adanya. Ya benar ia menemukan baju wanita yang satu tumpukan dengan baju mas Aran. Karena ia tak percaya itu ia langsung menuju ke almari dan membukanya, alangkah terkejutnya ia melihat beberapa potong baju wanita yang ada di almari itu. Emosi Gendis langsung memuncak akan apa yang ia lihat tadi. Pas ia berbalik dan akan mencari Dera ternyata Dera sudah ada di kamar Aran juga.
"Apa maksud ini semua mbak Dera?", teriak Gendis marah. Apa yang ditakuti oleh Dera benar terjadi saat ini. Ia binggung mau bilang apa saat ini pada Gendis. "Ini baju siapa Mbak Dera? ,Jangan bilang punya mbak Dera ya?".
Dera langsung tertunduk lesu. Ia binggung mau bilang apa pada Gendis karena itu emang miliknya. "Itu.. itu milik ku mbak Gendis, maafkan aku", ucapan Dera langsung bersimpuh di kaki Gendis ia merasa bagikan benalu di keluarga mas Aran dan Gendis saat ini.
__ADS_1
Sedangkan Gendis yang marah langsung mendorong badan Dera agar dia bisa melihat wajah dari Dera tadi. "Jelaskan ini semua mbak Dera? ,Apa jangan-jangan kalian kumpul kebo ya!".
"Maafkan aku mbak Gendis, aku akan pergi dari rumah ini sekarang mbak maafkan aku", Dera lebih baik pergi daripada merusak hubungan ini , apalagi hubungan mereka juga hanya sah secara agama saja.
"Aku gak mau barang mbak Dera tertinggal satupun di kamar ini. Aku akan buat mbak Dera menderita sudah menganggu mas Aran-ku", teriakan Gendis yang mengema ke kedua telinga Dera.
Dengan sambil menangis Dera langsung bangkit dan mengambil semua baju miliknya. Ia tak sanggup menjaga seperti ini sampai kapanpun. Ia memiliki pergi dari kehidupan mas Aran. Setelah merasa tak tertinggal satupun Dera langsung turun ke bawah dan menenteng koper miliknya. Bermodalkan 100 ribu yang diberikan oleh Aran tadi untuk makan siang ia pergi menaiki taksi tanpa pamit ke Gendis yang duduk di ranjang mas Aran sambil menangis juga. Ternyata mas Aran tak seperti yang ia pikirkan. Bayangan wajah Dera yang tersenyum terus menerus hadir di benaknya.
Di dalam taksi Dera tak henti-hentinya menangis sambil mengusap perutnya itu. Apa yang ia takutkan benar terjadi. Ia sendiri lagi di saat hamil. Merasa ia tak sanggup membayar tagihan taksi lagi ia meminta untuk turun saja dan melanjutkan berjalan kaki, sisa uang yang ia miliki bisa ia gunakan untuk makan nanti siang pikirnya.
"Bruk," suara tubuh Dera yang tertabrak oleh orang lain yang ada di depannya.
"Maafkan saya, saya tak lihat depan", ucapan Dera yang langsung melihat lawannya.
"Dera", pekik suara wanita yang tadi menabrak Dera.
"Santi", sahut Dera sambil memeluk Santi. Akhirnya ia bisa bertemu dengan Santi temannya lagi. Tangisan Dera pun pecah saat ini. Akhirnya Santi bisa membantu nanti. Doa Dera tadi akhirnya terpenuhi.
__ADS_1
"Kamu kemana aja Dera, nomor kamu gak bisa di hubungi lho", kata Santi yang mengajaknya untuk duduk dulu.
"Maafkan aku Santi, ponselku hilang dan tak bisa menghubungimu. Aku hancur Santi saat ini tolong bantu aku. Tapi jangan bilang ke siapa pun itu Santi aku tak sanggup di benci keluarga ku lagi.