
Setelah Aran menenangkan Dera akhirnya mereka langsung pergi ke depan ruangan sang Ayah. Tak mau lama-lama takut akan di cari oleh sang ibu. Apalagi Ibuk juga harus menjaga Teo takut kewalahan.
Dera hanya diam tak mau membahas tentang mantan suaminya lagi. Tapi berbeda dengan Aran yang terus ingin mengetahui siapa mantan suaminya yang sudah membuat istrinya ketakutan seperti ini. Tapi ia tak mau menanyakan hal itu langsung karena Dera sudah tak mau membahasnya lagi. Pas Dera sudah sampai di depan ruangan Ayahnya sang ibu menanyakan kenapa ia terlalu lama meninggalkan mereka.
" Nak, kok lama banget apa ada yang kamu rasakan. Teo sampai menangis mencari mu dan nak Aran", ucap Ibuk Rini sambil melihat tubuh Dera dari atas sampai bawah. Sedangkan Teo sudah tertidur karena kelamaan menangis tadi.
"Gak ada yang Dera rasakan buk, cuma tadi dia gak bisa buka kunci pintunya jadi agak lama", sahut Aran menutupi apa yang terjadi tadi.
Siapa sangka jika pertemuan mereka adalah rencana Tuhan karena kedua orang tua Bagus melewati ruangan pak Toso dan melihat mantan besanya. Memang dunia begitu sempit bagi mereka karena akhirnya Ibuk Rini langsung menatap sang Ibuk dari mantan istri anaknya dan diam. Sedangkan Aran yang melihat hal itu langsung berdiri dan mendekati sang mertua. Karena ia tahu akan ada yang terjadi. Aran sebenarnya tak tahu siapa kedua orang tua yang ada di depan sang mertua karena ia tak pernah tahu siapa orang tua dari suaminya adiknya. Ia saja tak datang waktu adiknya menikah. Sungguh belum waktunya ia tahu siapa sebenarnya mantan suami dari orang yang saat ini jadi istrinya itu.
" Wah ketemu dengan mantan besan, kok ada disini buk, siapa yang sakit?
Aku kira kita tak akan bertemu lagi karena tempat kita yang sudah berbeda daerah, tapi Tuhan berkehendak kita berjumpa lagi disini. Apa pak Toso yang sakit?
Kok gak kelihatan. Atau malah..." Ucapan Ibuk Bagus yang sambil memanyunkan bibirnya. Sedangkan sang suami hanya diam tak banyak bicara. Beliau hanya menatap anak kecil yang sedang tidur di kursi tunggu yang mana pastinya cucunya. Sedangkan Dera yang tertutup dari badan Aran tak kelihatan kalau sedang hamil.
" Oh, mungkin ini sudah di takdirkan kami untuk semua ini buk. Kami juga tak bermaksud untuk berjumpa lagi. Dan semoga ini yang terakhir bagi kami", jawab Ibuk Rini lantang. Rasa sakit hatinya mengingat semua perlakuan pada anaknya terlintas langsung di ingatannya.
__ADS_1
" Oh iya Dera apa kabar sepertinya kamu kelihatan lebih gemukan. Dan sepertinya kamu sudah hamil lagi. Apa suamimu sekarang lebih sukses dari anakku?, kata sang mantan mertua sambil melihat ke arah Dera yang duduk.
Aran yang tak terima sang istri di katakan seperti itu langsung turut menjawab itu semua. Ia tak ingin Dera dan keluarganya di perlakukan sewenang-wenang walaupun ia tak tahu sebenarnya apa yang terjadi. Yang ia tahu hanya itu mantan mertua Dera.
" Maksud anda apa buk, saya suami Dera yang pastinya lebih menyayanginya dan keluarga mereka. Bukan seperti anak ibuk yang pecundang tak tahu diri. Aku belum pernah bertemu dengan anak ibuk yang anda banggakan itu, jika udah aku pastikan dia akan mendapatkan hadiah dariku saat ini juga. Dan satu lagi dia tak pantas di katakan laki-laki karena ia tak tanggung jawab sama sekali. Jika kalian tak ada urusan lagi dengan kami silahkan kalian pergi dari sini aku tak mau anakku terbangun karena perkataan kalian itu", usir Aran sambil menunjukkan jalan untuk mereka berdua pergi. Ia tak mau jika orang yang ia sayangi akan terluka seperti ini lagi.
