
Dera yang sudah terbangun langsung duduk dan mendapati satu kotak coklat yang ada di meja depannya. Ukurannya berbeda dari kotak yang tadi, ini kelihatan lebih besar dari yang tadi di kirim. Karena yakin bukan yang tadi akhirnya ia menanyakan pada mas Aran.
" Mas, ini punya siapa kok besar amat mas?".
" Itu aku beliin untuk kamu, yang tadi aku kasih Raka. Jadi kamu boleh makan Dera", ucap Aran yang sambil melihat sang istri dan fokus lagi pada layar laptopnya lagi.
Karena di perbolehkan untuk makan, Dera langsung membuka kotak coklat dan langsung memakannya sepotong demi sepotong. Rasanya lebih nikmat untuknya, atau karena lama gak makan atau yang belikan sang suami aku juga tak tahu. Tak mau ganggu sang idaman lagi fokus makan, Aran hanya melirik sambil mengambil foto Dera yang cantik itu.
" Sayang, ternyata buat kamu bahagia itu sederhana banget. Aku bersyukur ternyata kedua orang tuaku gak salah memilihkan aku jodoh. Aku akan merawat kamu dan keluarga kamu untuk tetap di sisihku nantinya", ucap Aran dalam hati. Ia tak berani memanggil Dera dengan sebutan sayang secara langsung. Entah ia merasa tak nyaman saja.
Tak lama dari Aran yang takut pada sang istri, pintu ruangannya di ketuk oleh Raka sang asisten.
Tok, tok.
"Masuk saja", jawab Aran. Dengan itu Dera memperlambat cara makannya. Mulut yang belepotan coklat membuat Aran bangkit dan mengambil tissue untuk membersihkannya.
" Udah besar makannya masih aja berantakan", kata Aran sambil mengusap wajah Dera. Raka yang juga baru masuk langsung malu karena tingkah sang bos. Antara mau masuk atau keluar lagi. Udah nangung mau di paksa keluar udah kelihatan, tapi jika di paksa masuk ya tambah malu lagi ya kanš¤.
__ADS_1
" Sini Raka, ada apa", kata Aran yang menyadari sang asisten hanya diam di depan pintu.
" Ini pak, apa yang anda minta tadi", ucap Raka sambil memberikan satu amplop putih besar yang ternyata adalah dua tiket pesawat untuk Aran dan Dera pulang kampung. Setelah Aran membukanya Aran kaget ternyata bukan malam ini tapi besok siang jadwal ke berangkat. Masih satu malam tertunda pikirnya. Karena sang istri tak tahu rencananya ia akan mengajarkan pulang ke kampung maka Aran diam dan menunggu Raka keluar dari ruangannya.
" Apa sih mas?", tanya Dera yang melihat sang suami diam. Ia tak tahu sama sekali apa yang sedang suaminya rasakan.
" Gak ada Dera, mas keluar dulu ya kamu jangan kemana-mana cukup makan coklat itu dan istirahat ya. Mas cuma mau ketemu sama Raka dulu kok", ucapnya dan langsung meninggalkan Dera di ruangannya itu. Setibanya di ruangan Raka, Aran langsung masuk dan menanyakan apa yang terjadi.
" Raka, kok kamu ambil penerbangan besok siang sih? Aku kan suruhannya malam ini Raka?", sentak Aran langsung tanpa jeda. Raka pun langsung kaget karena bosnya masuk juga tak permisi.
" Itu bos, penerbangan adanya cuma besok jadi aku ambilnya itu. Yang malam ini pukul 00.22 adanya kasihan Ibuk Dera kan kalau malam kaya gitu", jawab Raka benar adanya ia sudah memutuskan pukul segitu paling tepat, tapi bosnya malah marah-marah saja.
****
"Sudah lah pak gak usah di permasalahkan, toh bos Dera baik-baik saja kan selama ini. Mungkin mereka baik karena itu pak", ucapan sang Ibuk yang menenangkan sang suami yang sedang marah tadi.
" Tapi kan buk, bapak gak mau lihat Dera kaya dulu lagi. Apalagi jauh dari kita dia gak ada yang bisa melihat yang sebenarnya kan. Ambilkan ponsel bapak aja buk, bapak mau tanya langsung pada bos Dera. Ini tadi nomor yang habis kirim foto juga langsung gak aktif juga kan", nada bicara pak Toso sangat kelihatan jika beliau kecewa. Untung di sana seperti ini Teo sedang les baca di rumah tetangga jadi gak lihat kakeknya marah-marah.
