
Di ruangan mereka bertiga hanya menunggu jawaban dari Dera. Aran yang mendekat pada Dera langsung di pandang oleh Nanang. Pandangan tak suka langsung terlihat dari wajah sang lawannya. Padahal Aran suaminya tapi Nanang tak terima hal itu. Dia tak mau jika Aran memperlihatkan keperduliannya ataupun kemesraan di depan matanya.
"Ehm,, Dera lagi gak mau bicara sama anda tuan Aran. Bisakah anda keluar dari ruangan ini", kata Nanang yang ikut mendekati Dera dan Aran.
"Apa sih, tuan Nanang Qosim. Ini urusan rumah tangga kami ya tuan!. Bisakah anda meninggalkan kami berdua saja?", sentak Aran pada pengganggu itu. Ia merasa risih ada si rivalnya. Ia juga takut jika Dera akan memilih bersama dengan Nanang apalagi ia tahu jika mereka kenal lebih dulu itu.
"Aku tak akan keluar sebelum anda sendiri yang keluar dari ruangan ini tuan Aran. Aku akan jaga Genduk sampai kapanpun, dengar itu tuang Aran". Sama-sama kekeh pada pendirian masing-masing.
"Diam, aku pingin sendiri aku gak mau dengar kalian berantem. Ini yang tadi kata dokter ngaku jadi kedua suamiku yang hanya bisa berantem kaya gini?", suara Dera sambil menangis dan bergetar. Ia binggung mau memiliki untuk memihak pada siapa. Ia tahu jika ia masih istri Aran tapi ia juga menjaga perasaan Qosim.
"Dera maafkan aku Dera. Banyak yang belum kamu ketahui tentang aku. Apakah kamu akan seperti ini menutup kesalahanku yang membuat kau sangat benci padaku", dengan lembutnya Aran mengucapkan hal itu. Ia masih harus menjelaskan banyak pada Dera saat ini.
"Mas Qosim beri aku waktu berdua mas. Aku ingin membicarakan sesuatu yang penting dengan mas Aran", permintaan bidadari Qosim yang langsung menurut. Tapi dengan syarat tak lebih dari seperempat jam. Jika lewat nanti ia akan masuk dan menunggu Dera lagi.
__ADS_1
Akhirnya Nanang Qosim keluar menuju di kursi tunggu. Walaupun ia tak ingin meninggalkan Genduk sendiri di dalam bersama Aran tapi ia menghormati keputusan Genduk seperti ini. Ia tak mau menyakiti sedikitpun pada Genduknya. Ya ia masih menganggap jika Genduk bisa bersama ia lagi.
Akhirnya Aran dan Dera di ruangan itu tanpa pengganggu sama sekali. Tapi bukannya Aran bisa berbicara tapi malah diam tak bisa mengutarakan apa yang sudah ia ingin jelaskan dari tadi. Dua bulan Dera menghilangkan ia seperti sebuah bunga mawar tapi tak berdiri. Bukan saling melengkapi lagi seperti orang lain yang sedikit beradaptasi lagi untuk mengutarakan kata-katanya.
"Dera maafkan mas, mungkin aku hanyalah seorang suami yang tak bisa melindungimu. Aku tahu pasti kamu sangat membenciku aku sampai saat ini aku tak sanggup kau tinggalkan terlalu lama Dera. Aku tak bisa hidup tanpamu, jangan hukum mas terlalu lama Dera", sebuah ungkapan atau bisa di bilang jeritan seorang suami.
"Apakah mas berniat untuk mencatiku? ,Tidak kan mas mungkin mas fokus pada istri mas yang lainnya", sindir dera begitu tajam padanya padahal Aran juga mau berita sebenarnya siapa Gendis itu.
"Kamu tanya Raka dia tahu aku mencarimu dimana saja, tapi jika itu semua tidak ada apa-apa untuk menebus kesalahanku aku juga terima Dera. Dan aku ingin kamu tak salah faham lagi tentang ini semua. Aku tak tahu sebenarnya apa yang sudah dikatakan oleh Gendis padamu tapi aku ingin kamu tahu aku tak bermaksud menutupi apapun padamu Dera. Izinkan aku meminta maaf untuk ini semua".
