
Karena ia hanya mendengarkan obrolan Aran dan ayahnya, ia sendiri juga ingin sekali melihat sosok sang orang tua. Dengan berat hati akhirnya Dera meminta mas Aran untuk memberikan ponselnya.
"Mas aku boleh ikut bilang sama Ayah sama Ibuk. Dera kangen mas sama semua apalagi Teo".
"Boleh tapi kamu harus ijinkan aku tetap ada disini. Aku gak mau kamu dekat dengan Nanang Qosim lagi Dera kamu hanya memilik mas seorang", pintanya sambil menutup telfonnya dengan tangan agar sang ayah tak mendengarnya ucapannya tadi.
"Heem mas, mana Dera mau bilang sama Ayah".
Dera ingin meminta ponsel itu dari tangan Aran yang semakin mendekat dengannya. Pas didepan wajahnya Aran langsung mencium kening Dera. Akhirnya Aran bisa mencium sang istri. Walaupun dengan susah payah akhirnya ia mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Mas Aran lho", marah Dera yang berhasil memegang ponsel sang suami dan satu tangannya mengusap kening yang habis di cium sang suami. Penolakan itu langsung di tanyakan oleh sang ayah yang mendengar Dera merengek tadi.
"Sayang kamu kenapa?
Ayah sama Ibuk kangen banget apalagi Teo kalau gak tiap hari bos kamu telfon Teo mungkin dia sudah minta diantar ikut kamu nak", ucapan sang Ayah yang juga merindukan anak semata wayangnya. Sudah dua bulan tak ada kabar sama sekali.
"Ini Ayah, Dera di ganggu teman Dera". Sebenarnya Aran sakit di anggap sebagai teman. Tapi ia juga belum berani mengakui pernikahannya juga pada orang tua Dera atau malah meminta restu paling tidak. Ia ingin seperti ini karena ia ingin mendekatkan diri pada Dera dan pada keluarganya baru ia akan lebih berani untuk meminta restu. Apalagi hubungan sang adik yaitu Gendis tak begitu bagus. Ia takut jika Gendis akan melakukan hal yang nantinya membuat Dera celaka atau yang lainnya.
"Kok sepertinya kamu sedang di rumah sakit ya?, Apa kamu sedang sakit nak!". Terlihat dari video call jika Dera saat ini sedang dirawat.
__ADS_1
"Iya Ayah, Dera drop memungkin kecapekan. Oya salam ya buat Ibuk sama Teo". Takut ditanyai macam-macam ia memutuskan untuk menutup panggilan teleponnya.
"Kamu jika sakit seperti ini pasti gak mau bicara sama Ayah. Apakah karena kamu takut jika Ayah akan marah padamu nak. Kami disini kangen sama kamu, dan disaat kita bisa telfon denganmu kamu lagi seperti ini kondisinya. Jaga kondisi kamu dong sayang disitu gak ada saudara yang akan merawat kamu. Untuk ada bos kamu jadi Ayah sedikit lega".
"Maafkan Dera Ayah, Dera sudah membaik kok mungkin akan bisa langsung pulang. Ya udah Dera mau minum obat dulu ya Ayah". lebih baik memutuskan telfonnya daripada ia akan semakin berbohong.
Setelah mematikan panggilan tadi Dera tampak lesu dan tak bersemangat lagi. Ia binggung akan hidupnya, ia tak tahu akan seperti apalagi hubungan antara dia dan mas Aran sang suami. Apalagi setelah Dera tahu jika ia juga tak dikenalkan pada sang adik yaitu Gendis. Sehingga sampai ada perselisihan antara mereka. Sebenarnya Dera juga tak tahu semua tentang kehidupan mas Aran yang di tutupi atau tidak karena ia baru bertemu juga belum lama. Tapi jika ia bertahan di rumah mas Nanang Qosim apakah itu juga bagus untuknya.
"Kenapa Dera, sepertinya kamu banyak sekali pikiran yang kamu pendam sendiri?", tanya sang suami yang berani duduk dekat dengannya.
"Mas aku ingin pulang ikut orang tuaku mas. Aku tak sanggup untuk semua ini berat rasanya".
"Tapi mas, aku tak mau adik mas marah lagi denganku. Dan izinkan aku pulang saja mas", pintanya pada Aran. Ia tak mau menggoreskan luka lagi nantinya.
