
Di kamar rawat pak Toso Teo yang bercanda gurau dengan sang kakak telah melupakan Ibuknya yang tadi sedikit menangis. Sedangkan Dera juga sudah terlihat biasa seperti tadi. Ibuk Rini juga fokus pada pembicaraan sang suami dengan Teo sang cucu. Sedangkan Aran yang duduk bersebelahan dengan Dera hang diam mengingat ucapan pak Toso mengenai sang Ayah. Ia tahu betapa ia merindukan sosok sang ayah yang begitu ia idolakan itu. Karena sang ayahlah ia yang dulu terpuruk pun bisa bangkit karena ingatan untuk membahagiakan sang adiknya tapi nyatanya ia sendiri tak baik dengan sang Adik.
Dera yang menyadari sang suami hanya diam langsung melihat ke arahnya. Ia memastikan jika sang suami masih berjaga apa malah sudah tertidur karena tak bicara apapun.
" Mas, kok diam saja. Apakah ada sesuatu yang mas rasakan?", tanya Dera pada sang suami.
" Enggak Dera, mas hanya sudah kangen dengan kamu. Sudah beberapa hari aku tak memintanya jatahku", bisik Aran tepat di belakang telinga Dera yang mana juga ingin memancing sang istri. Karena dengan seperti itu Dera langsung merah merona karena malu. Aran yang begitu bimbang untuk jujur akhirnya hanya bisa mengoda sang istri. Ia belum mau terkenali dulu oleh Om Toso dan dan bibik Rini. Ia mau mereka berdua sayang padanya karena sifatnya yang baik dan bukan karena orangtuanya. Laki-laki yang jantan hanya mencari namanya dengan usah mereka bukan dengan nama orang tua mereka yang sudah pastinya di segani oleh orang banyak.
Benar saja karena tindakan yang dilakukan oleh Aran tadi Dera begitu malu dan menundukkan kepalanya. Ini semua karena Aran tak mau semuanya tahu jika ia sedang memikirkan sesuatu.
" Ah mas Aran, Kan baru tadi siang kan udah minta lagi", jawab Dera yang masih sambil menunduk menahan malu.
" Mas kalau di ijinkan akan memintanya terus Dera. Mas mau buat kamu jadi milikku seutuhnya dan tak akan ada yang bisa memilikimu lagi. Dan satu lagi, punya kamu masih kaya gadis jadi mas merindukannya terus", sungguh laki-laki mesum suami Dera itu.
*******
__ADS_1
Sedangkan di parkiran mobil tadi Bagus yang sudah dengan orangtuanya itu membahas tentang pertemuannya dengan Dera tadi. Ibuk dan Ayahnya yang mencibir Dera dan menjelekannya di depan Bagus. Karena dulu Bagus akan ikut menanggapinya tapi berbeda dengan saat ini karena Bagus hanya diam dan mengingat apa yang akan ia lakukan di toilet tadi. Kurang sedikit lagi ia berhasil mendapatkan Dera tapi karena suaminya yang datang tiba-tiba jadi gagal semuanya.
Sang ibu yang menyadari sang anak hanya diam langsung menepuk pundaknya dari belakang. Karena yang duduk bersebelahan dengan Bagus adalah sang suami.
"Kamu kenapa Bagus, kok diam aja!.
Jangan bilang kamu jadi penasaran sama Dera saat ini ya. Ibuk gak mau ya kamu balikan sama Dera yang mana kamu meninggalkan Gendis. Ingat kita bisa seperti ini karena Gendis, Bagus", kata Ibuk Bagus yang mengingat anaknya jika mereka bisa bahagia seperti karena sang mantu yang memiliki semuanya.