" Ok nak kita tunggu saja, kamu akan mengetahui apa yang sebenarnya istrimu lakukan dulu. Kamu akan menyesal karena sudah menikahinya", kata Ibuk Bagus yang berlalu di depan sang Aran yang masih menunjukkan jalan tadi.
" Tak akan pernah terjadi buk, karena aku tahu siapa istriku ini. Aku bersyukur karena sudah di satukan olehnya dan pastinya akan membesarkan anak-anak kami nantinya", jawab Aran yang tak terima hal itu terucap.
Setelah kepergian kedua orang tua tadi Ibuk Rini langsung duduk di depan Dera yang sudah sesegukan menangis. Ia tahu betul derita sang anaknya apalagi kata-kata yang terucap tadi begitu menyakitkan baginya. Aran yang tahu sang istri terluka ikut duduk dan menghiburnya ia tak mau sang istri mengingatkan ucapan barusan.
Ibuk Rini juga ikut menangis karena ketulusan dari Aran begitu terlihat jelas. Ia tahu jika Dera tak akan tersakiti lagi dalam hubungan bahtera rumah tangga mereka yang saat ini.
" Ayah, kok tadi ayah lama sih perginya nyari Ibuk", kata Teo yang terbangun dan melihat Aran masih memeluk sang ibu.
" Iya tadi Ibuk kesusahan buka kancing pintunya nak. Oya kamu mau makan belum biar Ayah belikan", tanyanya pada Teo dan melepaskan pelukannya dari Dera dan mengusap air mata Dera.
__ADS_1
" Ibuk kok menangis sih, Teo belum mau makan Ayah masih mau nunggu kakek dulu", kata Teo yang tak mau meninggalkan ruangan sang kakek.
" Keluarga dari pasien, pasien sudah sadarkan diri dan ingin bertemu dengan keluarganya", kata suster yang barusan keluar dari ruangan pak Toso.
Dengan tergesa-gesa akhirnya semuanya masuk ke ruangan tadi. Pak Toso yang masih terlihat lemas dan masih di infus langsung mengucapkan kata yang ia pendam untuk istrinya itu.
" Buk tadi aku ketemu kakak Barhun, dia hanya mengucapkan kata yang sulit aku cerna sampai saat ini. Dia berterima kasih padaku telah memenuhi apa yang ia inginkan, dia bahagia sekarang dan hilang entah kemana sampai-sampai aku mencarinya tak ketemu lagi. Aku tidur terlalu lama sampai-sampai aku lupa jalan pulang tadinya. Tapi berkat doa dari semuanya akhirnya aku masih bisa di sini seperti ini buk, terimakasih", ucap pak Toso yang di genggam erat oleh sang istri.
" Bapak, ketemu kak Bahrun?.
Semoga kita tetap bisa menjalankan apa amanat beliau ya pak. Tapi kenapa harus dalam mimpi yang bertemu ya pak?", tanya Ibuk Rini binggung. Seperti seseorang yang sudah tak ada di dunia lagi.
Di sela pembicaraan sang mertua tadi hati Aran begitu terpukul atas apa yang di ceritakan oleh pak Toso. Beliau bermimpi bertemu dengan ayahnya yang sudah tiada. Padahal ia sendiri yang anaknya tak pernah ketemu sekalipun di mimpinya. Memang sang Ayah sangat mencintai pak Toso seperti adiknya kandung. Ia bersyukur telah menjaga amanah dari sang ayah. Semoga ini adalah yang terbaik karena ia tahu hatinya sudah sedikit terbuka untuk Dera dan keluarganya juga.
****
Maaf kakak semua sudah hampir satu bulan saya belum bisa up sekalipun. Karena sedang mengurus Ibuk yang sedang sakit maka aku memilih fokus pada kesembuhan beliau dulu. Karena hanya dengan itu kita bisa sedikit membalas pengorbanan beliau.. Amin.
__ADS_1
Semoga kakak semua sehat selalu dan di jauhkan dari mata bahaya. Amin 🥰🥰🥰🥰