
Sore ini dokter yang menangani Dera sedang membuka pintu kamar rawatnya. Dan betapa kagetnya dokter tadi melihat Aran dan Dera tidur di satu ranjang dimana Aran memeluk sang istri. " Romantis sekali pemandangan itu sus, tapi apakah tidak menggangu sang istri ya?", tanya dokter pada suster yang ikut di belakangnya. Antara mau membangunkan atau tidak, jika tidak dokter tak tahu kondisi pasien sudah membaik atau masih sama dengan tadi terakhir beliau mengeceknya.
"Iya ya dok, tapi aku juga mau kok dok jika di perlakukan seperti itu", jawab sang suster.
"Ah suster bisa aja, semua wanita juga mau jika diperlakukan seperti itu sus. Ya udah kita masuk aja ya sus", ajak dokter tadi untuk masuk dengan sang susternya itu.
" Permisi tuan, nona. Kami mau melihat kondisi dari nona dulu", ucapan dokter yang sudah di depan Aran dan Dera.
Sedangkan Aran yang sudah terbangun langsung duduk dan memberikan kesempatan dokter untuk memeriksa Dera. Dera yang juga terbangun langsung di goda oleh sang dokter dan membuatnya malu.
"Alhamdulillah ya non, kondisinya sudah membaik pasti karena sudah di perhatikan oleh sang suami ya jadi kaya gini".
Wajah Dera langsung memerah karena hal itu. Dera sangat malu karena di goda sang dokter tadi.
" Ah dokter bisa aja", sahutnya karena merasa memang betul apa yang di ucapkan oleh sang dokter tadi.
"Oya dok kapan istri saya sudah boleh pulang ya?", tanya Aran benar, ia merasa jika tak mau terlalu lama di rumah sakit. Ia ingin cepat merawat sang istri nantinya. Membayangkan jika sang istri meminta sesuatu padanya. Dan dia binggung mencari apa yang di inginkan olehnya.
" Tuan, tuan, kenapa anda senyum-senyum sendiri tuan", panggil dokter yang melihat sang Aran hanya tersenyum padahal ia belum kasih tahu kapan Dera sudah diperbolehkan untuk pulang.
" Mas Aran, ada apa mas ?", pertanyaan Dera pada sang suaminya yang hanya diam tapi senyum-senyum sendiri.
"Oh gak apa-apa Dera. Oya kapan boleh pulang Dok?".
__ADS_1
"Jika hasilnya saat ini sudah membaik sudah diperbolehkan pulang kok tuan. Dan hasilnya saat ini sudah membiak jadi sudah saya ijinkan pulang". Dokter tadi menjelaskan dengan lembutnya.
"Makasih Dok saya akan ajak istri saya pulang sore ini. Tapi sebelum saya pulang apakah saya bisa periksa kandungan istri saya Dok?", tanya Aran penasaran seperti apa bentuk bayi yang ia dambakan itu.
"Oh, silahkan tuan biar di urus suster saya. Apakah sebelumnya sudah pernah periksa?
Karena biasanya sudah di bawakan buku KIA yang selalu di bawa jika periksa", tanya dokter jujur.
"Em, maaf sebelumnya Dok, ini periksa saya yang pertama jadi saya belum punya bukunya", sahut Dera.
"Oh, ya udah tuan dan nona biar di data sama suster saya dulu ya".
Akhirnya tahap demi tahap sudah di lakukan oleh pasang Aran dan Dera untuk memenuhi syarat buku KIA tadi. Tapi ada satu yang janggal karena Dera menyebutkan jika itu kehamilan yang kedua sedangkan mereka masih pasangan baru menikah jujurnya. Karena hal itu akhirnya Dera menceritakan jika ia adalah janda anak satu yang mana itu di pernikahan yang pertamanya. Aran juga tak memperlihatkan wajah yang bagimana ia biasa saja walaupun ia tadi dengar jika Dera adalah janda.
****
Gendis yang terus mencoba menghubungi nomor kakaknya tak bisa ia lakukan. Padahal Gendis ingin memberitahukan jika ia sedang ada di rumah sakit akan melahirkan. Karena frustasi Gendis terus mengumpat tak karuan. Suaminya juga tak kunjung datang dan dia ada di rumah sakit sendiri.
