
Setelah Dera pergi, Aran langsung mencari nomor rekening Ayah Dera yang pastinya masih tersimpan di tas Dera. Dengan mengambil satu persatu akhirnya ia menemukan tulisan yang menyatakan apa yang sedang di cari Aran. Sebelum Dera tahu hal itu Aran langsung kembali ke tempat semula yang mana ia kembali tidur di ranjang dengan bermalas-malasan sampai menunggu Dera datang.
"Mas Aran mau bangun gak sih", Dera yang melihat Aran tak pergi dari tempat semula langsung mengucapkan hal itu.
"Kasih hadiah dulu dong baru aku mau pergi", godanya yang sambil memegang pipinya untuk Dera ciuman. Biasa saat ini Aran terlihat manja agar Dera bisa luluh atau apa saya juga tak tahu itu.
"Ya udah kalau mas gak mau bangun, Dera sholat sendiri aja habis itu Dera mau bersih-bersih rumah ya". Karena Dera tak mau menuruti kemauan Aran maka Dera langsung pergi untuk mengambil alat sholatnya.
Belum juga Dera mau memakainya Aran langsung berlari ke kamar mandi dan meminta Dera untuk menunggunya, karena Aran akan mandi besar jadi sedikit lama. Sekitar 10 menit akhirnya Aran selesai dan mengajak Dera untuk sholat apalagi Aran sudah ganti pakaian rapi.
"Wah kalau kaya gini rapi juga mas Aran".
"Iya aku rapi apalagi kalau mau pergi sama kamu pasti rapi lagi".
"Udah lah, sholat keburu habis waktunya nanti", ujar Dera yang berdiri dan melihat jam dinding.
Pagi ini Aran bangun lebih awal dari biasanya. Dera yang sibuk dengan urusan pekerjaan rumah sedangkan Aran mengambil ponselnya dan mengirimkan uang untuk orang tua Dera dengan nomor yang ia dapatkan tadi. Cukuplah untuk mencukupi kebutuhan di kampung untuk satu bulan. Yang penting Aran akan terus memperhatikan hal itu mulai saat ini. Pas Dera yang membuatkan kopi untuk Aran dia tak sengaja melihat ponsel Aran yang sedang melakukan transaksi tadi.
"Mas, kok mas ngirim uang ke nomor pak Toso untuk kebutuhan sehari-hari. Siapa pak Toso?", tanya Dera yang penasaran karena kesamaan nama Ayahnya sendiri.
__ADS_1
Aran yang tak tahu Dera ada di belakangnya pun kaget karena suara yang seolah-olah meminta jawaban itu.
"Dera, kapan kamu ada disini?", pertanyaan Aran balik.
"Itu tak penting mas, Dera hanya ingin tahu pak Toso itu siapa sepertinya Dera penasaran hal ini". Dera yakin jika tadi ada nama pak Toso yang ia lihat di ponsel mas Aran tadi.
"Maafkan aku Dera, tadi aku menemukan nomor rekening Ayahmu di buku catatan kecilmu. Dan ini untuk mereka mencukupi kebutuhan sehari-hari dulu Dera", penjelasan yang Dera pertanyaan tadi. Dera yakin jika tadi ada nama pak Toso jadi kekeh menanyakan hal itu.
Dera yang merasa terharu pun menangis karena Aran ternyata begitu baik hanya saja kebaikannya selalu membuat Dera semakin terikat dengannya. Bagaimana ia akan bisa terlepas dari Aran jika semakin kesini kebaikan itu semakin terlihat menumpuk.
"Sudah jangan menangis Dera, ini janjiku jika keluargamu akan aku utamakan mulai tadi malam aku bisa mendapatkan mu. Agar mereka juga bisa memenuhi kebutuhan mereka di sana Dera. Aku hanya ingin kamu disini dan tetap akan disini bersamaku", penjelasan Aran yang sambil mengusap air mata Dera.
