
Dengan memantapkan hati beberapa hari ini aku memikirkan untuk bisa kerja ke Jakarta yang mana aku akan mendapatkan hasil yang besar dan bisa mencukupi kebutuhan keluarga. Hanya bermodalkan ijasah SMA dan nomor temanku aku akan merantau ke ibu kota dan memulai pekerjaan itu. Walaupun untuk meyakinkan kedua orangtuaku aku juga butuh usaha tapi aku yakin bahwa beliau semua akan memberikan izin itu padaku.
Apalagi Ayah dari anak ku tak pernah sepersen pun memberikan nafkah untuk aku dan untuk anakku hanya sekedar membeli susunya. Biarkan aku juga tak mempermasalahkan hal itu mungkin ia lebih butuh itu semua untuk mencukupi kebutuhan dengan istri barunya yang katanya sudah ia hamili dulu. Kebencianku pun aku tanamankan sampai aku tak ijinkan kedua orangtua ku memprihatinkan fotonya untuk sekedar anakku lihat.
Di malam ini aku tekatkan untuk meminta izin pada Ayah dan ibu. Setelah anakku tidur aku kembali duduk di ruang keluarga dan ikut melihat televisi bersama kedua orangtuaku. Aku manja di pangkuan ibu. Rasanya aku ingin merasakan seperti ini tapi aku malu pada anakku yang sudah bisa melihat apa yang ia lihat di depan matanya.
", Ayah Ibuk, Dera boleh gak kerja ikut Santi di Jakarta".
Dengan hati-hati aku mengucapkan hal itu. Aku takut ayah akan marah tapi aku harus bicarakan hal itu. Semoga dapat restu, dan bisa membantu perekonomian keluarga pikirku. Sambil melirik ekspresi wajah keduanya karena lama tak ada jawaban. Aku masih memainkan rok Ibuk yang aku jadikan bantal tidurku. Usia beliau yang sudah tak muda lagi tapi begitu membuatku nyaman sekali.
",Ehem, kenapa harus jauh ke Jakarta nak, di Jogja aja yang lebih dekat. Apa kamu gak kangen sama Teo anakmu", jawab Ibuk sambil mengusap rambutku yang masih di pangkuannya itu.
__ADS_1
",Kangen sih buk, tapi kalau di Jogja aku belum bisa mencukupi kebutuhan keluarga. Aku ingin Ayah istirahat dan menjaga Teo aja buk. Sedangkan di Jakarta Santi bisa bangun rumah kan. Dan aku juga pasti bisa buat mencukupi kebutuhan kita disini buk", jawabku yang sering dikasih tau Santi teman kecilku dulu yang bertetangga juga.
Ayah hanya diam mendengarkan alasan aku, aku tahu beliau pasti begitu tak rela aku pergi jauh. Yang mana waktu aku dekat dan bisa beliau pantau pun kebobolan seperti waktu itu. Tapi akhirnya beliau mengutarakan apa yang beliau pikirkan.
"Ayah kan masih ada Om Han yang menjalankan truk jadi masih bisa buat jajan Dera. Tak usah kau pikirkan hal itu karena itu urusan Ayah. Toh kamu kerja cukup untuk kamu senang sendiri kan nak. Kita disini bareng aja biar kita tahu perkembangan Teo tiap hari", ucapan Ayah sudah menjadi halangan besar bagiku tapi aku harus bisa meyakinkan hal itu.
"Ayah, izinkan aku berbakti pada ayah dan ibuk. Aku harus bisa membalas budi sedikit dari hasil jerih payahku untuk Ayah dan ibu. Aku ingin seperti yang lainnya bisa buat Ibuk dan Ayah bangga". Jawab yang aku lontarkan sambil menitikkan air mata pun sepertinya akan meyakinkan kedua orangtuaku karena akhirnya Ayah memelukku dan mengangguk.
Ada rasa bahagia akhirnya sang ayah mengijinkan aku untuk pergi ke Jakarta. Aku yang bisa pergi kesana dengan niat untuk memperbaiki perekonomian pun tak ada niatan untuk membuat kedua orangtua ku kecewa lagi.
Dengan izin Ayah akhirnya Ibuk pun mengijinkan dengan persyaratan yang ayah berikan saat itu juga. Malam ini akhirnya aku mempersiapkan keperluan ku yang akan aku bawa besok pagi ke Jakarta sebelum tidur. Sambil menciumi wajah Teo aku berdoa untuk kebaikan anakku dan kesehatannya. Tak lupa aku mengirimkan pesan pada Santi jika aku akan berangkat ke Jakarta saat pagi hari nanti. Semoga apa yang aku inginkan bisa membuat keluargaku bangga atas permintaanku ini.