__ADS_1
Benar saja sang istri yaitu Ibuk Rini langsung mengambil ponsel sang suami untuk menghubungi bos dari Dera. Dari pada ada salah paham ia lebih langsung menanyakan hal itu pada yang bersangkutan langsung.
" Tut, Tut, Tut.
"Assalamualaikum pak Toso, ada apa ya sore-sore seperti ini menghubungi saya. Ini saya masih di pabrik pak", kata Aran yang menerima panggilan dari ayah Dera tadi. Dera yang tengah duduk di sofa sambil melihat majalah langsung mendekati sang suami karena ingin dengar apa yang sang ayah ingin ucapan pada Aran.
" Pak saya mau tanya pada anda, saya tadi dapat kiriman foto dari entah siapa. Yang penting bukan pengirimnya tapi isi gambar dari foto sebut", kata pak Toso cepat dan lantang. Dera yang langsung tahu jika sang ayah sedang marah pun duduk di meja kerja sang suami. Takut apa yang ia takuti terjadi.
" Sebenarnya ada apa ya pak Toso, saya kurang jelas", kata Aran yang melihat sang istri ketakutan malah ia juga tambah binggung.
" Ada hubungan apa anda dan Dera pak? Di foto kalian bermesraan di rumah sakit juga. Apa yang sebenarnya kalian tutupi dari kami tuan. Aku tak mengizinkan jika akan ku Dera jauh-jauh ke kota hanya untuk kumpul kebo kaya gini. Kalian sudah satu rumah kan?", luapan emosi pak Toso begitu menggetarkan hati Dera. Ketakutan Dera di masa silam akhirnya kembali teringat di pikirannya. Ia sudah mengecewakan sang ayah untuk kedua kalinya.
" Kami emang sudah serumah pak dari Dera datang ke Jakarta ini. Toh bapak sudah tahu dari dulu kan!. Tapi masalah saya bermesraan dengan Dera di rumah sakit,,,, itu benar adanya pak. Kami bukan kumpul kebo selama ini saya menyayangi Dera pak Toso. Dan aku ingin memiliki Dera seutuhnya", jawaban dari Aran yang membuat Dera semakin binggung ia tak sanggup ikut menyangka hal ini. Apalagi ia juga tahu ia salah di dalam masalah ini.
" Aku gak izinkan anakku kamu miliki seutuhnya tuan. Terimakasih kasih atas perhatian anda pada kami. Teo juga terimakasih atas kasih sayangnya. Yang terpasang aku ingin Dera pulang ke rumah dan itu tanpa secuil apapun yang kurang darinya. Jika Dera gak mau pulang maka kami akan pindah dari sini dan Dera tak akan bisa ketemu kami lagi. Saya buktikan jika omongan saya benar tuan", ancaman sang ayah yang langsung membuat sang Dera lemas tak berkutik. Aran yang melihat hal itu langsung menahan tubuh sang istri dan melepaskan ponselnya. Ia tak memikirkan ponselnya lagi. Yang di pikiran adalah Dera yang sedang tak kuat apapun.
Dengan lembutnya Aran membopong sang istri ke sofa dan membaringkannya. Dengan keahliannya akhirnya ia bisa mengajak Dera berinteraksi lagi.
__ADS_1
" Dera, udah masalah ini biar mas yang tanggung. Kita akan berangkat besok siang ke rumah bapak sama Ibuk kamu. Aku akan jujur semuanya sama beliau Dera. Aku akan melakukan apapun untuk bisa memiliki kamu dan anak kita. Aku tak mau kamu berbuat sesuatu pada akan kita. Biarkan dia tumbuh di dalam perut kamu hingga lahir. Jika kamu tak bisa sayang dan cinta kepadaku aku akan siap jika kamu pergi tapi anak ini hanya ikut dengan ku", ucapan Aran sambil mengecup perut Dera. Tangisan sang bos konveksi pun luluh karena hal ini. Ia ingin sekali melihat keluarga utuhnya lagi. Mungkin jika ia lebih dulu jujur pada pak Toso mungkin ini semua tak terjadi seperti ini. Tapi semuanya sudah menjadi bubur dan tak bisa di ulang lagi.