
Masih di rumah sakit Bagus dan keluarga menunggu Gendis yang belum sadarkan diri. Mama dan Papanya yang menunggu cucu mereka di beda ruang sedangkan Bagus masih di depan ruangan sang istri. Saling berbagi tugas. Bagas yang tadinya begitu hancur saat ini sudah bisa tenang dan masih memikirkan apa yang sedari tadi ia pikirkan.
Entah penglihatannya atau hanya karena pikirannya tadi tapi ia melihat seseorang yang ia cari. Mau mengejarnya tapi ia juga sungkan karena ada orang tuanya. Karena binggung akhirnya ia minum apa yang tadi sempat dibelikan oleh sang Papa.
"Jika itu kamu, aku yakin kamu bisa memaafkan aku atas apa yang aku buat yang lalu", batinnya sambil meneguk kopi dingin yang sudah di belikan oleh sang Papa tadi. Dia langsung mengambil ponsel sang istri untuk mencari nomor seseorang. Walaupun sudah kenal beberapa tahun tapi hubungan mereka tak seperti yang lain. Ada batu besar penghalang hubungan itu.
" Sayang kamu lagi apa?", suara lembut Gendis yang tersadar dan melihat sang suami sedang memegang ponselnya. Masih sedikit menahan kesakitan bekas operasi Caesar di perutnya. Karena pengaruh obat bius sudah hilang maka sudah sedikit ngilu.
" Ehm... kamu sudah sadar sayang, aku hanya sedang melihat jam di ponselmu. Ponselku mati", jawab Bagus yang mencium kening sang istri dan mengucapkan terima kasih. Atas usahanya telah lahir bidadari cantik yang saat ini sedang dalam penanganan dokter.
" Makasih sayang berkat usaha kamu anak kita cantik dan lahir. Maafkan aku yang tak bisa ikut masuk kedalam ya tadi".
" Iya mas aku bahagia karena akhirnya aku bisa menimang anak kita. Dimana dia sekarang mas?", tanya Gendis yang melihat ke arah lain untuk mencari keberadaan sang bayi. Karena tak ada yang lain di sini selain Bagus dan dia.
"Bayi kita lagi di ruang khusus bayi Sayang. Dia harus dapat penanganan dari dokter dulu. Di sana udah ada Mama sama Papa", jawab Bagus yang masih mengusap kepala sang istri. Romantis seperti waktu mereka pacaran, tak ada yang berubah perlakukan dari Bagus. Sampai-sampai ia tak menyadari jika ia juga di duakan karena pikiran sang suami saat ini sedang menjulang tinggi.
__ADS_1
Akhirnya Bagus berhasil meyakinkan sang istri yang ia seperti baik-baik saja, padahal ia sudah menyusun rencana setelah mendapatkan nomor ponsel yang ia cari tadi. Ia yakin jika jalan itu akan lebih mudah saat ini. Apalagi sudah ada kesibukan yang lainnya yang akan istrinya lakukan untuk mengurus bayi mereka. Mungkin ini pikiran picik tapi aku yakin jika setelah ia mendapat manfaat dari apanya ia inginkan ia bisa hidup bahagia dengan keluarga kecilnya nanti. Bukanya mengajari untuk hal yang negatif tapi aku ingin memberikan imbalan apa yang sudah ia lakukan, jika kita akan melukai seseorang maka balasan yang akan kita terima lebih pedih pastinya. Maka dari itu jangan sampai kita melukai seseorang agar kita tak tersakiti.
******
Dera yang masuk ke rumah itu melihat di sekelilingnya. Nampak begitu kotor dan terawat setiap ruangan itu. Ia ingin seperti ia pertama masuk ke rumah itu begitu tak enak untuk di tempati.
" Dera, kita langsung istirahat aja ya, atau kamu mau makan sesuatu biar aku buatkan atau belikan nanti?", tanya Aran pada Dera yang masih melihat sekelilingnya. Aran tahu jika sang istri sedang mengamati ruangan yang tak begitu ia urus selama ini. Hanya fokus untuk mencari Dera dan bekerja saja yang dilakukan oleh Aran.
