MISTERI PERJODOHAN MASA LAMPAU

MISTERI PERJODOHAN MASA LAMPAU
Keputusan Dera


__ADS_3

"Maafkan aku mas Aran dan mas Qosim, apakah kalian semua bisa tinggalkan aku sendiri. Aku ingin memikirkan ini matang-matang nantinya", pinta Dera pada kedua orang itu.


Dengan berat hati akhirnya Aran dan Nanang keluar dari ruangan Dera tadi. Mereka menghargai keputusan Dera untuk memberikan kesempatan untuk tenang. Mungkin saja setelah itu Dera bisa memutuskan apa yang akan ia pilih.


Aran dan Nanang langsung duduk di tempat mereka tadi sebelum diperbolehkan masuk ke ruangan. Walaupun sebenarnya mereka tak mau keluar dari ruangan, tapi ia juga binggung sekali mau seperti apalagi kalau bukan hanya menurut saja kemauan Dera.


Setelah semuanya keluar Dera langsung mengusap perut ratanya. Bayangan ia yang tadi kehilangan bayinya terbesit begitu saja. Dia yang kehilangan bayinya karena diambil orang langsung membuat ia menangis. Cobaan apa lagi yang akan ia terima jika ia kehilangan bayinya.


"Sayang aku tahu kamu pasti akan tetap kuat di perut Ibuk. Tapi apa yang harus Ibuk pilih setelah ini?.


Aku binggung harus memilih siapa untuk kita tuju. Tak mungkin kita pulang ke rumah nenek dan kakek karena mereka belum tahu ke beradaan kamu. Tapi aku tak sanggup lagi di rumah mas Qosim karena akan melukai hatinya lagi nantinya. Tapi jika kita kerumah Ayahmu apakah kita akan bahagia sayang!", sambil mengusap perut Dera mengucapkan hal itu. Bimbang pastinya dia tak merasa nyaman jika kembali ke rumah Aran. Tapi ia juga tak mau kembali ke rumah Qosim karena takut akan melukainya nanti.


"Ak,,," pekik Dera tiba-tiba perutnya merasa sakit dan begitu sakitnya. Ia yang akan menekan tombol bantuan pun kesusahan. Hanya teriakan yang Dera bisa lakukan.


"Tolong, tolong".


Aran dan Nanang yang mendengarkan hal itu langsung berlari masuk kedalam ruangan yang mana Dera sudah begitu lemah. Apalagi sambil mengusap perutnya.


"Tolong panggilkan dokter tuan Qosim, Dera begitu kesakitan", pintanya pada Qosim yang juga panik. Aran berteriak bagaikan orang yang kesurupan tak sadar jika ia sedang ada di rumah sakit.


Keadaan yang sudah pasti membuat semuanya panik. Mana ada jika keluarga kita kesakitan kita bisa tersenyum atau bahagia. Hanya orang yang tak memiliki hati yang seperti itu.

__ADS_1


"Tolong Dok, tolong selamatkan istri saya dok", pinta Aran yang melihat dokter berlari ke dalam ruangan.


"Tolong tuan-tuan keluar dulu dari ruangan, biar dokter yang menanganinya", ucapan suster yang mengiring kedua laki-laki untuk keluar ruangan Dera.


Aran dan Nanang tak henti-hentinya berdoa untuk kebaikan Dera. Mereka tak mau Dera merasakan kesakitan yang kedua kalinya. Hingga akhirnya 25 menit berlalu. Dokter tak kunjung datang malah tambah dua dokter lagi yang masuk ke dalam. "Mungkinkan Dera terjadi sesuatu?", tanya Aran pada Nanang. Dalam kondisi seperti ini mereka bisa saling berinteraksi karena mengenai Dera. Tapi jika tak ada yang penting mungkin mereka acuh tak acuh.


"Iya tuan aku juga takut Genduk kenapa-napa. Sudah berapa lama anda sama Genduk menikah tuan Aran?", tanya Nanang membuka suaranya. Sudah sepantasnya ia tahu mengenai Genduk nantinya.


" Hampir 2,5 bulan tuan Qosim. Kenapa anda tanyakan hal itu?".


" Tidak tuan Aran saya hanya ingin tahu saja. Oya apakah kita tak sepantasnya memberikan hak untuk Genduk pilih dan akan bahagia nanti yang. Aku tak tega melihatnya seperti ini". Nanang mencoba untuk berdamai agar Genduk bisa lebih tenang dari ini. Begitupun keputusan Genduk ia juga akan terima. Melihat sang wanita yang ia cintai drop tak berdaya membuat hatinya sakit.