"Aduh kak, kenapa kamu blokir nomor aku kak. Aku tak ada siapa-siapa disini", ucapan Gendis di dalam ruangan yang sepi tak ada siapapun.
Gendis hanya menangis betapa malangnya nasibnya itu. Tak menyangka jika suaminya tak ada di sampingnya juga. Padahal biasanya ia selalu di tunggu tapi entah tadi pagi ia pamit untuk ke rumah orangtuanya. Dengan tergesa-gesa karena tak ada balasan dari kakaknya ia langsung menghubungi sang suami.
"Mas aku di rumah sakit mas, perut aku udah mules banget rasanya", rengekan manja Gendis setelah panggilan untuk sang suami sudah di terima.
__ADS_1
"Ok sayang tunggu aku akan ajak mama dan Papa ke situ. Tapi kamu harus kuat ya", nampak kekhawatiran dari suaranya itu.
Walaupun sang suami begitu mencintai dan memujanya tapi entah ia tak begitu bisa melihat keterbukaan sang suami. Ia tipikal orang yang tertutup dan pendiam. Tapi Gendis yang juga mencintai sang suami memilih untuk menerimanya.
"Nyonya ini sudah pembukaan 7 tapi bayinya tak kunjung balik nyonya", kata dokter yang sedang menangani Gendis.
"Dok aku mohon yang terbaik saja dok untuk kami. Jika itu yang memungkinkan saya bersedia dok", kata Gendis sambil menangis betapa buruknya nasibnya itu. Sudah tak ada yang menunggu, bayi tak kunjung balik di posisinya, dan satu lagi sang kakak tak mau kabar darinya lagi.
"Tapi nyonya kita tak bisa ambil keputusan jika dari keluarganya tak ada yang tanda tangan untuk persetujuan", Sahut dokter kandungan itu. Karena prosedur rumah sakit itu begitu harus dia lakukan jika tidak resikonya pekerjaannya akan ia tinggalkan.
"Tolong Dok, suami saya masih dalam perjalanan kesini. Aku mohon lakukan yang terbaik saja dok".
Karena kondisi kandungan semakin lemah dan pernafasannya begitu pendek akhirnya Gendis langsung di bawa ke ruang operasi. Dokter langsung memusyawarahkan bagimana yang terbaik untuknya. Karena ada dua nyawa yang akan jadi taruhannya nantinya.
Setibanya di rumah sakit sang suami dan kedua orang tua mencari informasi dimana Gendis di rawat. Nampak begitu kekhawatiran di wajahnya tapi ia tak tahu apa itu yang ia rasakan. Setelah mengetahui jika sang istri sedang di ruang operasi ia langsung menunggu dan berdoa agar semuanya baik-baik saja.
"Ya Tuhan aku mohon selamatkan semuanya ya Tuhan. Aku akan menebus dosa ku untuk merawat mereka", doa sang suami yang begitu tulus. Sampai-sampai tak terasa ia menitihkan air mata matanya.
"Sudah Gendis pasti baik-baik saja nak. Oya apakah kamu sudah makan nak?", tanya sang Mama yang begitu lembut pada anaknya.
"Aku gak enak makan buk, apalagi ini yang pertama aku lakukan. Nunggu ia melahirkan yang akhirnya ia harus di ruang operasi. Walaupun aku dulu tak ingin menunggunya pas waktu melahirkan kenapa saat ini aku malah menangis mengingat betapa seorang wanita berjuang untuk melahirkan seorang anak buk, aku tak sanggup untuk mengingat itu semua buk. Akankah aku masih bisa diberikan maaf darinya?. Apalagi ia saat ini sudah tak ada di rumahnya lagi karena jika aku ingin menjenguknya tak ada dua hanya anak laki-laki mungkin itu anak ku, karena aku tak berani untuk muncul sedekat mungkin ada sang nenek dan kakek yang menjaganya", ucapan penyesalan sang suami Gendis.
"Sudah itu masa lalumu. Kita jalani masa depan kamu saja toh kamu bisa bahagia dengan yang sekarang. Mama berharap jika kalian tetap akan langgeng sampai kapanpun nak". Entah Mama mana yang bisa menjual anaknya juga untuk kehidupan yang saat ini ia alami begitu mewah. Dengan menikahnya sang anak akhirnya ia dan suami bisa pindah ke kota dan hidup berkecukupan. Karena warisan sang menantu yang anaknya ikut rasakan.
__ADS_1