
Setelah keluar dari mobilnya, Aran melihat jika tatapan semua karyawan hanya tertuju pada Dera. Bagaimana ia juga yang mengajaknya ke pabrik, jadi dia yang akan bertanggung jawab.
" Dera, ayo masuk ikuti aku aja". Sentak Aran pada Dera yang masih bingung harus menyapa yang mana dulu. Antara para pekerja wanita atau laki-laki.
Sebenarnya Dera sangat bingung kenapa semua orang melihat ke arah dia. Padahal ia merasa jika cara penampilannya juga tak begitu menor ataupun norak. Karena mendengar sentakan suara Aran yang keras ia akhirnya mengikuti kemana mas Aran pergi ke dalam. Entah tak tau yang penting itu ruangan yang paling ujung.
" Duduklah suruh Aran pada Dera setelah masuk keruangan yang terdapat dua kursi duduk itu. Dibilang mewah tak begitu karena masih terlihat jelas potongan-potongan kain kecil yang ada di sekitar ruangan.
" Mas Aran aku bisa kerja dia bagian apa mas. Aku belum bisa kalau disuruh menjahit ucap Dera tadi. Selama ia jalan dan masuk ke ruangan Aran ia melihat beberapa ratus mesin jahit.
" Ya udah kamu bisa di bagian packing baju saja nanti. Tapi jika dibagian itu kamu akan sering lembur Dera kamu siap gak?", Aran memberitahu apa yang akan Dera jalani di tempat kerjanya baru.
" Jika mas Aran mengijinkan aku siap mas. Tapi bagaimana dengan mas Aran jika sudah di rumah?".
Dera menanyakan hal itu karena dia tahu seorang laki-laki kadang tak mau bersusah payah menyiapkan makanan dan sebaginya.
Sepertinya Aran juga mencerna pertanyaan Dera karena akhirnya ia terdiam beberapa saat setelah ia mendapatkan pertanyaan barusan itu.
" Kalau makanan kamu pagi langsung buat makanan yang sedikit kamu tambahi aja Dera jadi aku nanti tinggal memanaskan saja. Tapi kadang aku juga sering lembur kok jadi kita bisa pulang bareng. Ya udah aku panggilkan atasan kamu nanti biar nanti kamu diajari di bagian kamu, usul Aran yang tak mau memikirkan hal yang belum tentu akan terjadi saat ini. Kan masih bisa pikirkan kalau sudah terjadi.
" Oya mas mau minum apa biar Dera buati, tapi Dera gak tahu ruangannya". Karena kebiasaannya ia selalu akan mencukupi kebutuhan apa yang managernya anggap. Karena ia sudah dibantu oleh Aran atas semaunya. Mungkin jika tak ada Aran ia sudah jadi gembel di ibu kota ini.
" Ya udah kamu jalan ke arah utara nanti ada dua ruangan itu tempat buat minum. Tapi jangan lama-lama ya nanti kamu di tunggu manager kamu lho". Aran sebenarnya tak mau Dera membuatkan minuman untuknya tapi karena Dera yang meminta akhirnya ia turuti saja.
"Iya mas aku pergi dulu ya", sahutnya langsung pergi keluar ruangan dan menuju ke tempat yang ditunjukkan tadi.
__ADS_1
Pas ia akan mencari dimana ruangan itu ia tak sengaja bertemu laki-laki yang mungkin akan ke ruangan itu juga.
" Anak baru ya, aku baru lihat kamu sekarang", sapanya dengan melihat ke arah Dera.
" Iya aku baru masuk hari ini, Oya aku mau buat minum dimana ruangannya?",
Dera begitu sopan pada lelaki itu.
" Aku juga mau buat minum", ya udah bareng aku aja yuk saranya. Setelah mereka masuk Dera dengan cepatnya menyiapkan gelas dan kopi yang akan ia seduh. Dia akan membuatkan kopi susu yang akan dia berikan pada Aran. Walaupun ia tak tahu kesukaan mas Aran tapi ia tahu jika kopi dan susu akan bisa menambah semangat kerjanya di pagi hari seperti saat ini.
" Kok buat kopi susu, aku kira kamu suka teh manis. Biasanya anak-anak buatnya teh kalau pagi. Pertanyaan yang langsung di jawab oleh Dera langsung.