"Ok jika itu kemauan mu kita bisa nikah siri agar kita tak banyak dosa Dera, tapi jika untuk melepaskan mu aku tak sanggup Dera". Aran kekeh akan mempertahankan Dera karena ia akan menjalankan amat sangat orang tuanya dulu.
"Mas tapi yang mas kirimkan tadi begitu banyak mas, aku tak bisa mengembalikan itu semua, gajiku aja aku tak tahu seberapa nanti".
"Udah itu semua tak aku minta untuk di kembalikan asal kamu jangan sekali-kali akan pergi dariku Dera. Jika kamu berani pergi dariku aku akan beritahu orang tuamu jika kita hidup dalam satu rumah dan sudah menjalani kehidupan seperti suami istri, ingatlah itu Dera".
"Mas tapi aku baru 4 hari di sini kok sudah bisa kirim segitu banyaknya mas, nanti Ayah sama Ibuk curiga mas".
__ADS_1
"Udah bilang saja itu uang bonus karena apalah agar orang tuamu tak curiga, ya udah mas mau mandi nanti siapin baju kerja mas dan bawa ke atas ya".
"Hem, iya mas sahut Dera lesu. Oya mas...", belum juga Dera selesai bicara Aran langsung berdiri dan naik ke kamarnya untuk mandi. Karena ia tahu Dera akan membahas tentang kiriman uang tadi. Sebenarnya Aran tak mempersoalkan jumlahnya dan balasnya tapi itu hanya alasan agar Dera mulai nurut dengan dirinya itu. Karena Dera agak susah jika tak di perlakukan seperti itu.
Dera yang langsung mengambil baju untuk Aran di ruang cuci langsung naik ke lantai atas untuk mengantarkannya. Karena dia juga akan siap-siap sendiri untuk kerja di pabrik. Walaupun ia sebenarnya sangat lelah tapi tak dia rasakan untuk kebahagiaan orangtunya dan anaknya juga.
"Tok,,tok,,tok..
Ketukan pintu kamar Aran yang tak di jawab sang pemilik kamar. Karena tak ada jawaban akhirnya Dera masuk dan bermaksud untuk meletakkan dan kembali ke kamarnya sendiri. Tapi sebelum ia berbalik untuk ke luar kamar Aran yang baru selesai mandi keluar dari kamar mandi dan memeluk Dera dari belakang.
"Kita sarapan dulu ya, aku masih kangen kamu Dera", bisik Aran di tengkuk Dera. Karena Aran memeluk dari belakang tubuh sang pujaan hati.
"Mas, Dera mau mandi juga lho". Dera tak mau pagi ini ia melakukan hal yang seperti semalam mereka lakukan. Cukup biarkan sekali saja pikirnya tak ada dua kali.
Tapi bukan Aran yang tak bisa membuat Dera mau karena Aran langsung menggendong Dera dan menidurkan di ranjangnya. Pagi ini Aran langsung menggoda Dera sampai akhirnya mereka sarapan pagi. Sarapan pagi yang mengenyangkan hasrat dari Aran. Dan pagi ini kamar Aran lah yang menjadi bukti perbuatan Dera dan Aran. Bukan bukan pasnya perbuatan Aran pada Dera. Aran yang merasa puas langsung tertidur disamping Dera. Hari ini Aran merasa sangat di istimewakan.
"Udah kita gak usah berangkat ke pabrik aja ya, mas lihat kamu lelah karena mas juga", ucapnya sambil mencium kening Dera.
"Tapi Dera kan masih anak baru mas, masak iya Dera cuti apalagi cutinya mendadak gini". Dera mereka emang harus butuh istirahat karena kewalahan menghadapi Aran tapi jika ia tak masuk mau bagaimana alasannya juga dia binggung sendiri karena ulah sang bos. Dia tak mau terikat dengan Aran sampai ia harus memenuhi kebutuhan hasratnya. Tapi ia juga belum bisa pergi dari rumah ini untuk mencari tempat yang lainnya.
__ADS_1