MISTERI PERJODOHAN MASA LAMPAU

MISTERI PERJODOHAN MASA LAMPAU
Raka tidur di rumah Aran


__ADS_3

Setelah perjalanan 35 menit akhirnya sampailah di rumah besar Aran. Setelah membantu Dera turun, Aran langsung menyuruh Raka untuk ikut masuk kerumahnya. Raka langsung disuruh untuk istirahat di kamar bawah yang pernah dipakai oleh Dera waktu pertama kesini dulu. Sedangkan Aran dan Dera tidur di kamar atas.


"Ngantuk banget ni aku, udahlah biarin bos Aran di atas aku mau langsung tidur aja", gerutu Raka yang langsung masuk ke kamar yang di tunjukan tadi. Rasa kantuknya sudah membuat ia tak bisa berfikir yang lebih.


Akhirnya semuanya masuk ke kamar masing-masing. Dera langsung dibantu Aran untuk berganti pakaian. Dera hanya duduk di ranjang besar milik Aran karena sang suami yang sudah menyiapkan dari keperluannya. Ia akan mulai membuka hatinya untuk suaminya. Aran dengan telaten membantu membersihkan tubuh Dera dengan kain basah. Aran tak ingin Dera kelelahan atau sakit karena hal ini. Tak dia ijinkan hanya untuk mengambil minum di meja karena Aran langsung bergerak mengambilkan minuman di atas nakas sampai tempat tidurnya.


"Udah mas aja yang ambil Dera", Aran langsung berbicara seperti itu waktu melihat pergerakan Dera dari atas ranjangnya. Tubuh yang sudah terselimuti itu akhirnya tak jadi kemana-mana.


"Mas Aran, kok mas Aran baik banget sih sama Dera. Dera tadi sampai takut mas jika mas Aran gak ketemu Dera mau bagaimana lagi hidup Dera. Dera"... belum sempat Dera menyelesaikan ucapannya Aran sudah menutup mulut Dera agar tak melanjutkan ucapannya tadi. Karena Aran tak mau Dera mengandai-andai lagi, yang terpenting Dera sudah ketemu dengannya dan aman di sampingnya seperti ini.


"Aku ingin mendengarkan cerita kamu tadi Dera. Bagaimana kamu bisa hilang seperti ini. Aku akan selalu menjaga kamu dan tak akan terulang lagi seperti ini, Dera". Ucapnya sambil memeluk tubuh mungil sang istri. Memberikan ketenangan agar sang istri tak usah ketakutan lagi.


"Tadi pak Bagus meminta tolong aku untuk bantu dia tapi akhirnya aku terkunci di dalam box mobil dan setelah itu aku bangun-bangun sudah di ruangan yang tadi. Aku ketakutan mas Aran, aku gak ada nomor yang bisa untuk menghubungi mas Aran juga", cerita Dera sambil menitihkan air mata ketakutan. Terbayang bagaimana kabarnya jika ia belum berhasil ditemukan oleh sang suami.


"Sudah besok kita beli ponsel untuk kamu ya. Dan aku akan buat kamu kerja di ruangan aku aja bantu-bantu mas, gak usah yang berat-berat ya. Mas takut kenapa-napa sama kamu. Belum lagi tadi bapak telfon bilang kalau Teo menangis memikirkan kamu. Aku binggung mau jawab apa Dera akhirnya aku bilang kamu lembur".


"Aku gak mau kerja di ruangan mas Aran, semua orang tahu nanti hubungan kita apa", marah Dera sambil melihat ke arah suaminya dan memanyunkan bibirnya.


"Biarkan semua tahu karena sebentar lagi mereka juga tahu kok waktu anak ku ada di sini", jawabnya sambil mengusap perut rata Dera. Karena Aran percaya jika Dera akan cepat hamil anaknya. Dan pastinya kebahagiaannya akan bertambah lagi. Aran tak mau Dera sampai pergi dari sisihnya lagi.


"Mas Aran aku belum siap mas, aku takut keluarga ku belum bisa menerima mas Aran. Apalagi Teo, aku belum membahagiakan anakku. Bagaimana jika dia tahu jika aku akan melahirkan adik untuknya. Dia pasti kecewa mas aku mementingkan adiknya ". Jawaban Dera yang sebenarnya ia takutkan.

__ADS_1


"Udah biarkan urusan orang tua mu jadi utusan ku. Dan untuk Teo aku yakin ia akan sayang sama adiknya karena aku tak akan membedakan dia dengan adiknya. Yang penting kita tidur dulu ya, mas capek banget".


Akhirnya Dera tidur di dekapan Aran, Dera sudah mulai membuka hati untuk suaminya yang begitu baik padanya itu. Ia tak tahu apakah ini benar atau tidak yang penting ia akan memberikan apa yang sudah jadi hak dan kewajiban untuk Aran.