" Ehem", ini bukan buat aku kok ini buat mas Aran.
Ya udah ya aku pamit dulu keburu mas Aran sibuk nanti, pamit Dera pada laki-laki tadi. Emang Dera tak pernah sombong pada siapapun tapi ia tak pernah mau kenalan pada laki-laki jika tak ada kemauan dari hatinya sendiri.
Apa hubungan mereka, dan kenapa dia tahu tentang bosnya itu. Semua pikiran itu menumpuk menjadi satu tapi pas ia ingin menuangkan air panas di gelasnya ponsel yang ada disaku celananya berdering. Tanpa menunggu lama ia langsung mengangkat takut jika itu penting sekali. Ya benar saja jika yang menghubungi ia adalah bosnya ya itu pak Aran.
" Iya pak ada yang bisa dibantu pak!",
Dengan hati-hati ia menanyakan hal itu karena ia takut kena marah di pagi hari akan membuat moodnya hilang. Tahu sendiri kadang bosnya bisa berubah-ubah suasana hatinya.
" Bisa keruangan saya, ada yang penting", perintah sang atasan padanya.
Setengah berlari akhirnya teh hangat yang akan ia buat tadi ia letakkan dan langsung menuju ke ruangan bos Aran.
__ADS_1
"Tok, tok, tok.
" Masuk",
sahut Aran yang ada di ruangan sambil menyesap kopi susu yang dibuatkan Dera tadi.
" Ada apa pak, saya sudah menyelesaikan kiriman yang kemarin malam bapak suruh kirim pagi ini pak". Dengan takut dan gugup ia memberitahu perihal pekerjaannya itu, dia takut ada kesalahan yang ia lakukan.
" Kenalkan dia Dera, dia kamu ajari dibagian kamu. Tapi jangan buat dia terlalu capek karena dia di rumah masih mengerjakan apa tugas dia". Kata Aran yang menatap ke arah manager yang akan di berikan tanggung jawab untuk melatih Dera tadi.
Bingung yang bertambah karena ternyata wanita tadi diperlakukan seperti itu oleh bosnya sendiri. Jarang sekali bosnya bisa menganggap wanita yang ada di sekitarnya.
" Siap pak, ya udah saya pamit dulu. Ayo mbak Dera", ajak lelaki tadi.
Belum sempat Dera menjawab ucapan lelaki tadi Aran mengucapkan satu hal lagi yang membuat manager yang akan keluar tertahan di depan pintu ruangan bosnya.
" Dera jika udah makan siang kamu bisa ambil telfon mas untuk kamu pakai. Tapi ingat jika mas ada di ruangan jika tidak kamu bisa menunggu di rumah nantinya".
" Ya mas, Dera pamit dulu ya. Jangan lupa nanti kopinya dihabiskan ya, Dera kerja dulu". Percakapan yang membuat sang manajer binggung perihal hubungan bos dan wanita yang ia bawa keluar dari ruangan tersebut.
Walaupun tak ada acara cium tangan tapi manager tadi tahu jika hubungan Dera dan Aran sangat sepesial. Nyatanya membicarakan telfon dan rumah.
" Akankah mereka satu rumah".
Pikiran itu terus terputar di pikiran dia sampai ia tak ingat jika tadi ia akan sudah membuat minum. Rasa haus yang ia rasakan tadi sudah menjadi rasa penasaran hubungan antara wanita yang ada di belakangnya dan bosnya sendiri.
__ADS_1
" Oya Dera ayo aku ajarkan apa saja yang harus kamu lakukan. Nanti jika kamu ada yang kurang paham bisa ditanyakan". Pokoknya manager tadi mematuhi apa perintah bosnya agar tak membuat Dera terlalu capek. Tapi ini adalah hal yang istimewa baginya karena akhirnya bosnya bisa membuka hati untuk wanita.
Aran yang ada di ruangannya langsung membuka laci meja kerjanya. Ia mengambil satu foto lama masa ia kecil dulu. Foto yang sama semalam ia pegang di kamarnya. Karena itu permintaan terakhir Ayahnya maka foto itu ia cetak dua dimana ia bisa mengingat pesan terakhir sang Ayah. Om Toso yang ia ingat dulu masih muda dan mungkin akan ia temui lagi setelah 25 tahun lamanya lagi.