" Iya tuan Qosim aku juga sepertinya terlalu mengharuskan dia untuk seperti apa yang aku harapkan. Aku akan ikhlas nanti apa yang akan ia katakan jika sadar", ada harapan jika Dera tetap akan memilihnya.


"Dok, sus aku boleh tanya?", kata lembut Dera memecahkan keheningan di ruangan itu.


"Silahkan jika itu bisa membuat pikiran anda berbagi. Jangan paksakan kamu memikirkan yang terlalu berat, Nona", dokter tadi tahu jika Dera hanya memikirkan hal ini sampai kandungannya sedikit terganggu. Mungkin saja kandungannya tadi juga tak bisa mereka pertahankan jika tak ada dokter yang barusan tiba tadi.


"Dok maafkan aku, aku sangat tak bisa memutuskan apa yang akan aku pilih. Antar aku ikut suamiku atau aku ikut mantan pacarku dulu. Semuanya begitu berat sekali untuk ku dok". Dera yang ia akan dapat solusi yang terbaik nantinya.


"Jika menurut saya, lebih baik anda ikut suami karena kandungan anda butuh orang yang memperhatikannya. Dan pastinya suami anda bisa melakukan hal itu. Jika anda ikut mantan pacar anda itu seperti wanita tak baik-baik nona", tapi itu menurut saya lho.

__ADS_1


"Em.. Jika saya lebih baik ikut suami juga. Akan membantu penyembuhan sikis anda, karena anda berdua saat ini. Dan satu lagi seburuk apapun dia adalah suami anda.


Setelah kedua dokter memilih kembali ke pada suami sang suster tak berani menjawab apapun. Mungkin karena ia belum menikah jadi tak tahu mengenai hak seperti ini.


Benar saja lebih baik ia memperbaiki apa yang sempat hancur. Walaupun takutnya akan lebih hancur lagi nantinya, tapi ia akan coba. Jika itu untuk sang anak ia sanggup untuk terluka agar sang anak mendapatkan bagiannya.


"Ya udah nona Dera, pikirkan baik-baik mana yang akan anda pilih. Keputusan ada di tangan anda dan jangan salah pilih. Jika Tuhan mempertemukan anda dengan suami anda dengan begitu banyak cobaan tapi percayalah jika itu adalah ujian agar anda dan sang suami bisa lebih saling menyayangi dan mencintai", sebuah kata yang langsung bisa menusuk hati Dera. Ia ingin sekali pesan sang kiyai yang saat itu menikahkannya dengan Aran. Beliau berpesan agar ada saling percaya satu sama lain jika dalam hubungan bahtera rumah tangga. Itu kunci keharmonisan nantinya.


Karena Dera sudah yakin apa yang akan ia pilih akhirnya ia meminta suster tadi untuk memanggil kedua laki-laki yang cemas di luar sana. Karena keputusan akan ia sampaikan secepatnya.


"Mas Aran dan mas Qosim, Dera minta maaf sebelumnya jika akan melukai hati kalian semua. Tapi aku harus mengucapkan hal ini pada kalian agar kita tetap akan saudara nantinya", kata Dera setelah kedua laki-laki itu masuk dan tinggallah mereka bertiga.


"Iya Genduk aku sanggup kok", balas Qosim tahu apa yang akan Genduk bicarakan. Tapi ia belum akan percaya jika bukan dari sang empunya yang membicarakan.


Aran memilih diam karena ia hanya memikirkan apa yang terbaik untuk Dera. Tak ingin membuat pikirannya lebih parah lagi.


"Em,,, Dera lebih baik pulang ikut mas Aran aja mas Qosim. Maafkan aku, aku sayang sekali sama nenek dan ibuk Ratmi tapi anakku butuh kasih sayang sang Ayah juga mas. Mungkin ini sangat sulit nantinya buat akau tapi aku akan tetap mencobanya mas Qosim", jawab yang akhirnya semuanya tahu kemana Dera akan pulang.


"Alhamdulillah Dera akhirnya kau memilih pulang bersamaku Dera", ucapan bersyukur pada Tuhan atas apa yang ia dapatkan. Akhirnya ia bisa bersama dengan sang istri lagi. Tak akan ia bicarakan Dera pergi lagi untuk meninggalkannya.


***

__ADS_1


Apakah Dera akan bahagia dengan Aran lagi. Dan nenek Aminah dan ibuk Ratmi akankah bisa menerima kepergian Dera. untuk bab selanjutnya kita tunggu ya kakak. ❤️🤗😍


Salam sehat kakak.


__ADS_2