Pagi ini rasanya mata Dera begitu berat untuk terbuka. Padahal ini sudah melebihi waktu subuh. Sinar matahari yang sedikit sudah naik membuat Dera mengharuskan untuk bangun tapi apa daya dia tak bisa langsung vit. Rasa bagian tubuhnya begitu lelah seperti sedang bekerja beberapa bulan tanpa libur. Sambil menggoyangkan tangannya Dera berharap akan kembali enakan. Tapi apa daya pergerakannya itu malah membangunkan sang suami.


"Mas Aran Dera masih ngantuk mas", bisiknya di telinga Aran.


"Ya udah kita berangkat ke pabriknya siangan aja ya nunggu Raka bangun juga. Kamu gak usah masak biar mas pesan aja makanan untuk kita sarapan. Temani mas aja di kamar Dera". Balasnya yang semakin mempererat pelukannya itu.


Dera akhirnya tidur kembali tanpa membalas ucapan Aran karena sangat leleh sekali. Hari ini rasanya Dera begitu ingin di urut dan ingin sedikit merilekskan tubuh. Jika di kampung banyak yang bisa urut tapi berhubung dia di kota ia tak tahu harus kemana untuk urut.


Walaupun ia sangat pegal-pegal tapi ia tak boleh mengeluh pada Aran lagi. Takut Aran akan ikut binggung nantinya. Tak terasa akhirnya sudah pukul 9 pagi dimana mereka memuaskan tidurnya terlalu lama. Mereka berdua saja terbangun karena suara ponsel Aran yang sudah berbunyi. Dan itu dari Raka yang sudah siap berpakaian rapi yang menunggu bosnya tak turun- turun dari kamarnya itu.


"Bos, udah pukul 9 mau berangkat gak bos nanti aku gak dapat bonus lho kalau gak cepat-cepat berangkat"!. Raka begitu terfikir tentang bonus yang hangus nantinya. Biasa dia kandang makan siang melebihi batas uang sakunya jadi ya menunggu bonusan dari pabrik.


"Udah tenang aja, kamu dapat bonus langsung dari aku kok, tunggu aku siap-siap dulu ya". Sebelum akhirnya Aran mematikan ponselnya.


Melihat istrinya yang sudah sedikit lebih rileks akhirnya Aran memberikan kecupan untuk sang istri.


"Muach,,,

__ADS_1


"Selamat pagi Dera" ucapan Aran yang langsung mencium kening istrinya. Setelah mencium Dera, Aran begitu semangat dan langsung bergegas akan mandi. Tapi belum sempat ia sampai di depan pintu kamar mandinya suara Dera menghentikan semuanya.


"Mas Aran,," pekikan suara Dera yang mengema di ruangan itu.


"Kita mandi bareng yuk, kamu pasti mau ikut mas mandi ya?", goda Aran pada Dera. Karena panggilan tadi Aran mendekati Dera lagi.


"Gak ah bukan mandi cepat malahan nanti, kan udah di tunggu Raka kan!".


"Berarti kamu minta yang lain ni ceritanya, atau sekarang aja yang lain biar Raka berangkat sendiri aja ke pabrik", bisik Aran yang membuat Dera bergidik ngeri.


"Udah mas aja yang mandi duluan nanti Dera nyusul gih, Dera masih pingin rebahan", ujarnya membalas ucapan Aran.


Akhirnya Aran langsung mandi dan bergantian dengan Dera. Semuanya sudah siap akan kerja dan Dera meminta ponsel Aran untuk menghubungi Ayahnya. Karena Dera rindu anaknya Teo. Sambil jalan masuk mobil Dera bergelut dengan ponsel Aran tanpa melihat jalan. Aran yang melihat kebiasaan baru Dera hanya tersenyum sambil membukakan pintu mobil dan meletakkan telapak tangannya di bagian atas mobil agar Dera tak membentur dinding mobil. Sampai-sampai Raka yang melihatnya tersenyum dan langsung berucap di dalam mobil. Tapi Dera mendengarkan ucapan itu walaupun hanya suara kecil.


"Beruntungnya Bu Dera, ternyata pak Aran laki-laki yang romantis dan tanggung jawab. Padahal jika di pabrik tak ada yang berani padanya", suara Raka yang hanya terdengar Dera karena Aran masih mutar mobil akan masuk dan duduk di sebelah Dera tadi.


"Kamu bilang apa Raka?


Sepertinya kamu mengerutkan saya", tanya Dera.


"Gak kok buk, saya gak bermaksud begitu". Raka takut jika akan di dengar oleh bos besarnya nanti. Belum sempat Dera melanjutkan ucapannya tadi telfon Ayahnya tadi sudah di angkatnya.

__ADS_1


*****


Terimakasih kakak atas dukungannya. Semoga sedikit bisa menghibur kakak semua. Salam sayang dari ku kakak🄰.


__ADS_2