__ADS_1
Bahagianya aku akhirnya bisa menggantikan posisi Ayah sebagai tulang punggung keluarga. Walaupun entah seutuhnya aku bisa menggantikan beliau. Aku bahagia karena aku masih diberikan kesempatan itu membahagiakan kedua orang tuaku ini.
Tak bisa tidur nyenyak bentar-bentar ku tengok jam di ponselku yang mana sudah berganti pagi atau belum. Tapi nyatanya terasa lama sekali detik itu berganti. Pas mataku terpejam akhirnya tak terasa adzan subuh pun berkumandang dan aku bangun untuk beribadah dan melakukan apa yang aku inginkan siapkan. Apalagi sebelum Teo bangun aku sudah harus siap tinggal menyiapkan kebutuhan Teo untuk ikut mengantar aku ke terminal. Tiga rasa akhirnya aku rasakan pagi ini. Rasa kantuk yang belum seutuhnya kenyang tidur, dan rasa takut jika aku akan membuat anakku menangis karena rasa ingin ia ikut denganku belum lagi aku merasakan takut karena belum pernah jauh dari orangtuaku.
Di terminal aku pamit pada Teo untuk kerja dan membelikan Teo mainan besar. Teo pun menurut tanpa menangis sama sekali, mungkin karena sering sama Ibuk dari bayi jadi aku tak begitu terasa jika harus meninggalkannya. Hanya Tetesan air mata Ibuk yang aku lihat. Karena Ayah pun senyum waktu aku pamit.
"Aku pamit, Ayah, ibu, Teo", ucapku dari atas bis yang aku tumpangi sambil ku melambaikan tanganku. Rasanya bercampur aduk aku tak pernah pergi jauh dari kedua orangtuaku tapi tuntutan kebutuhan hidup yang aku tanggung saat ini mewajibkan itu aku lakukan. Mungkin sore nanti aku akan sampai di Jakarta. Aku melanjutkan tidurku di bis sambil berdoa agar semuanya baik-baik saja. Ingatan dimana aku ditinggalkan oleh mantan suamiku jadi penyemangat hidup ku saat ini. Ia lebih memilih hidup bersama dengan pacarnya dulu yang mungkin anaknya juga sudah lahir saat ini. Ah masa bodoh aku tak mau memikirkan itu semua. Rasanya bodoh aku masih mengingat hal itu tapi walaupun di biarkan tak aku pikirkan tapi hal itu tetap muncul dengan sendirinya. Mata terpejam tapi pikiran terus mengingat hal itu.
Sampai akhirnya ada yang menepuk kursi sebelah ku yang kosong. Aku terbangun dan geser ke samping untuk berbagai tempat duduk dengannya. Ku tengok luar ternyata tinggal seperempat jam lagi aku sampai. Dengan bertanya penumpang sebelah ku aku tahu hal itu. Adzan Magrib pun berkumandang menandakan jika sudah akan tiba waktunya malam hari. Tepat sekitar 7 malam aku sampai di terminal Lebak bulus Jakarta. Karena seharian aku tak makan selain sarapan tadi pagi buta, aku memutuskan untuk makan di warung nasi Padang sebrang terminal sesampainya di terminal dan turun dari bis yang aku tumpangi tadi. Sambil menarik koper kecilku aku sedikit berlari untuk cepat sampai dan makan. Rasanya cacing-cacing di perutku tak sabar lagi ingin minta di isi.
Dengan sigap dan lahap satu porsi nasi Padang habis tak bersisa. Entah karena lapar atau karena porsi makan ku sedikit yang penting aku siap untuk memberikan kabar pada Santi. Ku teguk air putih hangat yang di sediakan mbak kasir tadi aku langsung mencari telfon yang ada didalam tasku. Ku masukan tangan kananku tapi tak aku dapati telfon itu. Panik akhirnya ku masukan kedua tangan ku untuk mencari benda pipih itu. Aku tak bisa berbuat apa-apa jika benda itu tak aku temukan. Dan betapa aku paniknya ternyata dompet yang aku miliki pun juga tak ada di tas ku ini.
__ADS_1
Ingin rasanya menangis aku saat ini. Tak ada yang bisa aku lakukan selain berteriak jika mampu. Semua uang di dompet hilang dan telfon ku juga entah siapa yang mengambilnya. Yang pasti aku tinggal punya uang 25.000 ribu untuk bayar makan ku saja kurang atau tidak. Sampai-sampai ada seorang laki-laki yang tadinya duduk didepan ku mendekati di kursi yang aku duduki. Menanyakan apa yang terjadi padaku.
Cobaan apa lagi yang aku terima saat ini. Aku yang tak bisa berbuat apa-apa akhirnya menatap sang laki-laki yang mendekatiku itu dengan penuh pertanyaan di kepalaku.