
Kerena telfon tadi sudah dimatikan, sang cucu hanya memikirkan suara siapa itu?. Sepertinya ia baru mendengarnya juga. Akhirnya ia juga tak fokus dengan pekerjaan yang ia kerjakan. Bayangan sang pemilik suara terus menggema di pikirannya. Bukan kemarahan neneknya tapi orang yang sempat bicara dengannya yang ia pikirkan. Lemah lembutnya intonasi suara membuat ia membayangkan betapa wanita itu anggun. Belum pernah ia memenangkan betapa ia mengaguminya.
Dera yang membawa nenek Aminah langsung mendorong kursi roda tadi ke arah kamarnya. Ia tak mau jika wanita tua itu marah-marah lagi. Di usianya yang sangat rentang untuk hal itu. Walaupun nenek masih cemberut tapi Dera mencoba untuk mencarikan suasana pada hari itu. Sambil mengoda sang nenek untuk bisa senyum kembali.
"Nenek, udah lah yang marah toh mas juga nanti paling pulang", bujuk Dera pada nenek yang sekarang ini bantu ke ranjangnya. Karena Dera sudah menyuruh bibik itu dari dapur tadi maka ia lebih mudah untuk mengangkatnya.
"Tapi kalau dia gak datang?
Aku hanya ingin mengenalkan kamu yang bisa aku banggakan sebagai cucuku saat ini. Sedangkan ia tak pernah peduli denganku Dera. Apa sih susahnya dia menurut padaku sebelum ajalku tiba", kemarahan nenek Aminah sangat meluap hari ini.
"Udah nenek jangan bicarakan tentang ajal. Itu semua hanya milik Tuhan, ya udah nenek minum obat langsung istirahat ya", bujukan Dera agar nenek itu tak mau melanjutkan kemarahannya. Karena saat ini juga sudah waktunya beliau untuk istirahat siang.
"Ok aku mau minum obat asal kamu janji sama nenek, kamu mau yang nenek jodoh in sama Nanang?". Perkataan yang akhirnya keluar kembali dari mulut nenek Aminah lagi.
"Nek, Dera gak bisa nenek harus tahu Dera sudah memiliki anak di kampung. Sedangkan saya merantau di sini karena akan mencukupi kebutuhan keluarga saya", penjelasan Dera yang duduk mendekati wanita patuh baya tadi. Beliau mendengar jawaban Dera atas itu sambil patah hati. Apa yang ia rencanakan telah sirna atas pengakuan sang cucu barunya.
"Aku akan berusaha untuk mendapat jodoh untuk cucuku nanti Dera. Aku akan buat cucuku bisa bahagia melihat wanita lagi", tangisan nenek yang langsung Dera peluk. Dera tak tahu sebenarnya apa yang terjadi pada cucu rumah ini tapi Dera berharap tak akan ada yang mereka tutupi nantinya beriringan dengan berjalannya waktu.
Sore ini akhirnya Dera bisa istirahat di kamarnya sambil sesekali melihat foto ke tiga anggota keluarganya di kampung. Ada Ayah yang ia sayangi serta Ibuk yang ia kagumi anak laki-laki yang begitu ia cintai. Sudah dua hari ini ia tak bisa menghubungi keluarganya di kampung ada rasa rindu yang tertutup di bibir itu. Tapi mau bagaimana lagi Dera belum berani untuk meminjam fasilitas di rumah ini. Rasanya beda sekali dengan Aran yang langsung ia bisa mintai tolong. Karena bayangan itu ia akhirnya mengingat wajah tampan yang masih ia anggap suaminya walaupun nikah siri.
"Sampai kapan aku seperti ini mas Aran. Aku ingin anakku merasakan betapa bahagianya ia memiliki seperti Ayah yang begitu sayang padanya. Tapi apakah kamu bisa adil dengan anak kamu yang satunya lagi". Pikiran Dera yang mengingat wanita yang juga sudah hamil besar itu. Sampai akhirnya ketukan pintu membuyarkan lamunan Dera.
"Tok..tok..
"Masuk".
"Mbak di panggil nenek suruh ke kamarnya tadi sudah bangun beliau mencari mbak Dera", jawab bibik yang ternyata di utus oleh nenek Aminah.
"Oya bik, makasih ya".
Ternyata Dera masuk ke kamar nenek yang tertutup padahal waktu ia pergi terbuka. Ada suara yang Dera dengar setelah ia masuk kedalamnya. Suara meminta untuk nenek tenang dan tidak sering marah.
__ADS_1
"Nek, Nanang tahu jika aku tak pernah meluangkan waktu untuk nenek. Tapi aku juga harus mengurus usaha ku yang begitu kewalahan untuk akhir-akhir ini".
