
Semenjak pengiriman barang untuk Teo kemarin, Dera selalu menghubungi Ayahnya menanyakan apakah barang itu sudah sampai atau belum. Sampai tiba 3 hari ini Dera selalu menghubungi keluarganya dan di beri tahu jika barang buat Teo sudah datang.
Ayah Dera yang baru saja menerima paketan itu kaget karena begitu besar. Teo yang masih di sekolah dengan Ibuk Dera belum tahu jika hadiah dari Ayah Aran sudah datang. "Nak apakah ini gak berlebihan ya belikan Teo banyak kaya gini?".
"Gak kok Ayah, pak Aran baik dia udah menganggap Teo anaknya sendiri katanya. Ya udah Ayah nanti salam buat Ibuk sama Teo ya Ayah, Dera mau nyiapin makan siang buat pak Aran dulu".
Dera langsung menyiapkan makan yang tadi sudah di pesan oleh Aran lewat aplikasi. Entah siang ini Aran meminta tak usah makan diluar dulu. Dera juga belum di ijinkan untuk kembali bekerja, hanya disuruh untuk duduk dan menyiapkan apa kebutuhan dari Aran saja. Karena peristiwa Dera diculik tak ada yang berani menatap Dera sinis apa membicarakan tentang dia. Karena semua takut jika bos besarnya akan memecat mereka, apalagi peranan Dera begitu penting bagi bos mereka.
Dengan telaten Dera menyiapkan satu persatu makan itu dan membuatkan minuman untuk suaminya. Aran yang ternyata sudah 2 Minggu hidup dengan Dera tak terasa semakin gemuk karena ada yang mengawasi pola makannya. Dera juga merasa jika dia semakin berisi badannya.
"Mas Aran udah siap mas, makan dulu ya". Dera memangil sang suami yang masih fokus pada pekerjaannya.
"Iya Dera tunggu sebentar ya nanggung".
"Kerjaan kalau di kerjakan gak selesai-selesai mas, biar perutnya terisi juga dong". Dera dengan bawelnya meletakkan makanan untuk Aran di depan mejanya.
__ADS_1
Akhirnya mereka berdua makan siang. Tak lupa Dera mengucapkan terima kasih karena paketan Teo sudah sampai. Walaupun Teo belum menerimanya paling Teo bahagia sekali". Ujarnya sambil mengunyah makanannya.
"Iya Dera kaya buat siapa aja, Teo juga anak ku kan sekarang. Aku kalau bisa malah kebutuhan Teo akan aku cukupi Dera agar Teo bisa lebih sayang sama aku. Besok kalau waktunya aku sudah tepat dan siap, aku akan lamar kamu ke orang tua kamu dan Teo akan aku ajak ke sini. Biarkan dia tahu dan merasakan kasih sayang dari seorang ayah". Aran menjawab ucapan Dera tadi dengan sungguh-sungguh tanpa merubah expesi wajahnya. Sungguh hangat dengan Dera dan keluarganya.
Ponsel yang hanya di atas meja itupun bergetar menandakan jika ada yang sedang menghubungi Aran. Pas Aran ingin mengangkat telfon itu ternyata nomor Ayah Dera yang menghubunginya.
"Ayah kiriman Ayah besar sekali, Teo bahagia Ayah". Ucapan anak kecil yang begitu bahagianya karena hadiah dari sang ayah berupa mainan itu.
" Iya Teo, Ayah bahagia kalau Teo bahagia. Ya udah Teo, Ayah makan dulu ya salam buat kakek sama nenek ya". Aran begitu bahagia karena melihat Teo bahagia tadi. Rasanya ia seperti memiliki anak yang sudah bisa meminta mainan padanya. Impian yang sudah ia tunggu sejak lama.
"Pak, kok bos Dera baik banget ya sama cucu kita, apakah dia sudah berkeluarga atau masih lajang", tanya Bu Rini pada pak Toso yang sambil mengamati cucunya bermain di teras rumahnya.
