
Tepat pukul 9 malam akhirnya pekerjaan Dera dan semua karyawan telah usai pasnya hanya bagian Dera yang lembur sampai jam segini, karena bagian yang lainnya sudah pulang pukul 8 malam tadi. Dan Dera yang baru saja keluar dari pintu pabrik langsung didekati mobil yang tak asing baginya, mungkin karena ia sudah hampir 3 kali ini numpang di mobil itu. Siapa lagi jika bukan mobil Aran yang ternyata sudah menunggu Dera dari pukul setengah 9 tadi. Tak tega kalau mau meninggalkan Dera sendiri apalagi Dera yang belum tahu daerah sini.
Dera yang silau dengan lampu depan mobil Aran pun menurut wajahnya dengan kedua tangannya. Sedangkan Aran yang sudah mendekat ke dekat Dera langsung menyuruh Dera untuk masuk ke mobil sambil menurunkan kaca mobil sampai ia terlihat.
" Dera ayo, Udah malam Dera ayo masuk", sentaknya Aran karena Dera tak langsung masuk karena kasih menurut matanya karena silau tadi
" Iya mas, Kenapa mas belum pulang sih?
Kan gak harus nunggu aku. Jadi sampai mas kemalaman gini kan". Merasa jika Aran habis membentaknya karena ia sudah terlalu lelah, pikirnya dan lama menunggu dia pulang.
" Udah aku nungguin kamu malah kamu bilang kaya gitu. Mendiang kalau kamu ucapin terimakasih, kata Aran yang langsung menghidupkan mobilnya. Sia-sia dong apa yang ia lakukan.
" Gak gitu mas, jadi mas kemalaman juga kan belum lagi mas juga capek. Tapi makasih ya mas udah mau nungguin aku. Aku merasa jika mas orang baik banget, kata Dera yang melihat ke arah Aran sambil tersenyum.
__ADS_1
" Emang kamu pikir aku orang jahat gitu?
Apa aku dari kemarin pas kamu datang kesini buat kamu sakit atau yang lain, gak kan!!". Sentaknya. Aran merasa jika malam ini emosinya sangat tak bisa terkontrol sama sekali. Udah capek malah di perlakukan seperti itu lagi. Tapi tak apa daripada setiap ia pulang malam karena lembur tak ada yang bisa diajak untuk berdebat seperti malam ini. Hari-hari yang dulu kesepian akhirnya sedikit terobati dengan adanya Dera.
" Ah,, mas kok aku salah terus ya. Udah lah aku mendiang diam aja. Kenapa juga aku yang selalu salah bilang gini salah jawab gitu juga salah. Mas bisa gak sih sedikit hibur aku aku juga bingung harus bagaimana mas. Mas tahu betapa aku sulit untuk membuka untuk dekat dengan laki-laki lagi mas. Aku mencoba hanya dengan mas aja lho, kata Dera panjang lebar yang tak kalahnya menyentak dengan nada tinggi. Sebenarnya ia akan mencoba bisa bersahabat lagi dengan laki-laki tapi kekecewaan yang pernah ia alami membuat ia trauma sampai saat ini.
Aran yang melihat Dera menunduk dan menangis langsung menepikan mobilnya. Ia merasa ada yang tak beres dengan Dera. Apalagi dari kata-kata Dera yang seperti ia ada masalah yang sangat membebani pikirannya.
" Dera, apakah kamu baik-baik saja?
Aran meminta maaf sambil kedua tangannya yang masih memegang kemudi dan menengok ke arah Dera. Rasanya ia telah berdosa membuat wanita menangis. Laki-laki macam apa dia itu. Yang hanya bisa menyakiti wanita saja.
" Mas tahu aku disini karena apa.
__ADS_1
Karena aku ingin menghilangkan bayangan yang selalu menghantuiku setiap hari. Ada yang membuat aku tak bisa melupakan hal itu. Walaupun bagaimana caranya akau ingin menutup kenang itu tapi tetap saja ada di pikiran aku mas. Aku tak pantas untuk menceritakan hal ini pada siapapun. Aku hanya berharap jika aku hilang ingatan dan bisa melupakan hal itu tanpa aku harus berusaha melupakannya. Perkataan Dera yang membuat Aran semakin penasaran.