"Tak ku Ijinkan kau pergi Dera. Aku ingin disampingmu dan anakku juga. Jika kamu mau orang tua mu dan Teo akan aku jemput agar kalian masih bisa bersama dan aku tetap akan bersatu. Jika itu masalah Gendis biarkan karena kita punya kehidupan sendiri-sendiri Dera aku tak akan mengganggunya begitupun dia tak bisa menganggu kehidupanku".
Dari jawaban itu Dera tahu ada sesuatu yang masa Aran sembunyikan tentang hubungannya antara dia dan adiknya. Tak mungkin jika tak ada masalah ia menjawab seperti itu.
"Ya udah kita pulang ke rumah aja ya. Kita perbaiki semuanya lagi dari awal. Aku ijin tuan Nanang Qosim untuk membawamu pulang", permintaan Aran akan Dera mengikuti dia pulang ke rumah. Aran tak mengizinkan Dera dekat dengan sang mantan kekasihnya itu. Tapi Dera yang di minta persetujuan tak menjawab apapun hanya diam karena binggung.
__ADS_1
"Tidak tuan Aran, sepertinya Genduk tak mau pulang bersama anda. Lepaskan Genduk saja aku akan lebih sayang dari pada anda nantinya", suara laki-laki yang tengah masuk ke dalam ruangan dan mendengar permintaan Aran tadi. Iya di adalah tuan Qosim ia tak mau berpisah juga dengan Genduk ia berharap jika Aran mau melepaskan dan merelakan dia manjadi milikinya.
"Jangan memancing emosi saya tuan Qosim. Ini tak ada hubungannya dengan anda. Jadi harap untuk keluar dari ruangan Dera", sentak Aran frustasi kerena ada sang rivalnya.
"Apa anda bilang tadi, keluar!!!, anda gak ingat waktu anda sudah habis tuan Aran sudah seperempat jam anda didalam dan waktunya gantian aku menunggu Genduk disini", sanggah Nanang Qosim tak terima. Ia sudah mengalah tadi karena permintaan Dera. Tapi saat ini dera tak mengucapkan apapun itu.
"Tapi kan aku suaminya tuan Qosim. Anda lupa kami belum ada kata pisah dan pastinya baka tetap bersama. Aku akan ajak Dera untuk pulang ke rumah dan menjalani kehidupan seperti biasanya". Aran tak mau kalah ia terus saja mengucapkan jika ia akan mengajak Dera untuk pulang. Padahal Dera saja belum mau menjawab atas permintaan Aran tadi. Dia lebih memilih diam karena begitu banyak yang ia pertimbangkan. Antara ikut atau tidak dan antara takut untuk sakit atau membiarkan semuanya semaikan suram saja.
Dalam diam Dera masih memikirkan apa yang terbaik untuknya sampai-sampai ia hanyut dalam pikirannya. Tak menghiraukan dua orang yang sedang adu mulut itu. Ia ingin yang terbaik untuknya tapi ia binggung mau meminta saran dari siapa apalagi walaupun ia sudah pernah menikah tapi ia juga tak pernah merasakan menjalani kehidupan rumah tangga yang harmonis.
"Dera kamu kenapa diam saja, mas gak ingin kamu melamun kaya gini Dera", tegur Aran yang menyadari sang istri hanya diam tak bergerak sama sekali.
"Aku tak sanggup memikirkan ini semua saat ini mas Aran. Aku bimbang untuk kembali ke rumah mas Aran lagi. Aku ingin hidup tentram dengan anakku mas", jawab Dera sejujurnya ia tertekan jika harus masuk ke dalam rumah Aran dan bertemu orang yang Dera tak kenal sama sekali.
"Atau kita cari rumah baru Dera. Kita hidup bersama untuk anak kita. Kita ajak kedua orang tua kamu dan Teo nantinya", saran Aran lagi.
"Tidak Dera kamu cukup kembali kerumah nenek Aminah saja. Kamu akan merasakan bahagia disana", usul Nanang yang mau dera juga memikirkan sarannya itu. Bukanya ada solusi malah tambah binggung dia.
****
__ADS_1
Rumah Siapa yang akhirnya Dera pilih. Kita tunggu jawabannya di bab selanjutnya kakak. Salam sehat Amin ❤️🥲🥰