"Udah buk, mungkin bos Dera karena pingin punya anak atau malah lama nikah juga belum di kasih anak. Kita berfikir baik aja semoga emang dia orang baik buk". Sahut pak Toso sambil meminum teh buatan sang istri.
"Tapi bapak sendiri juga tahu barang segitu banyak banget lho habisnya. Apalagi Dera juga sepertinya di perlakukan baik oleh dia pak". Entah Ibuk Rini berfikiran yang sampai seperti itu apalagi waktu dulu pas ia mendapatkan kiriman yang begitu banyak di mana Dera baru beberapa hari kerja. Tapi tak mau berfikiran negatif maka Ibuk Rini tak membicarakan hal itu lagi dengan sang suami.
__ADS_1
"Udah lah buk, bapak mau ambil kayu bakar dulu Ibuk jaga Teo aja di rumah".
Akhirnya sepeninggal pak Toso tadi Ibuk Rini langsung mengambilkan makanan untuk cucunya sambil bermain Teo makan. Cucu satu-satunya yang Ibuk Rini sayang. Walaupun keluarga dari mantan Ayah kandung Teo tak begitu memperhatikan Teo tapi kasih sayang dari Ibuk Rini dan pak Toso tak pernah berkurang. Itulah kebaikan mereka yang tak bisa dijumpai di setiap orang.
"Nek, Teo seneng banget ternyata Ayah Teo sayang banget sama Teo. Ayah yang tak pernah pulang karena kerja ternyata untuk membelikan mainan Teo ya nek".
"Iya nak, nenek juga bahagia ternyata Ayah Teo baik banget. Oya Teo juga harus sayang kakek sama nenek lho walaupun ada Ayah Teo yang sayang?". Ketakutan jika Teo berubah tak menyayangi mereka lagi tanpa sengaja terpintas di pikiran Ibuk Rini. Tak ada lagi sandaran selain Teo dan Dera.
Bu Rini dengan telaten menyuapi Teo sedangkan di sana Dera dengan telaten menyiapkan apa kebutuhan dari Aran. Karena Aran yang selesai makan maka Dera membersihkan semua peralatan makan dan membawanya ke dapur pabrik. Seperti kegiatan Dera yang di kerjakan di rumah Aran tak ada yang sepesial seperti ia pertama masuk ke pabrik dulu yang sibuk bergelut dengan pekerjaan pabrik.
*****
Tanpa terasa hari demi hari ia lalui dengan tersenyum tanpa mengeluh sama sekali. Hingga tanpa tak terasa ia sudah satu bulan di rumah Aran atau pasnya hidup bersama Aran. Dengan niatan ingin membuka hatinya untuk Aran sedikit demi sedikit Dera akhirnya bisa terbuka dengan suaminya. Dera tak pernah berfikir tentang apapun karena kebutuhan keluarga dan dirinya sendiri sudah di siapkan oleh Aran. Tapi karena Dera tak pernah berfoya-foya maka ia tak pernah meminta untuk sekalipun berbelanja membeli pakaian atau tas branded. Lebih baik untuk makan esok cukup. Itulah prinsip hidup menabung untuk hari esok yang tak tahu bagaimana akan kelanjutannya. Berdoa untuk kebaikan dan kesehatan kita semua.
Dera yang di haruskan ikut ke pabrik walaupun tak diperbolehkan untuk ikut kerja pun merasa jika ia semakin gemuk. Baju yang tadinya longgar sekarang pas di tubuhnya. Semakin menumbuhkan pahatan badan Dera yang semakin berisi. Aran yang juga merasa jika ia cocok dengan Dera pun akhirnya diam-diam merencanakan untuk melamar Dera ke keluarganya. Hanya saja pekerjaan Aran belum bisa ia tinggalkan jadi masih begitu menumpuk. Aran memikirkan ini semua sendiri tak ada yang di ajak untuk berdiskusi karena kebiasaannya sendiri maka harus bisa ia selesaikan dengan tanpa campur tangan orang lain. Sungguh adakah orang yang Aran percaya i untuk mengurusi urusannya jika ia akan pergi melamar Dera. Kita tunggu kelanjutannya di bab selanjutnya 🥰.
__ADS_1