" Ok aku tahu masalah kamu tak ada yang boleh tahu. Tapi jangan sampai kau meminta seperti itu yang harus hilang ingatan segala. Aku tahu aku tak baik dan aku egois tapi percayalah aku tulus membantumu Dera. Jika kau tak percaya padaku aku harap bisa mendengarkan apa yang kau rasa". Aran terus membujuk Dera agar sedikit terbuka padanya. Dimana ia ingin mengetahui Dera seutuhnya akan terlaksana jika ia bisa mengoreknya langsung dari sang tuan rumah.
Derai air mata Dera terus menetes karena mengingatkan apa yang sudah terjadi. Akhirnya Dera mencoba menceritakan tentang apa yang ia rasakan. Dari permasalah apa yang ia bisa ucapan dari mulutnya sendiri.
" Mas Aran tahu anak laki-laki yang ada di foto nomor Ayahku. Dia anakku yang tak pernah tahu siapa Ayahnya dan dimana Ayahnya. Aku tahu aku tak seharusnya menceritakan hal ini pada mas Aran tapi aku juga tak ingin mas Aran marah jika suatu saat mengetahui dari orang lain jika aku bukan wanita yang baik-baik dan hanya mengecewakan mas Aran yang sudah percaya padaku. Aku dulu pernah menikah karena kecelakaan mas. Teman kerjaku dulu menghamili ku, karena ia frustasi dengan pacarnya. Padahal kita temenan baik-baik aku kira juga akan baik. Tapi kenyataannya berbeda setelah aku hamil dia masih kembali pada mantan pacarnya lagi hingga aku setelah menikah memutuskan untuk ngontrak rumah pun kadang dirumah sendirian. Hingga waktu aku lahiran pun aku hanya ditunggu orang tuaku saja. Rasanya cobaan ku berat banget waktu itu, akhirnya Ayahku marah meminta aku untuk cerai dengan dia, tapi kenyataannya setelah aku pulang dari lahiran mertuaku datang dan minta maaf karena ternyata suamiku menghamili pacarnya itu. Hancur mas, aku wanita tak berguna saat itu hingga akhirnya surat pisah kami selesai diurus kami tak pernah bertemu lagi hingga saat ini. Nafkah yang tak pernah aku dapatkan apalagi untuk anaknya sendiri. Aku bersalah karena selama 1 tahun lebih telah membuat Ayahku mencari nafkah untuk kami sekeluarga. Hingga aku putuskan untuk ke kota ini tapi aku juga mendapatkan musibah juga. Aku wanita yang begitu rapuh jika di luar keluarga, tapi jika di dalam keluarga selalu kuat untuk mereka.
Tak terasa Dera akhirnya menceritakan tentang kisah hidupnya yang begitu sulit untuk ia lupakan. Karena Dera baru sadar jika ia telah menceritakan aibnya pun langsung lemas dan membalikkan wajahnya ke arah sebelah. Rasanya ia tak sanggup lagi jika semua orang akan tahu hal itu. Apalagi seorang bisa yang baru 2 hari ini ia kenal. Akibat dari sang bos yang murah tadi kenapa ia bisa langsung mencurahkan isi hatinya. Bodoh runtuhnya pikiran saat ini. Ingatan masa lalu lah yang akhirnya kelar dari mulut manisnya itu.
Sedangkan Aran yang sudah mendapatkan apa yang ia inginkan pun terdiam dan akhirnya melanjutkan perjalanan pulangnya. Apalagi melihat Dera yang nampak diam ia tak bisa mengucapkan apapun. Ia serba salah akan melukai hati wanita rapuh di sebelahnya . Padahal ia tadi tak sengaja marah pada Dera karena ia sudah lelah saja. Karena tak ingin melukai Dera lagi akhirnya Aran menjalankan mobilnya untuk pulang ke rumah dan istirahat.
Akhirnya ia mengetahui satu hal tentang Dera. Kabar ini juga membuat ia bingung karena telah ikut campur dalam hidup Dera untuk beberapa hari ini, terlalu dalam dari sebatas yang seharusnya ia ketahui sebagai orang asing.
__ADS_1
Bingung untuk memulai pembicaraan satu sama lain akhirnya hanya hening dan tak ada ucapan apapun. Aran yang merasa tak enak sedangkan untuk Dera merasa malu karena kebenaran hidupnya saat ini sudah di ketahui oleh Aran. Aran akhirnya memulai untuk berbicara pada Dera agar tak jadi masalah untuk mereka esoknya.
"Sudah yang lalu biarkan saja berlalu Dera. Yang saat ini harus kau pikirkan hanyalah kebagian keluargamu, terutama Teo. Apakah boleh aku mulai mengenal Teo anggap saja sebagai sahabat ibuknya", ucapan Aran yang menenangkan Dera.