Nenek Aminah yang menyadari jika Dera membuka pintu dan mendengarkan ucapan cucunya langsung ia panggil.
"Dera masuk saja, biar kamu kenal dengan cucuku Nanang".
Akhirnya Dera masuk dan mendekati lengan lemah yang putih itu. Dia menggenggam tangan Dera begitu lembut. Tak akan membiarkan Dera sampai pergi dari rumah ini rasanya.
"Kenalkan itu Nanang, cucu nenek, dan ini Dera Nang cucu baru nenek yang setia pada nenek", ucap nenek Aminah yang langsung melihat Dera yang melihat siapa yang dikenalkan olehnya. Sedangkan Nanang tak berkata karena ia dari tadi hanya memihak Dera yang berjalan ke arah nenek sambil menunduk. Rasanya ia pernah bertemu dengan wanita itu sebelumnya tapi entah dimana ia lupa saat itu.
Melihat Dera hanya menantap Nanang sang cucu dan Nanang yang tak berbicara sama sekali akhirnya nenek langsung membuyarkan lamunan mereka berdua.
"Ehm,,, nenek mengenalkan tapi kalian tak berjabat tangan untuk saling mengenal ya. Oya nenek mau ke kamar mandi Dera bisa bantu nenek". Kelopak mata Dera langsung tertuju pada nenek yang masih setia memegang tangannya itu. Baru saja Dera mau membatu mengangkat tubuh nenek ke kamar mandi tapi Nanang langsung mendekati Dera dan memintanya agar Nanang saja yang mengangkatnya.
"Biar aku aja yang melakukannya", suara lembut itu yang sepertinya Dera pernah mendengarnya tapi kapan. Karena begitu banyak yang ia pikirkan sampai ia lupa tentang beberapa tahun yang lalu masa dimana ia bahagia dengan seseorang sebelum ia akhirnya di perkosa oleh mantan suaminya dan hamil Teo.
"Dera nenek kebelet banget Dera". Suara yang akhirnya Dera pergi mendorong kursi roda itu ke arah kamar mandi. Sedangkan Nanang langsung keluar dan menentramkan hatinya yang begitu ia benci. Sudah beberapa tahun ia pendam kenapa itu muncul lagi. Bayangan dimana ia di tinggalkan terpintas langsung di pikirannya. Tapi entah apa ini ia sendiri lupa karena pengaruh obat yang sering ia konsumsi maka ia harus mengingat hal itu berat rasanya.
"Check..
Dera yang sedang mengambil baju ganti karena bajunya basah membantu nenek Aminah kaget karena Nanang sudah di ambang pintu.
"Maaf", ucapan Nanang yang akan menutup pintu itu tapi ia bukannya keluar tapi malah masuk dan mendapati Dera. Ini kesempatannya dan akan ia gunakan semaksimal mungkin.
"Apakah kita pernah ketemu sebelumnya", Nanang memberanikan diri untuk menanyakan hal itu pada Dera.
"Aku juga tak asing dengan mata ini tapi siapa aku juga lupa". Aku takut lupa karena kalian berbeda nama dan tak mungkin jika aku pernah mengenalmu", jawab Dera sambil memegang sepasang baju ganti tadi.
"Tapi aku rasa kita pernah bertemu sebelumnya Dera, kapan dimana? Aku juga ingat satu nama waktu melihat mu tadi. Siapa kamu Dera aku menolak untuk mengingatmu", penjelasan Nanang Qosim itu.
Dera yang baru Ingat siapa laki-laki itu langsung duduk di pinggir ranjang tak berdaya. Takdir apa ini Tuhan kau pertemuan dia lagi. Dera takut menyakiti hatinya yang dulu begitu lembut itu. Sampai akhirnya suara Dera memanggil nama kak Qosim. Bayangan dulu ia pertama mengenal laki-laki itu.
__ADS_1
Setelah Dera mengucapkan nama Ayahnya Nanang langsung duduk di samping wanita cantik itu. Ia tertunduk dalam kesedihannya sampai akhirnya Nanang memanggil nama.
"Genduk, itukah Gendukku dulu. Yang aku tunggu sampai saat ini sampai aku tak mengingat namamu lagi. Kau hukum aku sampai kamar ini jadi bukti betapa aku hancur waktu itu Genduk dan memilih tak mau tinggal di rumah ini lagi", betapa Dera langsung menangis sejadi-jadinya. Ia juga tak tahu jika takdir akan membawanya kembali pada kekasih pertama dulu. Ya sebelum ia mendapatkan perlakukan dimana akhirnya di fonis hamil oleh bidan waktu itu. Dera ingat bagaimana keluguan mas Qosim waktu itu semester pertama kuliah di Jogja dan sering main ke tempat Dera kerja. Tapi semua teman Dera memanggil dengan nama Genduk yang mana ayahnya sering panggil. Dalam hubungannya 5 bulan mas Qosim begitu membuktikan betapa ia mencintai Genduk dan tak akan melepaskan dia pada orang lain. Sampai akhirnya Dera malam itu tak bisa di hubungi dan sejak dua hari itu Dera tak mau balas WhatsApp darinya. Setelah 2 bulan Qosim datang mencarinya di tempat kerjanya di beritahu jika Genduk hamil dan akan menikah. Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Ia jadi sering menutupi apa yang ia rasakan. Akhirnya ia memutuskan untuk pulang ke rumah orangtuanya dan menjalani apa yang ia ingat. Dimana sang Ayah sampai berdoa untuk kesembuhannya dan nyawanya yang menjadi gantinya.