"Mas kenapa rumahnya kotor seperti ini?
"Maaf Dera, mas gak memikirkan hal itu. Aku hanya fokus di kamu dan pekerjaan saja. Em.. biar besok ada petugas kebersihan yang datang kerumah kamu gak usah kerja yang berat-berat ya", pinta Aran yang sambil menuntun sang istri naik ke atas. Aran takut jika Dera akan kelelahan nantinya.
"Iya mas, aku juga masih belum bisa untuk itu. Oya mas apakah tak sebaiknya aku tidur di kamarku dulu agar tak naik tangga seperti ini. Aku takut jika akan naik turun nantinya", pinta Dera yang tahu resiko akan tergelincir di tangga.
" Tapi Dera, kamar dulu belum mas benerin pintunya, masih seperti itu. Apakah kita renovasi rumah ini agar ada kamar di bawah selain kamar itu?
__ADS_1
Atau kita pindah rumah saja agar kamu nyaman dan kandungan kamu nantinya baik-baik saja!", saran Aran yang membantu Dera untuk berbaring di ranjang kamarnya itu. Kamar yang sudah menjadi kamar mereka beberapa bulan yang lalu.
" Jangan lah mas, itu terlalu berlebih-lebihan jika sampai harus pindah rumah. Aku tak mau jadi orang yang merepotkan terus nantinya", sahut Dera tetap tenang.
" Gak lah Dera, itu gak berlebihan buat aku. Aku juga ingin yang terbaik untuk kalian juga. Oya Dera aku binggung sampai kapan aku akan seperti ini. Aku ingin cepat minta restu dari orang tua kamu Dera. Aku ingin hidup bahagia bersama kalian nantinya", jelas Aran yang mengutarakan apa yang ia inginkan.
" Aku juga takut mas jika ingin bicara dengan Ayah. Aku pernah membuat beliau kecewa karena perilakuku mas. Tapi lama kelamaan Ayah melupakan hal itu. Dulu aku pernah tak di perbolehkan untuk dekat dengan laki-laki manapun dan akhirnya aku hamil dan disitulah Ayah begitu murka. Sampai aku memilih hidup mandiri dengan suamiku tapi nyatanya aku terluka karenanya dan Ayah serta ibuku yang ada di sisihku mas. Aku tak punya siapa-siapa selain beliau dan saat ini ada Teo yang aku jadikan tumpuhan semangat ku", jelas Dera sambil tertunduk lesu. Ingatan bagimana sang Ayah menentang pernikahannya waktu itu yang akhirnya mau tak mau beliau sendiri yang jadi wali dari Dera.
" Tapi aku sekarang ada untukmu Dera dan ada anak kita yang membuat keluarga kita tambah kuat nantinya", balas Aran sambil memegang tangan Dera dan menciumnya. Aran menunjukkan betapa ia bisa berusaha mencintai Dera hingga saat ini. Walaupun ia belum bisa seromantis orang pada umumnya tapi ia yakin suatu saat ia akan bisa melebihi orang lain. Penyesuaian yang harus ia lakukan lebih besar daripada untuk memanggil dengan sebutan sayang.
" Mas kamu belum tahu Ayah seperti apa mas, aku takut jika kamu akan terluka nanti jika tak di ijinkan oleh Ayah", jelas Dera yang takut Aran terluka nantinya.
Sedangkan Aran yang tahu cerita Dera yang ia tak di izinkan oleh sang Ayah iya yakin jika ia akan di restui toh dia adalah yang di tunggu-tunggu selama ini. Perjanjian perjodohan yang akhirnya bisa ia penuhi walaupun itu harus memakai begitu banyak cara.
****
__ADS_1
Kita tunggu kelanjutan antar di terima atau tidak nantinya oleh sang Ayah Dera. Jika di terima mungkin aku orang yang lebih bahagia tapi jika tidak mungkin aku juga orang yang akan terluka, karena usaha aku untuk menjodohkan mereka sia-sia.