"Jangan sekalipun kamu berniat untuk pergi dariku Dera. Kamu milikiku dan hanya milikku. Aku akan lakukan apapun untuk kamu dan anakku. Kamu hubungi Teo bilang jika Ayahnya seperti apa, aku sudah lebih dekat dengan Teo Dera".
"Sungguh egois aku tak kau perbolehkan untuk memilih orang lain. Tapi kau punya dua orang yang ada di hatimu mas Aran. Aku tak sanggup seperti ini terus, mas lepaskan aku saat ini juga. Aku ingin bahagia bersama orang lain yang benar-benar sayang-sayang padaku mas". Dera kekeh ingin mencari kebahagiaannya sendiri.
__ADS_1
"Tidak sayang karena di hatiku hanya ada kamu dan anak-anak kita. Sebenarnya Gendis adalah adikku Dera. Hubungan kami tak baik sebagai kakak adik. Aku tahu ini baru aku beritahu padamu. Tapi aku tak ingin kamu pergi dariku Dera. Aku ingin kamu terus mengisi hati-hatiku. Biarkan orang akan berlomba untuk memisahkan kita tapi aku mau kita tetap akan bertahan sampai kapanpun. Jika karena kamu aku anggap hanya istri siri, besok jika kamu mau aku akan anak kamu pulang ke keluargamu dan menikah secara negara. Aku akan buktikan ini semua apa yang kamu inginkan Dera".
Sungguh penjelasan Aran membuat ia sangat binggung antara yakin atau tidak. Ia tak tahu jika Aran tak memberitahukan apa saja yang tidak ia ketahui saat ini. Sungguh malang nasibnya ia terus merasa sakit dalam menjalani hubungan. Jika ada yang mau membawanya ke luar dari rumah sakit dan bisa menghindari Aran dan Nanang mungkin ia akan bahagia. Dera binggung karena ia tak bisa memilih apa yang akan Dera pilih saat ini. Walaupun ia sudah tahu jika Gendis adalah adik dari mas Aran tapi ia tak sanggup jika masih hidup dalam ketidaktahuan. Ia tak sanggup menjalani hubungan yang sebenarnya ia tak tahu rasa dari sang pasangan itu sendiri.
"Mas aku mohon tinggalkan aku sendiri di sini aku tak sanggup untuk mendengarkan lagi tentang apapun. Dan tolong ajak mas Qosim juga pergi aku gak mau di ganggu dulu", pinta Dera.
"Gak Dera, mas gak akan pergi dari sini mas takut kamu akan pergi lagi dari mas. Mas akan telfon pak Toso akan kondisi kamu sudah dua bulan ini pak Toso aku bohongi jika kamu aku pindah kerja dan belum bisa menghubungi kamu". Dengan ucapan itu Dera semakin menitihkan air mata. Tak terbayangkan jika di Jakarta pun ia akan seperti ini.
Melihat Dera tak berdaya jika membahas tentang orang tuanya Aran mengunakan kesempatan itu untuk menghubungi orang tua Dera. Hingga akhirnya panggilan ke dua telfon tadi sudah diangkat oleh sang Ayah. Suara yang sebenarnya Dera rindukan. Sudah selama ia pergi tak pernah menelfon orang tuanya sama sekali.
"Halo pak bos tumben masih siang udah menghubungi kami. Biasanya jika magrib baru telfon", kata pak Toso yang tak wajar seperti biasanya. Dan dengan ucapan sang ayah tadi dera baru tahu jika mas Aran malah sering menghubungi keluarganya.
"Em, saya kangen Teo pak. Apakah Teo baik-baik saja, dan ibuk apakah baik pak?", sungguh mulia hati Aran sebenarnya.
__ADS_1
*****
Ajakan hati Dera luluh dengan perlakuan Aran tadi dan bisa bersatu lagi. Kita tunggu di bab selanjutnya kakak...Salam sehat kakak tercinta ❤️😍🥰