Setelah kepergian ayahnya Nanang kuat karena ada Ibuk dan neneknya yang harus ia jaga tapi tak berani di rumah ini lagi. Dera yang menangis di depan mas Qosim pun menyadari apa yang ia lakukan dulu telah melukai hatinya seseorang sampai ia di balas oleh Tuhan dengan cobaan ini.
"Maafkan aku mas Qosim, aku hanya wanita tak baik untukmu waktu itu. Aku memutuskan untuk pergi darimu sampai kau seperti ini. Dan aku juga tak akan bisa pantas untukmu lagi, carilah wanita yang baik untukmu", ucapnya sambil menunduk dan meremas Bayu yang ada di tangannya. Dera yakin jika mas Qosim bisa menemukan wanita yang baik nantinya.
Sedangkan di luar Ibuk Ratmi mendengarkan percakapan kedua insan itu. Beliau tak percaya jika yang di cintai oleh anaknya adalah Dera. Ya beliau juga tahu betapa anaknya hancur waktu itu. Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa karena tak tahu siapa wanita yang di pikiran oleh sang anak tersayang. Sebenarnya Ibuk Ratmi juga sayang sama Dera tapi setatus Dera saat ini yang membuat beliau berfikir untuk kedua kalinya. Ia tak mau melewatkan kesempatan untuk mendengar apa saja yang kedua orang itu katakan.
"Tapi aku masih mengharapkan kau Genduk. Tak berbeda sedikitpun dari dulu. Izinkan aku mencobanya kembali, dan bagaimana kabar suamimu sehingga kau ada disini".
"Tak bisa mas, aku tak bisa bersamamu lagi. Ada Teo anakku yang menghalangi kita. Walaupun aku tak ada ikatan lagi dengan suamiku dulu tapi aku tak pantas untukmu mas Qosim. Sedangkan aku sekarang juga sedang hamil lagi, yang akan sulit nantinya untuk kita bersatu. Lebih baik kau lupakan aku dan cari wanita yang pantas untukmu mas".
Ibuk Ratmi merasakan apa yang dirasakan oleh sang buah hati. Di tolak sangat menyakitkan, tapi benar Dera tak pantas memberikan harapan untuk laki-laki itu. Lebih baik sakit dulu baru bahagia kemudian. Akhirnya anaknya tahu jawaban kenapa wanita yang ia cintai dulu meninggalkannya. Padahal walaupun ia tahu sedang hamil tapi ia pikir hanya alasan untuk meninggalkannya saja.
" Apa kamu hamil?
Sedangkan kau bilang sudah tak bersama suamimu dulu!
Kau hanya membohongiku saja Genduk. Aku tak mau kau bohongi seperti dulu lagi", ucapan Nanang yang sedikit tak terima ia diperlakukan seperti ini.
"Benar mas aku hamil saat ini tak pantas untukmu dan masih ada yang memiliki aku saat ini. Izinkan aku membalas apa yang kau rasakan selama ini dengan cara merawat nenek yang baik itu. Aku tak akan lebih dekat lagi denganmu mas Qosim".
"Jika itu keputusanmu menjauh dariku aku terima tapi, aku juga akan tinggal di rumah ini lagi mulai malam ini. Aku akan pastikan kamu hamil atau hanya berbohong padaku. Jikapun dalam beberapa bulan kamu tak ditemui Ayah dari anak yang kau kandung, aku akan meminta Ibuk untuk melamarmu untuk Ayah bayimu nanti", jawaban tegas laki-laki yang sedang merasakan jika ia tak akan melewatkan kesempatannya lagi.
Ibuk Ratmi begitu kaget karena jawaban anaknya tak seperti yang ia harapkan. Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa dan tetap akan tak membahas hal ini karena takut anaknya kambuh lagi. Hanya doa agar anaknya mendapatkan jodoh yang sesuai saja pastinya.
*****
Maafkan saya baru bisa up, karena begitu banyak yang saya harus kerjakan tetap waktu kakak🥰😍❤️😘
__ADS_1