Sedangkan Bapak Bagus yang duduk di sebelah anaknya hanya diam. Beliau ingin sekali mengendong cucu laki-lakinya yang mana tak pernah ia lakukan karena sang istri yang menolak hal itu. Ikatan darah antara keduanya sangat terlihat karena wajah anak yang tadi tidur sedikit mirip dengannya bukan mirip dengan Bagus sang anak bocah itu. Walaupun semua kendali di pegang oleh istrinya kadang Bapak Bagus sering mengirimkan mainan untuk Teo yang dilewatkan guru TK- nya dulu. Dan sering mendapatkan foto-foto dari anak itu yang sedang gembira.
"Gak ada apa-apa buk, Bagus hanya masih memikirkan tentang Ibuk yang ketemu Dera tadi. Kapan Ibuk ketemu kok aku gak lihat?", tanya Bagus yang menutupi apa yang ia pikirkan. Padahal ia sendiri sudah tahu jika Dera juga ada di rumah sakit itu.
" Itu pas dari kelaur dari ruangan Ayah periksa. Ibuk ketemu dengan Dera dan keluarganya. Seperti dia sudah menikah nyatanya dia sudah hamil, iya ya pak", kata Ibuknya yang masih fokus lihat arah jalan lurus. Karena Gendis tak ikut maka mereka seenaknya membahas ini. Padahal jika Gendis tahu tak bisa semudah itu dia terima.
" Ehm,, iya Gus. Ayah juga lihat Teo yang tidur di sana. Sepertinya dia sudah besar sekarang", timpal sang Ayah mengimbuhkan apa yang ia rasakan.
__ADS_1
" Ya udah jika dia sudah menikah buk, jadi dia sudah ada yang merawat saat ini. Bagus belum berani muncul di hadapan mereka semua", tuturnya lagi. Sambil melajukan mobilnya ke arah jalan ke rumah sang orang tua yang tinggal sedikit jauh dari rumahnya.
"Sukur deh kalau belum berani, biar kamu masih tetap sama Gendis aja", kata Ibuknya lagi.
Padahal Bagus mengucapkan kata yang kedua orang tuanya tak mendengarkannya karena itu ia ucapkan dalam hatinya. Bagus ingin berusaha untuk mendapat Dera dan Teo dimana sudah terpampang jelas apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Ia yakin dengan rencananya yang akan ia lakukan jika Dera akan kembali kepadanya lagi. Dan masalah Gendis ia tak mungkin melepaskan itu semua karena dia adalah pemilik apapun yang ia miliki saat ini. Sungguh egois Bagus tapi ia yang tadi melihat Dera dengan sedekat tadi ia yakin jika Dera lebih cantik dan menggoda dari sebelumnya. Sampai tak terasa ia sudah sampai di kediaman sang orang tua. Karena alasan akan menemui rekan bisnis maka Bagus tak mampir dulu ke rumah itu. Melainkan langsung pergi dengan mobilnya. Kepagian Bagus juga bukan ke pabrik melainkan ke tempat dimana ia akan meminta tolong untuk usahanya saat ini.
Di gedung tua tempat Bagus singgah tadi ponselnya berbunyi menandakan jika Gendis yang menghubunginya. Dengan malas ia menerimanya dan berusaha untuk mencari alasan agar Gendis tak curiga. Entah kenapa karena penolakan Gendis kemarin ia jadi sedikit malas ada di rumah. Apalagi jika sedang berfantasi ia tak ada lawan untuk menuntaskan hasratnya. Mending ia mencari bantuan agar ia bisa mendapatkan Dera dan Teo lebih cepat agar ia bisa bahagia lagi.
" Bos ada yang akan bertemu dengan anda bos", suara di depan pintu tua yang mana sang bosnya lagi istirahat didalamnya. Sedangkan Bagus masih siap menunggunya di luar pintu dengan setianya. Karena berkat beliau apa yang Bagus kadang inginkan tercapai.
" Biarkan dia masuk", sahutnya lantang sang bos tadi. Mempersiapkan siapa yang sudah datang di tempatnya itu.
*****
Apakah yang sedang direncanakan oleh Bagus untuk mendapatkan Dera kembali. Apakah Dera dan Aran akan terpisah kita tunggu di episode berikutnya 🥰🥰🥰😍
__ADS_1